Lokasi Pengoenjoeng Blog

Tampilkan postingan dengan label Kampung Halaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampung Halaman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2009

“ROEMAH EYANG”, rumah sejuta kenangan.

Salah satu kawasan bangunan rumah yang masih dilestarikan seperti aslinya di dalam kampung bisa dilihat di bilangan Kemetiran Kidul, Jogya, yang dikenal dengan nama Roemah Eyang. Saat kita memasuki kawasan Roemah Eyang, suasana kampung tempo doeloe akan benar-benar mewarnai. Selain karena bentuk bangunannya, maka suasananya pun benar-benar mendukung. Kehidupan kampung benar-benar sangat terasa.

Storinya, Roemah Eyang ini dibangun pada tahun 1907 oleh eyang buyut RM Kromodirdjo, dan kemudian direnovasi pada tahun 1957 oleh eyang R Prodjomartono. Selanjutnya direstorasi seperti bentuk aslinya pada tahun 2005 oleh bu Harno, yaitu ibu saya, dan kemudian difungsikan sebagai rumah tamu.

Roemah Eyang adalah rumah warisan keluarga yang adiluhung, bernuansa rumah tempo doeloe yang berlokasi di dalam kampoeng Kemetiran Kidul, Gedong Tengen Yogyakarta. Interior kamar dan mebelernya didesain selayaknya kamar hotel berbintang agar tidak terkesan angker seperti rumah-rumah kuno lainnya. (Mebel-mebel antik peninggalan eyang terdahulu ditempatkan hanya di ruang-ruang terbuka).

Fungsi Roemah Eyang kini berubah, tidak saja sebagai tempat tinggal bu Harno serta tempat persinggahan putra putri dan cucu-cucunya jika berkunjung ke Jogya, tetapi juga diperuntukkan bagi wisatawan yang ingin menginap sembari bernostalgia dengan pelayanan kekeluargaan. Tamu wisatawan dianggap sebagai tamu keluarga yang bebas melakukan aktivitas selayaknya di rumah eyangnya sendiri dengan sopan santun serta tata krama sebagaimana keluarga Jawa,.

Karena itulah, maka segenap keluarga menamakannya sebagai Roemah Eyang. Artinya, siapa pun yang berada di dalam bangunan tersebut, entah sekadar duduk santai, minum teh sambil ngobrol, atau menginap, maka suasana akan benar-benar jauh dari keramaian kota. Tempat ini memang berawal dari rumah eyang yang tidak lagi ditempati oleh putra-putrinya, namun masih meninggalkan seluruh kenangan manis, kehangatan sebuah keluarga besar. Sehingga, upaya melestarikan bangunan kampung ini, berikut suasana dan aromanya, semata dimaksudkan untuk bisa berbagi rasa, dengan menjadikan Roemah Eyang ini sebagai rumah tinggal yang representatif di tengah kota yang penuh kenangan.

Jadilah sebuah konsep baru rumah tinggal dengan pelayanan kekeluargaan, dan menikmati keramahan khas Jogya. Dengan ornamen yang artistik, serta bentuk dinding serta penempatan jendela yang simetris, maka keberadaan beberapa kursi di emperan dinding terasa benar-benar pas sebagai tempat santai. Bentuk perabotan atau mebelernya menyatu dengan desain bangunannya.

Dengan demikian, sebagai tempat tinggal atau tempat klangenan, Roemah Eyang ini memang bisa membuat kerasan. Posisinya sebagai heritage house menjadikan rumah di tengah kampung ini seperti hidup. Seakan kehidupan kampung zaman dahulu hadir lagi di era moderen sekarang. Gitu deh…

Jadi, kalau dulur berkesempatan ke Jogya, silahkan menginap di hotel "ROEMAH EYANG." Piye Jal?

JOGYA, JOGYES..., titik nol koma nol



Jogya, Jogja, Yogya, Yogja dan Jogyes. Ah…, banyak nian nama alias untuk menyebut kota antik, kota sejuta kenangan itu. Dan memang, pancen en sungguh saya punya, tidak hanya satu atau dua, tapi ada sejuta kenangan di kota itu karena …, “ku dibesarkan oleh ibuku (dan bapakku), dikampung halamanku”. Yes, Jogya is kampung halaman!

Di sana, sebagai pusat kota adalah kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I, pada tahun 1756. Dan kata Ngayogyakarta itu berasal dari kata ng-ayu-agyo-karto (ayu : beautiful, noble, agyo from ageyo : built, karto : prosperous), it has a meaning that the country was built with a noble wish to bring prosperity. Begitulah ujar salah satu sumber. Nama Ngayogyakarta tak lagi sering disebut. Orang lebih suka menyebutnya Yogyakarta, Yogya, Jogya delele.

Di seputar kraton Jogya terdapat aneka bangunan kuno yang hingga kini masih bertahan semisal: Kantor Pos di utara kraton. Gedung Agung, ada sedikit lebih ke utara lagi, lalu Pasar Beringharjo di sisi jalan Malioboro, stasiun Tugu dsb. Nah, dulu saya tinggal tak jauh dari stasiun kereta api itu, kira2 ditengah antara stasiun dan pasar Beringharjo, dekat dengan jalan Malioboro, yakni di kampung Kemetiran Kidul, kecamatan Gedong Tengen.

Rute jalan dari Kemetiran Kidul, Dagen, Malioboro, Pasar Beringharjo, Gedung Agung dan Kantor Pos, ulang alik, biasa saya lalui (saya jalan kakiin), karena dulu saya bersekolah menuntut ilmu di SD dan SMP Bruderan (Pangudi Luhur) Kidul Loji yang terletak persis di belakang gedung Kantor Pos, di angka kilometer kisaran 0,2 km.

Lha kalau Bruderan itu di km 0,2 lantas titik kilometer nol di mana? “Titik nol” kilometer itu adanya ditengah tengah prapatan jalan depan Kantor Pos! Gitu deh, ee..., gitu lho.