Ada orang bilang lagu "Genjer2" itu ciptaan Ki Narto Sabdo. Tapi orang lain bilang lagu itu karya M. Arief, seorang seniman asal Banyuwangi yang terinspirasi oleh kondisi Banyuwangi yang saat itu, sekitar tahun 1942, pada masa pendudukan Jepang mengalami kemiskinan yang luar biasa akibat diambil sumber pangannya untuk kepentingan perang Jepang. Banyuwangi yang dulunya adalah daerah yang surplus akan makanan menjadi kekurangan pangan. Masyarakat akhirnya memasak tanaman bernama genjer (limnocharis flava) yang sebelumnya hanya menjadi tanaman liar di sawah, pakane para memedi sawah.
Terlepas siapa penciptanya, yang terang lagu genjer2 itu enak didengar. Saking enaknya sampai2 Iwan Fals pun tergoda untuk memungut irama lagu genjer2 itu untuk dibuat menjadi lagu berjudul Wakil Rakyat. Dan terlepas juga dari soal apakah Iwan Fals telah menyontek irama lagu itu atau tidak, yang terang syair lagu Wakil Rakyat itu cukup tajam dalam memotret "wajah wakil rakyat" kala itu.
Dan omong2, akankah genjer2 itu nantinya bakal menjadi lagu jadul? Saya rasa tidak lah yauw. Lagu genjer2 bakal menjadi lagu abadi sepanjang masa seperti halnya "kemiskinan" di negeri ini yang juga selalu ada di sepanjang masa…
Dan inilah syair lagu GENJER GENJER itu.
Genjer-genjer nong kedhokan pating keleler
Genjer-genjer nong kedhokan pating keleler
Emake thole teko-teko mbubuti genjer
Emake thole teko-teko mbubuti genjer
Oleh sak tenong mungkur sedot sing thole-thole
Genjer-genjer sak iki wis digowo mulih
Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar
dijejer-jejer diuntingi podho didasar
dijejer-jejer diuntingi podho didasar
emake jebeng podho tuku nggowo welasan
genjer-genjer sak iki arep diolah
Genjer-genjer mlebu kendhil wedange umup
Gendjer-gendjer mlebu kendhil wedange umup
setengah mateng dientas digawe iwak
setengah mateng dientas digawe iwak
sega sak piring sambel pecel ndhok ngamben
genjer-genjer dipangan musuhe sega.
Lha kalau yang ini adalah sepenggal syair lagu berjudul WAKIL RAKYAT yang (katanya) dikarang oleh Iwan Fals.
C Am C Am
Wakil Rakyat seharusnya merakyat
D F G C
Jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Am C Am
Wakil Rakyat bukan paduan suara
D F G C
Hanya tahu nyanyian lagu setuju.
Wis ngono wae...
Lokasi Pengoenjoeng Blog
Selasa, 26 Januari 2010
Rabu, 20 Januari 2010
KARTU REMI KAGAK ADE MATINYE

Playing Cards namanya. Namun kita mengenalnya sebagai kartu remi. Dalam satu pak yang jumlahnya 52 lembar, ada empat jenis kartu (suit) yang berbeda: wajik, hati, sekop, dan keriting. Masing-masing jenis terdiri dari kartu berangka 2 sampai 10 serta kartu As, King, Queen, dan Jack. Selain itu, ada dua kartu tambahan; kartu Joker hitam dan merah.
4 macam ini artinya apa? Mengapa kok sekop, hati, wajik dan keriting? Ya entahlah, kata Papi ISS di Majalah Papyrus. Tapi ada dua warna: hitam dan merah melambangkan malam dan siang dalam sehari. 4 macam itu 4 musim dalam setahun. Jumlahnya satu warna ada 13 macam dari As sampai 10 ditambah jack, queen dan king. Yang paling ampuh yang ujung ujung tapi yang terampuh ya AS, alias 1. King yang nomor 13 saja kalah sama nomor 1.
13 x 4 = 52 itu melambangkan setahun ada 52 minggu. Dan kalau dihitung 1 + 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 + 9 + 10 + 11 + 12 + 13 = 91. Karena ada 4 jenis maka total 91*4 = 364, lalu ada tambahan dua kartu joker yang jarang dipakai menjadi 364 + 1 = 365 atau ditambah 2 menjadi 366 yang melambangkan hari dalam setahun.
