Lokasi Pengoenjoeng Blog

Rabu, 30 Desember 2009

Innallilahi wainnallillahi rojiun

Berita dari TVRI, telah wafat Gus Dur, tadi pukul 18.30 WIB.

Selamat jalan Gus...

Minggu, 27 Desember 2009

Maharani Kahar, si Desember Kelabu

Satu kisah dari Blog Wong Kampung.

DESEMBER KELABU
By Aloysius Riyanto

Angin dingin meniup mencekam di bulan Desember
air hujan turun deras dan kejam hati berdebar

Kuteringat bayangan impian di malam itu
malam yang kelabu kau ucapkan kata selamat tinggal sayang

Bulan madu yang engkau janjikan semakin melayang
lenyap hilang ditelan air hujan engkau tak datang

Bulan ini Desember kedua aku menanti
dua tahun sudah kusabar menanti ku dilanda sepi

Angin dingin menusuk di hati terasa oh nyeri
bulan madu tinggallah impian tanpa kenyataan

Sinar cinta seterang rembulan kini pudar sudah
Desember kelabu selalu menghantui setiap mimpiku

Tembang DESEMBER KELABU ini membuat nama Maharani Kahar sangat terkenal di seluruh Indonesia pada 1980-an. Di mana-mana lagu pop manis ini dinyanyikan. Dibawakan dalam berbagai versi. Sri Maharani Kahar pun berbunga-bunga. Gak nyangka lagunya menjadi hit.
"Padahal, saya sih nyanyinya biasa-biasa saja. Diajak Om Kelik masuk studio, nyanyi, ya, sudah," cerita Maharani Kahar kepada saya di Surabaya beberapa waktu lalu. Oh, ya, Mbak Rani ini tinggal di kawasan Pagesangan, tak jauh dari Masjid Al Akbar Surabaya.

Kehidupan Mbak Rani saat ini jauh dari industri musik pop. Dia juga tidak lagi merasa dirinya artis. Juga bukan penyanyi yang pernah sangat terkenal pada 1980-an. Bagi Mbak Rani, lebih baik bicara masa sekarang atau masa depan ketimbang bercerita tentang masa lalu.

"Buat apa? semuanya kan sudah lama berlalu. Aku ini orang biasa kok. Hehehe...," ujar karyawan sebuah perusahaan badan usaha milik negara itu.

Toh, pesona Maharani Kahar belum sirna. Setidaknya bagi remaja 1980-an yang pernah menikmati lembutnya suara sang Maharani di masa keemasan. Mereka tetap melihat Mbak Rani sebagai biduan yang pernah 'membius' telinga orang Indonesia. Maka, Mbak Rani kerap didapuk menyanyi di berbagai acara. Juga memintanya sebagai pembawa acara [MC] di kantor serta komunitas-komunitas tertentu.

Tak ingin mengecewakan penggemarnya, Maharani Kahar pun menyanyi. DESEMBER KELABU pun menjadi lagu wajib yang mustahil diabaikannya. "Padahal, lagu-lagu saya banyak lho. Bukan cuma DESEMBER KELABU," tutur perempuan yang ramah dan murah senyum ini.

Seperti diketahui, blantika musik pop Indonesia pada 1970-an dan 1980-an belum seheboh sekarang. Industri musik masih dalam taraf awal. Penyanyi belum banyak, band masih sedikit. Para orang tua masih melarang anak-anaknya terjun sebagai penyanyi, bintang film, atau dunia kesenian umumnya. Sebab, artis atau seniman belum dianggap sebagai profesi yang bisa menjamin masa depan.

Maka, penyanyi masa itu hanya sebagai hobi saja. Hitung-hitung untuk menghibur diri sendiri atau teman-teman. Beda dengan masa sekarang, di mana para orang tua justru mendorong anak-anaknya ikut AFI, KDI, Indonesian Idol, atau berbagai event agar anak-anaknya bisa jadi artis. Banyak orang tua bahkan nekat menghabiskan puluhan atau ratusan juta rupiah agar anaknya jadi penyanyi. Padahal, modal suara si anak pas-pasan. Gila benar!

Nah, Mbak Maharani Kahar mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi penyanyi. Apalagi, masuk rekaman dan suaranya dikenal orang dari Sabang sampai Merauke. Rani kecil sangat mengutamakan sekolah, pendidikan. Namun, singkat cerita, Om Kelik alias A. Riyanto pada suatu ketika berhasil menemukan gadis remaja di Surabaya. Manis, merdua suara, layak direkam suaranya.

Lantas, pencipta dan penata lagu ternama di era 1970-an dan 1980-an ini menulis DESEMBER KELABU. Lagu ini disesuaikan dengan karakter suara Maharani Kahar. Almarhum A. Riyanto memang sangat piawai membuat lagu yang disesuaikan dengan karakter si penyanyi. Ambitus suara, timbre [warna suara], tebal tipis suara... semua karakter penyanyi dicermati betul oleh Om Kelik alias A. Riyanto, ayahanda artis Lisa (Elizabeth) Riyanto.

