Tidak dulu tidak sekarang bunyi tokek yang bener ya, othok - othok - othok tokek, tokek, gitu. Dan dulu orang tidak begitu berurusan dengan tokek. Tapi sekarang ini di Jogja sedang hangat berita tentang tokek, orang2 menjadi begitu sangat peduli pada binatang tokek ini. Dikabarkan bahwa tokek saat ini sedang diburu oleh para toke. Konon tokek dengan berat tertentu bisa berharga hingga puluhan juta rupiah. Misalnya tokek berbobot:
3 ons dihargai Rp 50 juta
4 ons = 400 juta
5 ons = 500 juta
6 ons = 600 juta
1 kg = 1 Milyar
Demi mendengar berita demikian, kontan orang2 yang tergiur dengan iming2 uang jut2an itu berlomba lomba berburu tokek. Tidak peduli dengan resiko dikira maling, karena mengendap2 dihalaman rumah orang di malam hari, mereka tetap giat mencari tokek.
Dan biasanya yang mereka dapatkan bukan biang tokek tetapi cuma tokek2 kecil. Nah, tokek kecil yang belum berbobot itu lalu mereka pelihara, dikandangi dan diempani jangkrik dengan harapan segera berubah jadi tokek gendut dan bisa segera menghasilkan uang jutaan. Tiap hari kandangnya ditengok, dilihat apakah si tokek setelah dikasih makan jangkrik kini sudah jadi gendut atau belum.
Wis jan…, kelakuan para pemelihara tokek itu sungguh menggelikan sekaligus mengharukan. Kok bisa begitu ya? Orang gampang diiming imingi dengan kabar gombal yang belum tentu benar.
Piye Jal?
Lokasi Pengoenjoeng Blog
Selasa, 04 Agustus 2009
Selasa, 28 Juli 2009
PIPA CANGKLONG BATU PUTIH


Pipa cangklong, itu lho pipa rokok yang bentuk umumnya melengkung kayak saxophone, kini sudah jadi barang antik, lawas dan jadul. Ya, kegiatan “nyangklong” sudah lama tak terlihat lagi, tergusur oleh keberadaan rokok sigaret, rokok praktis siap sulut. Namun, meskipun kegiatan nyangklongnya sudah tidak ada, piranti cangklongnya masih bisa kita buru dan kita temukan. Dan tentu saja pipa2 cangklong itu sudah berusia uzur, seperti misalnya pipa cangklong yang dibuat dari kayu briar berwarna coklat seperti dalam foto itu. (Pipa cangklong kayu briar populer antara tahun 1850 hingga tahun 1950 an).
Yang lebih tua lagi adalah cangklong yang satunya, yang difoto nampak berwarna putih. Cangklong putih itu dibuat dari “batu” meerschaum alias hydrous magnesium silicate, atau H4Mg2Si3O10, yang terbentuk dari fosil kerang laut di jaman pra sejarah. Pipa cangklong meerschaum itu pernah ngetrend di tahun 1750 sampai tahun 1850, sebelum kemudian digantikan oleh pipa kayu briar. Tambang meerschaum yang terkenal selain di Turki juga ada di Tanzania. Dan pipa cangklong batu putih meerschaum yang difoto itu berasal dari Tanzania. Modelnya unik, sangat alami.
Gitu deh…
Rabu, 22 Juli 2009
SUWE ORA JAMU
Trembelane! Bajigur! Biyangane! Iki kowe tho! Itulah sebagian kata mesra pelampias rindu yang keluar spontan dari mulut pria-pria tengah baya di lobi Graha Wisata Taman Mini Jakarta ketika saling jumpa di acara temu kangen teman SMA angkatan 76, pertengahan tahun 2007 lalu. Diamput! Iku rak wis suwe dab!
Pangling, itulah yang terjadi. Bagaimana tidak lha wong suwe ora jamu, bahkan ada yang lebih dari 30 tahun ora saling ketemu. Namun keadaan lupa-lupa ingat itu hanya berlangsung sekejap. Setelah masing-masing mengenalkan diri dengan menyebutkan julukan khasnya seperti *EMBUT, *AMBLIS, *ONDOM, GONTENG bukan ganteng, *OLDE, WERENG, BUTO SINGSOT, CAKIL, JAGO SILAT, MUNYUK, LETEG, PANJI TENGKORAK, GLATI, MBOK BON, SIMBAH, DSB. Ingatan segera melayang ke masa lalu, ke jaman dulu waktu kita-kita sama-sama ngilmu di SMA DE BRITTO, di kelas yang sama.