Ini waktu bikin apa ya sudah mikir sampai kesini apa cuma gotak gatuknya orang jaman sekarang ya?
Yo embuh. Yang terang, mula dulu Playing Cards merupakan benda koleksi kaum borjuis. Setiap lembar kartu merupakan karya seni yang tak ternilai harganya. Setiap kartu dilukis secara manual (hand-painted) dan tak jarang dihiasi emas. Di tangan para seniman, kartu-kartu ini menjadi barang berharga tak ternilai. Thomas De La Rue (1793 – 1866) dan Charles Goodall (1785 – 1851) merupakan dua seniman kartu yang cukup tersohor di era Victorian. Konon, koleksi kartu rancangan De La Rue ini laku terjual sebesar 12.000 poundsterling dalam sebuah lelang di Spanyol pada tanggal 30 November 1970.
Setelah ditemukannya mesin reproduksi warna pada awal abad 19, kartu-kartu ini tak lagi dilukis secara manual. Playing Cards mulai diproduksi secara massal. Disain kartu double-ended karya Goodall yang dilahirkan pada tahun 1860 merupakan disain kartu remi yang paling banyak diproduksi di seluruh jagad. Dan yang menarik dari kartu remi itu antara lain pada gambar King, Queen, dan Jack yang selalu simetris jungkir balik.
Selain untuk bermain remi, poker, bridge dsb., kartu remi itu juga menjadi bagian dari seni sulap.
Ya, kartu remi dari jaman dulu hingga sekarang memang kagak ade matinye, tetap disuke tetap bergune.
Gitu deh…
(Gambar dari google image)
Kamis, 14 Januari 2010
NAIK KERETA API, preeeettt.

Ke Jogja saya paling suka naik kereta api. Bukan kereta kelas istimewa tapi kelas ekonomi, terutama kalau berangkat pergi sendirian. Dari dulu sampai sekarang ya begitu itu.
Meskipun itu kereta kelas rakyat, namun bagi saya terasa istimewa. Mengapa? Jalarannya KA itu tidak ber AC sehingga saya bisa bebas merokok klepas klepus. Kalau itu KA malam, saya bisa melihat para penumpang menggeletak tidur di kursi maupun di lantai kereta. Merekapun tidur pulas, sepulas mereka yang tidur di kasur empuk kamar berpendingin. Sama sekali mereka tidak terganggu oleh lalu lalangnya para pedagang asongan di dalam kereta.
Ya, di kereta api ekonomi, siang ataupun malam, pedagang bebas berjaja dari gerbong ke gerbong. Dagangannya beraneka, dari kopi panas, wedang jahe, tempe kripik, buku TTS (dan sudoku), kacamata baca, piranti “kerokan”, koran bekas, kipas tangan, air aqua, rokok, permen, tisu, nasi rames, pecel, kacang kulit, hingga jual jasa memijat. Bisa dibayangkan betapa riuh rendahnya suara. Ada deru angin, ada suara roda besi menerjang sambungan rel, ada suara para pedagang meneriakkan dagangan, ada suara cekikikan sejoli yang sedang pacaran, ada suara orang “ndremimil” minta sedekah, dan ada orang ngamen genjrang genjreng memetik gitar sambil bernyanyi sumbang. Dan saat KA tiba di tiap stasiun dan akan kembali berangkat, kita akan mendengar suara khas sinyal tanda keberangkatan: ting tung teng tong…, tong teng ting tung (mi do re sol…, sol re mi do), disusul oleh bunyi peluit dan klakson kereta, preeeettt.
Sungguh, saya sangat menikmati perjalanan dengan kereta api semacam itu. Kapan ya dulurs terakhir naik KA?
Piye Jal?
Rabu, 30 Desember 2009
Innallilahi wainnallillahi rojiun
Berita dari TVRI, telah wafat Gus Dur, tadi pukul 18.30 WIB.
Selamat jalan Gus...
Selamat jalan Gus...
Minggu, 27 Desember 2009
Maharani Kahar, si Desember Kelabu
Satu kisah dari Blog Wong Kampung.