Hasilnya memang luar biasa. Lagu DESEMBER KELABU melejit berkat suara Maharani Kahar. Sejak itulah Mbak Rani menancapkan namanya sebagai penyanyi pendatang baru di Indonesia. Job mengalir, namun Mbak Rani lebih fokus ke sekolah. "Lha, kalau aku nyanyi terus, masa depan saya bagaimana? Kan nggak mungkin orang bisa hidup hanya dari menyanyi dan menyanyi," ujar Maharani Kahar.

Karena fokus ke sekolah, nama Maharani Kahar lama-kelamaan tenggelam. Padahal, lagu DESEMBER KELABU tetap saja melejit lantaran selalu diputar di radio-radio swasta. Tiap bulan Desember hampir pasti DESEMBER KELABU mewarnai radio-radio di seluruh Indonesia. Asal tahu saja, dulu di radio-radio swasta [juga RRI, Radio Republik Indonesia] yang berada di gelombang AM punya acara PILIHAN PENDENGAR.

Yakni, para pendengar mengirim surat, kartu pos, atau kupon meminta diputarkan lagu pop yang disukai. Lagu itu dikirim untuk siapa dengan ucapan.... Ketika telepon [biasa, belum ada seluler] mulai masuk ke rumah-rumah, pendengar minta lagu dan kirim salam. Nah, pada saat itu DESEEMBER KELABU menjadi lagu favorit pendengar radio.

"Mbak minta lagu DESEMBER KELABU untuk Mas Arif di Sepanjang. Dengan ucapan selamat bersantai dan jangan lupa sama saya," ujar seorang pendengar radio di Surabaya pekan lalu. Hehehe.... Ternyata, di tahun 2008 ini pun masih ada saja orang Surabaya yang gandrung DESEMBER KELABU.

Kok popularitas lagu DESEMBER KELABU jauh melampaui penyanyinya, Maria Margaretha Sri Maharani Kahar, ya? Mbak Rani tertawa kecil. Dia mengaku geli juga dengan kenyataan ini. Namun, dia merasa bangga karena sedikit banyak telah mewarnai belantika musik pop Indonesia dengan suaranya.

"Puji Tuhan, ternyata orang masih ingat saya! Padahal, saya sudah bertahun-tahun nggak terlibat lagi di musik pop," kata Mbak Rani yang makin lama makin religius.

Dia bangga karena telah mempersembahkan talenta berupa suara emasnya untuk dinikmati orang banyak. Waktu berganti, zaman berlalu, tapi DESEMBER KELABU tetap dikenang. Kalau mendengar lagu DESEMBER KELABU, saya selalu ingat Mbak Rani yang ramah, murah senyum, dan optimistis.

(Ditulis oleh: Lambertus Hurek di http://hurek.blogspot.com) atau silahkan lihat artikel menarik lainnya di blog beliau, blog Wong Kampung.

Gitu deh...

Sabtu, 19 Desember 2009

LEDEK GOGIK, LUCU GILA...


SEKITAR tahun 1970-an, masyarakat Yogyakarta, dipukau oleh kehadiran teater rakyat jalanan seperti ledek gogik dan lainnya. Teater jalanan ini merupakan produk khas budaya lokal, yang tumbuh dan berkembang lewat tradisi mbarang (ngamen). Mereka hadir memukau masyarakat dengan tampilannya yang khas.

Lihat saja ledek gogik yang menggambarkan seorang laki-laki sedang menggendong boneka sebesar manusia. Uniknya, letak gendongan bukan di punggung, melainkan di dada. Karena itu, orang pun menyangka yang menggendong manusia justru si boneka. Bener2 lucu dan menggelikan….

Ee, sesuatu yang saya kira sudah tenggelam ditelan jaman itu ternyata saya temukan kemarin di lorong kampung dekat rumah di Jakarta. Ya, kemarin ada "ledek gogik" ngamen di dekat rumah.

Diiringi bunyi musik dari taperecorder, "orang yang digendong boneka" itu berlenggak lenggok seakan menari.

Dan karena saya tidak tahu persis apa itu artinya "gogik", maka saya sebut saja itu "ledek gokil". Ya, ledek gokil..., lucu gila!

Rabu, 16 Desember 2009

SAXOPHONE DAN PIPA CANGKLONG


Saxophone dikenal juga sebagai alat musik tiup yang berbentuk serupa pipa cangklong atau pipa tembakau (tobacco pipe). Namun nasib keduanya sungguh bertolak belakang. Saxophone, semakin hari semakin disuka, sementara pipa cangklong kini bahkan tidak lagi dilirik orang. Apes deh nasib si cangklong...

Sabtu, 12 Desember 2009

SAXOPHONE & GITAR


Tanpa listrik pun keduanya bisa dimainkan. Syik asyik khan? Ya, itulah saxophone dan gitar akustik. Dan kalau mereka sudah berpadu, wow..., merdu lho.

Dan saxophone itu dulu ditemukan sebelum ada listrik lho. Entah kalau gitar.