Rata-rata usia kita kini sekitar 49 tahun. Tampilan sudah berubah total. Sekarang berbeda dengan dulu kala kita remaja 17 tahun. Kita yang dulu imut-imut, kini cenderung jadi amit-amit. Rambut yang dulu hitam diwut-diwut kini mulai beruban. Uban mulai beserta kita! Perut mulai kelihatan rada buncit. Mulai banyak sirikan, perlu nyirik gula, ataupun gula-gula, perlu nyirik kambing muda, ataupun daun muda. Demikianlah gambaran ujud kita terkini, model mutakhir tahun 2007.
Ajaibnya, di sosok ujud yang mulai berangkat menua dan manglingi seperti itu, kita masih bisa menemukan sisa imutnya SI SUPRI *EMBUT, SI WARTOYO CAKIL, SI WOWOK JAGO SILAT, SI PUR *OLDE, SI JAROT GLATI, SI ROY BAGONG, SI TULUS, SI MUJIONO, SI BENI, SI MULYADI, SI EDI, SI HADI, SI DIDIT, SI KALUT, SI YOSI, SI PIR DSB.
Hal itu makin nyata ketika semua kita mulai angkat bicara. Bicara ngalor ngidul perkara nggabrul mbok Bon, perkara ngerjain si Bob atau si Man, tukang bakso dan tukang es favorit, bicara soal nyontek, soal Tong Jit dan aneka cerita nostalgia kala sekolah. Wah, semua bisa ngakak-ngakak dan girang-girang nggak keruan. Bapak-bapak itu, nggak urusan sekarang dia jadi konglomerat atau wong mlarat, jadi pejabat atau pejibit, semua kembali ke laptop, kembali seperti bocah, seperti remaja, kembali imut dan ceria.
Sementara para bapak ber ha-ha hi-hi, para ibu serta para putra dan putri yang turut hadir dengan penuh maklum, menyaksikan pemandangan indah tak terkira itu. Mereka tersenyam dan tersenyum, antara geli dan hepi. Pakne-pakne!
Ya, temu kangen dan bernostalgia memang perlu! Kenalkan, nama saya *EMBUT. Kalimat aneh semacam ini hanya bisa terlampiaskan, terucap dan terdengar di acara nostalgia, acara spesial. Gelar atau julukan SUPRI *EMBUT misalnya, akan menjadi tak layak dan tak sepantasnya bila disebutkan di tempat umum, terlebih di tengah anak cucu. Akan tidak cocok, akan terdengar wagu dan saru apabila cucu memanggil kakeknya dengan sebutan MBAH *EMBUT. Kalau itu sampai terjadi, wah, dunia bisa kiamat!
Peristiwa bahagia patut dikenang. Dia bisa menjadi obat awet muda, memacu gairah dan mengobarkan semangat senantiasa. Akur? Dan menjelang akhir tahun 2007 ini kita diundang ke perjamuan besar, ke acara manuk pulang kandang di Kampus De Britto, Jogya. Manuk tuek, manuk bayek, manuk gondrong, manuk gundul, manuk jubahan, manuk sarungan, semuanya bakal tumplek blek cemuet di acara itu. Kalau kangen Tongjit, temukan dan peluk dia disitu. Pasti ketemu dan kepeluk. Coba saja en datang saja!
Gitu deh…
(Maaf, ini tulisan lawas, dibuat 2 tahun lalu).
Pangling, itulah yang terjadi. Bagaimana tidak lha wong suwe ora jamu, bahkan ada yang lebih dari 30 tahun ora saling ketemu. Namun keadaan lupa-lupa ingat itu hanya berlangsung sekejap. Setelah masing-masing mengenalkan diri dengan menyebutkan julukan khasnya seperti *EMBUT, *AMBLIS, *ONDOM, GONTENG bukan ganteng, *OLDE, WERENG, BUTO SINGSOT, CAKIL, JAGO SILAT, MUNYUK, LETEG, PANJI TENGKORAK, GLATI, MBOK BON, SIMBAH, DSB. Ingatan segera melayang ke masa lalu, ke jaman dulu waktu kita-kita sama-sama ngilmu di SMA DE BRITTO, di kelas yang sama.
Rata-rata usia kita kini sekitar 49 tahun. Tampilan sudah berubah total. Sekarang berbeda dengan dulu kala kita remaja 17 tahun. Kita yang dulu imut-imut, kini cenderung jadi amit-amit. Rambut yang dulu hitam diwut-diwut kini mulai beruban. Uban mulai beserta kita! Perut mulai kelihatan rada buncit. Mulai banyak sirikan, perlu nyirik gula, ataupun gula-gula, perlu nyirik kambing muda, ataupun daun muda. Demikianlah gambaran ujud kita terkini, model mutakhir tahun 2007.