DESEMBER KELABU
By Aloysius Riyanto
Angin dingin meniup mencekam di bulan Desember
air hujan turun deras dan kejam hati berdebar
Kuteringat bayangan impian di malam itu
malam yang kelabu kau ucapkan kata selamat tinggal sayang
Bulan madu yang engkau janjikan semakin melayang
lenyap hilang ditelan air hujan engkau tak datang
Bulan ini Desember kedua aku menanti
dua tahun sudah kusabar menanti ku dilanda sepi
Angin dingin menusuk di hati terasa oh nyeri
bulan madu tinggallah impian tanpa kenyataan
Sinar cinta seterang rembulan kini pudar sudah
Desember kelabu selalu menghantui setiap mimpiku
Tembang DESEMBER KELABU ini membuat nama Maharani Kahar sangat terkenal di seluruh Indonesia pada 1980-an. Di mana-mana lagu pop manis ini dinyanyikan. Dibawakan dalam berbagai versi. Sri Maharani Kahar pun berbunga-bunga. Gak nyangka lagunya menjadi hit.
"Padahal, saya sih nyanyinya biasa-biasa saja. Diajak Om Kelik masuk studio, nyanyi, ya, sudah," cerita Maharani Kahar kepada saya di Surabaya beberapa waktu lalu. Oh, ya, Mbak Rani ini tinggal di kawasan Pagesangan, tak jauh dari Masjid Al Akbar Surabaya.
Kehidupan Mbak Rani saat ini jauh dari industri musik pop. Dia juga tidak lagi merasa dirinya artis. Juga bukan penyanyi yang pernah sangat terkenal pada 1980-an. Bagi Mbak Rani, lebih baik bicara masa sekarang atau masa depan ketimbang bercerita tentang masa lalu.
"Buat apa? semuanya kan sudah lama berlalu. Aku ini orang biasa kok. Hehehe...," ujar karyawan sebuah perusahaan badan usaha milik negara itu.
Toh, pesona Maharani Kahar belum sirna. Setidaknya bagi remaja 1980-an yang pernah menikmati lembutnya suara sang Maharani di masa keemasan. Mereka tetap melihat Mbak Rani sebagai biduan yang pernah 'membius' telinga orang Indonesia. Maka, Mbak Rani kerap didapuk menyanyi di berbagai acara. Juga memintanya sebagai pembawa acara [MC] di kantor serta komunitas-komunitas tertentu.
Tak ingin mengecewakan penggemarnya, Maharani Kahar pun menyanyi. DESEMBER KELABU pun menjadi lagu wajib yang mustahil diabaikannya. "Padahal, lagu-lagu saya banyak lho. Bukan cuma DESEMBER KELABU," tutur perempuan yang ramah dan murah senyum ini.
Seperti diketahui, blantika musik pop Indonesia pada 1970-an dan 1980-an belum seheboh sekarang. Industri musik masih dalam taraf awal. Penyanyi belum banyak, band masih sedikit. Para orang tua masih melarang anak-anaknya terjun sebagai penyanyi, bintang film, atau dunia kesenian umumnya. Sebab, artis atau seniman belum dianggap sebagai profesi yang bisa menjamin masa depan.
Maka, penyanyi masa itu hanya sebagai hobi saja. Hitung-hitung untuk menghibur diri sendiri atau teman-teman. Beda dengan masa sekarang, di mana para orang tua justru mendorong anak-anaknya ikut AFI, KDI, Indonesian Idol, atau berbagai event agar anak-anaknya bisa jadi artis. Banyak orang tua bahkan nekat menghabiskan puluhan atau ratusan juta rupiah agar anaknya jadi penyanyi. Padahal, modal suara si anak pas-pasan. Gila benar!
Nah, Mbak Maharani Kahar mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi penyanyi. Apalagi, masuk rekaman dan suaranya dikenal orang dari Sabang sampai Merauke. Rani kecil sangat mengutamakan sekolah, pendidikan. Namun, singkat cerita, Om Kelik alias A. Riyanto pada suatu ketika berhasil menemukan gadis remaja di Surabaya. Manis, merdua suara, layak direkam suaranya.
