Lokasi Pengoenjoeng Blog

Tampilkan postingan dengan label Angkutan Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angkutan Umum. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2009

Dug tik dak tik dug..., suara sepatu kuda.

Baik suara kaki2 kuda yang sedang berlari beneran maupun sekedar lagu yang berkisah tentang kuda itu, kini sudah jarang terdengar. Namun mumpung masih ingat syairnya, baik juga kalau kita nyanyikan lagu jadul yang kayak begini ini:

Pada hari Minggu kuturut ayah ke kota
Naik delman istimewa, kududuk di muka
Kududuk samping pak Kusir yang sedang bekerja
Mengendali kuda supaya baik jalannya
Dug tik dak tik dug..., tik dak tik dug, tik dak tik dug
Dug tik dak tik dug..., tik dak tik dug, suara sepatu kuda.

Wis jan, jadi bocah lagi deh kita...

Kring kring Pos...


Ini lagu, dulu sering kita nyanyikan. Tapi kini..., tak lagi terdengar. Kalaupun kita nekat berdendang, malah jadi wagu, karena pak pos jaman sekarang tidak lagi bersepeda onthel tapi sudah pakai..., sepeda motor.

Syair lagu: Tukang Pos

Aku tukang pos rajin sekali
Surat kubawa naik sepeda
Siapa saja aku layani
Tidak kupilih
Miskin dan kaya
Kring kring pos...

Piye Jal?

Jalan Raya Pos Anyer Panarukan

Nama HW. Daendels tak dapat dipisahkan dengan keberadaan jalan raya pos Anyer Panarukan. Meskipun menurut catatan sejarah lama, Daendels sebenarnya hanya terinspirasi oleh pasukan Sultan Agung yang pernah menggunakan jalan raya tersebut pada tahun 1614 an, untuk ulang alik menyerang Batavia.

Jalan tanah yang mampu dilalui cikar dan pedati dengan roda tinggi berjari jari, agar mudah ditarik tangan apabila terperosok, konon juga dipakai untuk mengangkut meriam oleh Sultan Agung.

Di beberapa daerah, terdapat pondokan untuk istirahat dan mengganti kuda segar, juga mengikuti lokasi yang sudah ada 200 an lalu itu, karena bekas pondokan dengan jarak tempuh tertentu, dirasa masih cocok dan dapat dimanfaatkan, tidak hanya sebagai pos ganti kuda (pos pengumben), namun juga sebagai pondok istirahat petugas pos.

Jalan Raya Pos atau jalan raya de grote postweg itu dibuat/disempurnakan oleh Daendels demi kelancaran arus tapak kuda, kaki kerbau, sapi penarik gerobak, pedati, cikar, dan angkutan benda pos mulai surat hingga jasa pengiriman lainnya. Selain tentu saja demi strategi militer dan kelancaran komunikasi antar kota antar propinsi, kala itu.

Mulai dari Anyer, melalui Serang dan Tangerang menuju Jakarta misalnya, terdapat 14 “stasion pos”, delapan berada di Karesidenan Banten. Sementara di Serang dan Tangerang didirikan tempat untuk makan dan bermalam. Ya, kuda2 hela itu memang harus digilir, digonta ganti. Sebab kalau tidak…, capek deeehhh! Gitu deh…

(Dari berbagai sumber)