Ajaibnya, di sosok ujud yang mulai berangkat menua dan manglingi seperti itu, kita masih bisa menemukan sisa imutnya SI SUPRI *EMBUT, SI WARTOYO CAKIL, SI WOWOK JAGO SILAT, SI PUR *OLDE, SI JAROT GLATI, SI ROY BAGONG, SI TULUS, SI MUJIONO, SI BENI, SI MULYADI, SI EDI, SI HADI, SI DIDIT, SI KALUT, SI YOSI, SI PIR DSB.
Hal itu makin nyata ketika semua kita mulai angkat bicara. Bicara ngalor ngidul perkara nggabrul mbok Bon, perkara ngerjain si Bob atau si Man, tukang bakso dan tukang es favorit, bicara soal nyontek, soal Tong Jit dan aneka cerita nostalgia kala sekolah. Wah, semua bisa ngakak-ngakak dan girang-girang nggak keruan. Bapak-bapak itu, nggak urusan sekarang dia jadi konglomerat atau wong mlarat, jadi pejabat atau pejibit, semua kembali ke laptop, kembali seperti bocah, seperti remaja, kembali imut dan ceria.
Sementara para bapak ber ha-ha hi-hi, para ibu serta para putra dan putri yang turut hadir dengan penuh maklum, menyaksikan pemandangan indah tak terkira itu. Mereka tersenyam dan tersenyum, antara geli dan hepi. Pakne-pakne!
Ya, temu kangen dan bernostalgia memang perlu! Kenalkan, nama saya *EMBUT. Kalimat aneh semacam ini hanya bisa terlampiaskan, terucap dan terdengar di acara nostalgia, acara spesial. Gelar atau julukan SUPRI *EMBUT misalnya, akan menjadi tak layak dan tak sepantasnya bila disebutkan di tempat umum, terlebih di tengah anak cucu. Akan tidak cocok, akan terdengar wagu dan saru apabila cucu memanggil kakeknya dengan sebutan MBAH *EMBUT. Kalau itu sampai terjadi, wah, dunia bisa kiamat!
Peristiwa bahagia patut dikenang. Dia bisa menjadi obat awet muda, memacu gairah dan mengobarkan semangat senantiasa. Akur? Dan menjelang akhir tahun 2007 ini kita diundang ke perjamuan besar, ke acara manuk pulang kandang di Kampus De Britto, Jogya. Manuk tuek, manuk bayek, manuk gondrong, manuk gundul, manuk jubahan, manuk sarungan, semuanya bakal tumplek blek cemuet di acara itu. Kalau kangen Tongjit, temukan dan peluk dia disitu. Pasti ketemu dan kepeluk. Coba saja en datang saja!
Gitu deh…
(Maaf, ini tulisan lawas, dibuat 2 tahun lalu).
Selasa, 21 Juli 2009
Rabu, 08 Juli 2009
ANAK MANTU DAN CUCU PERTAMA BU HARNO

Ini potret lawas, anak mantu bersama cucu pertama bu Harno, Adhe anak sulung saya dan mamahnya. Dijepret tahun 1977, atau sudah 32 tahun yang lalu. "Menatap masa depan", begitulah komentar yang ditulis tangan oleh sang mama. Dan waktu kini adalah "masa depan" bagi si waktu itu. Waktu nanti merupakan masa depan bagi waktu kini. Oleh karenanya "masa depan" yang gemilang perlu ditatap, ditata dan diupayakan sejak dari "masa kini".
Gitu deh...
Senin, 06 Juli 2009
ADA RINDU JAUH DI LUBUK HATIKU
Oleh: L. Sumaryati Soeharno
Untuk Mas Harno almarhum.
Di dalam kesendirianku, sering aku memikirkan hal yang tidak2. Seolah olah aku masih dapat menghubungimu, maka aku tulis surat ini untukmu.
Masku sayang, dengan rasa gembira dan puas, aku tadi mengunjungi engkau di makam.
Ada Nuniek, ada Ririek, Ina, Anggi dan Titah, Dea dan Adhi pacarnya. Rasanya senang deh dapat mengunjungimu bersama anak2. Sebelum ke makam tadi, aku sempat foto2 dengan adik2 yang ada, rasanya di luar kesadaranku, waktu foto, dengan gembira aku berfoto, seolah olah itu foto yang terakhir.
Sebetulnya apakah ada perbedaan antara duniaku dengan duniamu? Rasanya tidak ada batas, karena aku masih merasakan hembusan nafasmu ditelingaku, rasanya hangat mengalir mengenai pori2 tembus ke pusat peredaran darah.