Lantas, pencipta dan penata lagu ternama di era 1970-an dan 1980-an ini menulis DESEMBER KELABU. Lagu ini disesuaikan dengan karakter suara Maharani Kahar. Almarhum A. Riyanto memang sangat piawai membuat lagu yang disesuaikan dengan karakter si penyanyi. Ambitus suara, timbre [warna suara], tebal tipis suara... semua karakter penyanyi dicermati betul oleh Om Kelik alias A. Riyanto, ayahanda artis Lisa (Elizabeth) Riyanto.
Hasilnya memang luar biasa. Lagu DESEMBER KELABU melejit berkat suara Maharani Kahar. Sejak itulah Mbak Rani menancapkan namanya sebagai penyanyi pendatang baru di Indonesia. Job mengalir, namun Mbak Rani lebih fokus ke sekolah. "Lha, kalau aku nyanyi terus, masa depan saya bagaimana? Kan nggak mungkin orang bisa hidup hanya dari menyanyi dan menyanyi," ujar Maharani Kahar.
Karena fokus ke sekolah, nama Maharani Kahar lama-kelamaan tenggelam. Padahal, lagu DESEMBER KELABU tetap saja melejit lantaran selalu diputar di radio-radio swasta. Tiap bulan Desember hampir pasti DESEMBER KELABU mewarnai radio-radio di seluruh Indonesia. Asal tahu saja, dulu di radio-radio swasta [juga RRI, Radio Republik Indonesia] yang berada di gelombang AM punya acara PILIHAN PENDENGAR.
Yakni, para pendengar mengirim surat, kartu pos, atau kupon meminta diputarkan lagu pop yang disukai. Lagu itu dikirim untuk siapa dengan ucapan.... Ketika telepon [biasa, belum ada seluler] mulai masuk ke rumah-rumah, pendengar minta lagu dan kirim salam. Nah, pada saat itu DESEEMBER KELABU menjadi lagu favorit pendengar radio.
"Mbak minta lagu DESEMBER KELABU untuk Mas Arif di Sepanjang. Dengan ucapan selamat bersantai dan jangan lupa sama saya," ujar seorang pendengar radio di Surabaya pekan lalu. Hehehe.... Ternyata, di tahun 2008 ini pun masih ada saja orang Surabaya yang gandrung DESEMBER KELABU.
Kok popularitas lagu DESEMBER KELABU jauh melampaui penyanyinya, Maria Margaretha Sri Maharani Kahar, ya? Mbak Rani tertawa kecil. Dia mengaku geli juga dengan kenyataan ini. Namun, dia merasa bangga karena sedikit banyak telah mewarnai belantika musik pop Indonesia dengan suaranya.
"Puji Tuhan, ternyata orang masih ingat saya! Padahal, saya sudah bertahun-tahun nggak terlibat lagi di musik pop," kata Mbak Rani yang makin lama makin religius.
Dia bangga karena telah mempersembahkan talenta berupa suara emasnya untuk dinikmati orang banyak. Waktu berganti, zaman berlalu, tapi DESEMBER KELABU tetap dikenang. Kalau mendengar lagu DESEMBER KELABU, saya selalu ingat Mbak Rani yang ramah, murah senyum, dan optimistis.
(Ditulis oleh: Lambertus Hurek di http://hurek.blogspot.com) atau silahkan lihat artikel menarik lainnya di blog beliau, blog Wong Kampung.
Gitu deh...
DESEMBER KELABU
By Aloysius Riyanto
Angin dingin meniup mencekam di bulan Desember
air hujan turun deras dan kejam hati berdebar
Kuteringat bayangan impian di malam itu
malam yang kelabu kau ucapkan kata selamat tinggal sayang
Bulan madu yang engkau janjikan semakin melayang
lenyap hilang ditelan air hujan engkau tak datang
Bulan ini Desember kedua aku menanti
dua tahun sudah kusabar menanti ku dilanda sepi
Angin dingin menusuk di hati terasa oh nyeri
bulan madu tinggallah impian tanpa kenyataan
Sinar cinta seterang rembulan kini pudar sudah
Desember kelabu selalu menghantui setiap mimpiku
Tembang DESEMBER KELABU ini membuat nama Maharani Kahar sangat terkenal di seluruh Indonesia pada 1980-an. Di mana-mana lagu pop manis ini dinyanyikan. Dibawakan dalam berbagai versi. Sri Maharani Kahar pun berbunga-bunga. Gak nyangka lagunya menjadi hit.
"Padahal, saya sih nyanyinya biasa-biasa saja. Diajak Om Kelik masuk studio, nyanyi, ya, sudah," cerita Maharani Kahar kepada saya di Surabaya beberapa waktu lalu. Oh, ya, Mbak Rani ini tinggal di kawasan Pagesangan, tak jauh dari Masjid Al Akbar Surabaya.
Kehidupan Mbak Rani saat ini jauh dari industri musik pop. Dia juga tidak lagi merasa dirinya artis. Juga bukan penyanyi yang pernah sangat terkenal pada 1980-an. Bagi Mbak Rani, lebih baik bicara masa sekarang atau masa depan ketimbang bercerita tentang masa lalu.
"Buat apa? semuanya kan sudah lama berlalu. Aku ini orang biasa kok. Hehehe...," ujar karyawan sebuah perusahaan badan usaha milik negara itu.
Toh, pesona Maharani Kahar belum sirna. Setidaknya bagi remaja 1980-an yang pernah menikmati lembutnya suara sang Maharani di masa keemasan. Mereka tetap melihat Mbak Rani sebagai biduan yang pernah 'membius' telinga orang Indonesia. Maka, Mbak Rani kerap didapuk menyanyi di berbagai acara. Juga memintanya sebagai pembawa acara [MC] di kantor serta komunitas-komunitas tertentu.
Tak ingin mengecewakan penggemarnya, Maharani Kahar pun menyanyi. DESEMBER KELABU pun menjadi lagu wajib yang mustahil diabaikannya. "Padahal, lagu-lagu saya banyak lho. Bukan cuma DESEMBER KELABU," tutur perempuan yang ramah dan murah senyum ini.
Seperti diketahui, blantika musik pop Indonesia pada 1970-an dan 1980-an belum seheboh sekarang. Industri musik masih dalam taraf awal. Penyanyi belum banyak, band masih sedikit. Para orang tua masih melarang anak-anaknya terjun sebagai penyanyi, bintang film, atau dunia kesenian umumnya. Sebab, artis atau seniman belum dianggap sebagai profesi yang bisa menjamin masa depan.
Maka, penyanyi masa itu hanya sebagai hobi saja. Hitung-hitung untuk menghibur diri sendiri atau teman-teman. Beda dengan masa sekarang, di mana para orang tua justru mendorong anak-anaknya ikut AFI, KDI, Indonesian Idol, atau berbagai event agar anak-anaknya bisa jadi artis. Banyak orang tua bahkan nekat menghabiskan puluhan atau ratusan juta rupiah agar anaknya jadi penyanyi. Padahal, modal suara si anak pas-pasan. Gila benar!
Nah, Mbak Maharani Kahar mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi penyanyi. Apalagi, masuk rekaman dan suaranya dikenal orang dari Sabang sampai Merauke. Rani kecil sangat mengutamakan sekolah, pendidikan. Namun, singkat cerita, Om Kelik alias A. Riyanto pada suatu ketika berhasil menemukan gadis remaja di Surabaya. Manis, merdua suara, layak direkam suaranya.
Lantas, pencipta dan penata lagu ternama di era 1970-an dan 1980-an ini menulis DESEMBER KELABU. Lagu ini disesuaikan dengan karakter suara Maharani Kahar. Almarhum A. Riyanto memang sangat piawai membuat lagu yang disesuaikan dengan karakter si penyanyi. Ambitus suara, timbre [warna suara], tebal tipis suara... semua karakter penyanyi dicermati betul oleh Om Kelik alias A. Riyanto, ayahanda artis Lisa (Elizabeth) Riyanto.
Hasilnya memang luar biasa. Lagu DESEMBER KELABU melejit berkat suara Maharani Kahar. Sejak itulah Mbak Rani menancapkan namanya sebagai penyanyi pendatang baru di Indonesia. Job mengalir, namun Mbak Rani lebih fokus ke sekolah. "Lha, kalau aku nyanyi terus, masa depan saya bagaimana? Kan nggak mungkin orang bisa hidup hanya dari menyanyi dan menyanyi," ujar Maharani Kahar.