Dan kini setelah anak2 pada pulang kembali kesunyian mencekam kalbu. Tiada lalat bahkan seekor semutpun yang berkeliaran di sekelilingku. Kembali sunyi dan sunyi menggerogoti jiwaku. Andai semua mahkluk meninggalkanku seorang diri, oh alangkah sengsaranya hidupku ini.
Kukenang kembali saat indah bersamamu,
Ada rasa rindu jauh di lubuk hatiku
Kudengar sayup2 sampai ratapan jiwamu.
Sungguhkah kau dihampiri
Menusuk hati sanubari
Asmara muda teruna
Rayuan hati nan gundah gulana.
Kata2 itu merupakan kenangan manis yang tak terlupakan.
Sudah berapa puluh tahun semenjak surat itu kuterima. Namun semua itu tak terhapus dari ingatanku, makin kulupa makin terngiang dalam telingaku. Sungguh kata manis yang tercetus dari lubuk hatimu.
Kekuatan cinta itulah yang mendorong aku untuk selalu mengingatnya. Karena engkau adalah cinta pertamaku dan cinta terakhirku. Cinta adalah sesuatu yang sakral, itulah sebabnya aku selalu mengenangnya. Cinta adalah indah. Cinta adalah suci.
Namun ada kalanya cinta sangat menyakitkan, buktinya kau tinggalkan aku di dalam indahnya cinta.
Yogyakarta 16 Mei 2009
Untuk Mas Harno almarhum.
Di dalam kesendirianku, sering aku memikirkan hal yang tidak2. Seolah olah aku masih dapat menghubungimu, maka aku tulis surat ini untukmu.
Masku sayang, dengan rasa gembira dan puas, aku tadi mengunjungi engkau di makam.
Ada Nuniek, ada Ririek, Ina, Anggi dan Titah, Dea dan Adhi pacarnya. Rasanya senang deh dapat mengunjungimu bersama anak2. Sebelum ke makam tadi, aku sempat foto2 dengan adik2 yang ada, rasanya di luar kesadaranku, waktu foto, dengan gembira aku berfoto, seolah olah itu foto yang terakhir.
Sebetulnya apakah ada perbedaan antara duniaku dengan duniamu? Rasanya tidak ada batas, karena aku masih merasakan hembusan nafasmu ditelingaku, rasanya hangat mengalir mengenai pori2 tembus ke pusat peredaran darah.
Dan kini setelah anak2 pada pulang kembali kesunyian mencekam kalbu. Tiada lalat bahkan seekor semutpun yang berkeliaran di sekelilingku. Kembali sunyi dan sunyi menggerogoti jiwaku. Andai semua mahkluk meninggalkanku seorang diri, oh alangkah sengsaranya hidupku ini.
Kukenang kembali saat indah bersamamu,
Ada rasa rindu jauh di lubuk hatiku
Kudengar sayup2 sampai ratapan jiwamu.
Sungguhkah kau dihampiri
Menusuk hati sanubari
Asmara muda teruna
Rayuan hati nan gundah gulana.
Kata2 itu merupakan kenangan manis yang tak terlupakan.
Sudah berapa puluh tahun semenjak surat itu kuterima. Namun semua itu tak terhapus dari ingatanku, makin kulupa makin terngiang dalam telingaku. Sungguh kata manis yang tercetus dari lubuk hatimu.
Kekuatan cinta itulah yang mendorong aku untuk selalu mengingatnya. Karena engkau adalah cinta pertamaku dan cinta terakhirku. Cinta adalah sesuatu yang sakral, itulah sebabnya aku selalu mengenangnya. Cinta adalah indah. Cinta adalah suci.
Namun ada kalanya cinta sangat menyakitkan, buktinya kau tinggalkan aku di dalam indahnya cinta.
Yogyakarta 16 Mei 2009
KOMENTAR PARA SAHABAT ATAS TULISAN BU HARNO
Para sahabat pena, yakni para Papi2 di majalah elektronik Papyrus
http://members7.boardhost.com/Rayman/
telah membaca dan memberikan komentar terhadap tulisan bu Harno berjudul ”Mas Harno, Masku, Cintaku” seperti berikut:
Komentar Papi Rayhard dari Australia:
Inspirasi untuk semua orang!
Sebuah kesaksian yang seharusnya menjadi ilham kepada semua calon isteri, suami, orang tua dan semua orang dewasa!