Karena fokus ke sekolah, nama Maharani Kahar lama-kelamaan tenggelam. Padahal, lagu DESEMBER KELABU tetap saja melejit lantaran selalu diputar di radio-radio swasta. Tiap bulan Desember hampir pasti DESEMBER KELABU mewarnai radio-radio di seluruh Indonesia. Asal tahu saja, dulu di radio-radio swasta [juga RRI, Radio Republik Indonesia] yang berada di gelombang AM punya acara PILIHAN PENDENGAR.
Yakni, para pendengar mengirim surat, kartu pos, atau kupon meminta diputarkan lagu pop yang disukai. Lagu itu dikirim untuk siapa dengan ucapan.... Ketika telepon [biasa, belum ada seluler] mulai masuk ke rumah-rumah, pendengar minta lagu dan kirim salam. Nah, pada saat itu DESEEMBER KELABU menjadi lagu favorit pendengar radio.
"Mbak minta lagu DESEMBER KELABU untuk Mas Arif di Sepanjang. Dengan ucapan selamat bersantai dan jangan lupa sama saya," ujar seorang pendengar radio di Surabaya pekan lalu. Hehehe.... Ternyata, di tahun 2008 ini pun masih ada saja orang Surabaya yang gandrung DESEMBER KELABU.
Kok popularitas lagu DESEMBER KELABU jauh melampaui penyanyinya, Maria Margaretha Sri Maharani Kahar, ya? Mbak Rani tertawa kecil. Dia mengaku geli juga dengan kenyataan ini. Namun, dia merasa bangga karena sedikit banyak telah mewarnai belantika musik pop Indonesia dengan suaranya.
"Puji Tuhan, ternyata orang masih ingat saya! Padahal, saya sudah bertahun-tahun nggak terlibat lagi di musik pop," kata Mbak Rani yang makin lama makin religius.
Dia bangga karena telah mempersembahkan talenta berupa suara emasnya untuk dinikmati orang banyak. Waktu berganti, zaman berlalu, tapi DESEMBER KELABU tetap dikenang. Kalau mendengar lagu DESEMBER KELABU, saya selalu ingat Mbak Rani yang ramah, murah senyum, dan optimistis.
(Ditulis oleh: Lambertus Hurek di http://hurek.blogspot.com) atau silahkan lihat artikel menarik lainnya di blog beliau, blog Wong Kampung.
Gitu deh...
Sabtu, 19 Desember 2009
LEDEK GOGIK, LUCU GILA...

SEKITAR tahun 1970-an, masyarakat Yogyakarta, dipukau oleh kehadiran teater rakyat jalanan seperti ledek gogik dan lainnya. Teater jalanan ini merupakan produk khas budaya lokal, yang tumbuh dan berkembang lewat tradisi mbarang (ngamen). Mereka hadir memukau masyarakat dengan tampilannya yang khas.
Lihat saja ledek gogik yang menggambarkan seorang laki-laki sedang menggendong boneka sebesar manusia. Uniknya, letak gendongan bukan di punggung, melainkan di dada. Karena itu, orang pun menyangka yang menggendong manusia justru si boneka. Bener2 lucu dan menggelikan….
Ee, sesuatu yang saya kira sudah tenggelam ditelan jaman itu ternyata saya temukan kemarin di lorong kampung dekat rumah di Jakarta. Ya, kemarin ada "ledek gogik" ngamen di dekat rumah.
Diiringi bunyi musik dari taperecorder, "orang yang digendong boneka" itu berlenggak lenggok seakan menari.
Dan karena saya tidak tahu persis apa itu artinya "gogik", maka saya sebut saja itu "ledek gokil". Ya, ledek gokil..., lucu gila!
Rabu, 16 Desember 2009
SAXOPHONE DAN PIPA CANGKLONG

Saxophone dikenal juga sebagai alat musik tiup yang berbentuk serupa pipa cangklong atau pipa tembakau (tobacco pipe). Namun nasib keduanya sungguh bertolak belakang. Saxophone, semakin hari semakin disuka, sementara pipa cangklong kini bahkan tidak lagi dilirik orang. Apes deh nasib si cangklong...
Langganan:
Postingan (Atom)