Komentar Papi Iss dari Semarang:
Wah anyar, fresh from the oven tenan. Ciamik dan acungan dua jempolku untuk tulisan Ibu Harno. Memang susah ya kita ini, semua harus dilakukan bersama, eh giliran meninggal dunia tidak bisa bersama. Apa boleh buat?
Papi Iss menambahkan lagi dengan pengertian mengenai kebahagiaan sbb:
Depend how you react or respond or your action to lead live life to the fullest not foolest
Katanya, orang bahagia itu adalah orang yang dapat hidup sampai kepenuhan dalam hidupnya. dan bukan dalam kebodohan hidup.
Nah kepenuhan dalam hidup itu seperti Bu Harno. Sampai tua, sampai melihat cucunya punya anak, atau buyutnya. Dan semuanya bisa rampung kuliah dan bisa berkeluarga alias punya penghasilan untuk membina kehidupan baru, generasi baru......seakan akan beliau ingin memastikan bahwa generasinya tidak putus di jalan. Kian jadi makin besar dan makin mapan.
Baru rela dipanggil Tuhan kembali ke alam baka.
Alias sudah selesai tugasnya di dunia dan boleh istirahat dengan rasa PUAS, MAREM, LEGA.
Demikian pula apa yang dialami Pak Harno, walaupun masa tua sakit sakitan dan prihatin, tetapi entah mengapa salah satu jalan ke alam baka ya melalui sakit itu. Sayang Pak Harno kan tidak bikin oret oretan sehingga kita tidak tahu isi hatinya. Tapi kalau pergi dengan senyum kok itu juga berarti suatu cermin isi hati yang bahagia yang marem dan yang sudah lega melihat segala anak dan cucunya sudah ada dalam jalur yang baik dan benar. Dan masih ada Ibu yang akan menjaga anak dan cucu bahkan cicit.
Orang bodoh dalam hidup ini adalah orang yang sebenarnya sudah tahu bahwa perbuatannya jelek tetapi kok ya diteruskan, entah narkoba, entah sex bebas, entah kegilaan lainnya yang satu persatu akan membuat sengsara dan .......... teruskan sendiri deh.
http://members7.boardhost.com/Rayman/
telah membaca dan memberikan komentar terhadap tulisan bu Harno berjudul ”Mas Harno, Masku, Cintaku” seperti berikut:
Komentar Papi Rayhard dari Australia:
Inspirasi untuk semua orang!
Sebuah kesaksian yang seharusnya menjadi ilham kepada semua calon isteri, suami, orang tua dan semua orang dewasa!
Komentar Papi Iss dari Semarang:
Wah anyar, fresh from the oven tenan. Ciamik dan acungan dua jempolku untuk tulisan Ibu Harno. Memang susah ya kita ini, semua harus dilakukan bersama, eh giliran meninggal dunia tidak bisa bersama. Apa boleh buat?
Papi Iss menambahkan lagi dengan pengertian mengenai kebahagiaan sbb:
Depend how you react or respond or your action to lead live life to the fullest not foolest
Katanya, orang bahagia itu adalah orang yang dapat hidup sampai kepenuhan dalam hidupnya. dan bukan dalam kebodohan hidup.
Nah kepenuhan dalam hidup itu seperti Bu Harno. Sampai tua, sampai melihat cucunya punya anak, atau buyutnya. Dan semuanya bisa rampung kuliah dan bisa berkeluarga alias punya penghasilan untuk membina kehidupan baru, generasi baru......seakan akan beliau ingin memastikan bahwa generasinya tidak putus di jalan. Kian jadi makin besar dan makin mapan.
Baru rela dipanggil Tuhan kembali ke alam baka.
Alias sudah selesai tugasnya di dunia dan boleh istirahat dengan rasa PUAS, MAREM, LEGA.
Demikian pula apa yang dialami Pak Harno, walaupun masa tua sakit sakitan dan prihatin, tetapi entah mengapa salah satu jalan ke alam baka ya melalui sakit itu. Sayang Pak Harno kan tidak bikin oret oretan sehingga kita tidak tahu isi hatinya. Tapi kalau pergi dengan senyum kok itu juga berarti suatu cermin isi hati yang bahagia yang marem dan yang sudah lega melihat segala anak dan cucunya sudah ada dalam jalur yang baik dan benar. Dan masih ada Ibu yang akan menjaga anak dan cucu bahkan cicit.
Orang bodoh dalam hidup ini adalah orang yang sebenarnya sudah tahu bahwa perbuatannya jelek tetapi kok ya diteruskan, entah narkoba, entah sex bebas, entah kegilaan lainnya yang satu persatu akan membuat sengsara dan .......... teruskan sendiri deh.
Langganan:
Postingan (Atom)

