Lokasi Pengoenjoeng Blog

Rabu, 30 Desember 2009

Innallilahi wainnallillahi rojiun

Berita dari TVRI, telah wafat Gus Dur, tadi pukul 18.30 WIB.

Selamat jalan Gus...

Minggu, 27 Desember 2009

Maharani Kahar, si Desember Kelabu

Satu kisah dari Blog Wong Kampung.

DESEMBER KELABU
By Aloysius Riyanto

Angin dingin meniup mencekam di bulan Desember
air hujan turun deras dan kejam hati berdebar

Kuteringat bayangan impian di malam itu
malam yang kelabu kau ucapkan kata selamat tinggal sayang

Bulan madu yang engkau janjikan semakin melayang
lenyap hilang ditelan air hujan engkau tak datang

Bulan ini Desember kedua aku menanti
dua tahun sudah kusabar menanti ku dilanda sepi

Angin dingin menusuk di hati terasa oh nyeri
bulan madu tinggallah impian tanpa kenyataan

Sinar cinta seterang rembulan kini pudar sudah
Desember kelabu selalu menghantui setiap mimpiku

Tembang DESEMBER KELABU ini membuat nama Maharani Kahar sangat terkenal di seluruh Indonesia pada 1980-an. Di mana-mana lagu pop manis ini dinyanyikan. Dibawakan dalam berbagai versi. Sri Maharani Kahar pun berbunga-bunga. Gak nyangka lagunya menjadi hit.
"Padahal, saya sih nyanyinya biasa-biasa saja. Diajak Om Kelik masuk studio, nyanyi, ya, sudah," cerita Maharani Kahar kepada saya di Surabaya beberapa waktu lalu. Oh, ya, Mbak Rani ini tinggal di kawasan Pagesangan, tak jauh dari Masjid Al Akbar Surabaya.

Kehidupan Mbak Rani saat ini jauh dari industri musik pop. Dia juga tidak lagi merasa dirinya artis. Juga bukan penyanyi yang pernah sangat terkenal pada 1980-an. Bagi Mbak Rani, lebih baik bicara masa sekarang atau masa depan ketimbang bercerita tentang masa lalu.

"Buat apa? semuanya kan sudah lama berlalu. Aku ini orang biasa kok. Hehehe...," ujar karyawan sebuah perusahaan badan usaha milik negara itu.

Toh, pesona Maharani Kahar belum sirna. Setidaknya bagi remaja 1980-an yang pernah menikmati lembutnya suara sang Maharani di masa keemasan. Mereka tetap melihat Mbak Rani sebagai biduan yang pernah 'membius' telinga orang Indonesia. Maka, Mbak Rani kerap didapuk menyanyi di berbagai acara. Juga memintanya sebagai pembawa acara [MC] di kantor serta komunitas-komunitas tertentu.

Tak ingin mengecewakan penggemarnya, Maharani Kahar pun menyanyi. DESEMBER KELABU pun menjadi lagu wajib yang mustahil diabaikannya. "Padahal, lagu-lagu saya banyak lho. Bukan cuma DESEMBER KELABU," tutur perempuan yang ramah dan murah senyum ini.

Seperti diketahui, blantika musik pop Indonesia pada 1970-an dan 1980-an belum seheboh sekarang. Industri musik masih dalam taraf awal. Penyanyi belum banyak, band masih sedikit. Para orang tua masih melarang anak-anaknya terjun sebagai penyanyi, bintang film, atau dunia kesenian umumnya. Sebab, artis atau seniman belum dianggap sebagai profesi yang bisa menjamin masa depan.

Maka, penyanyi masa itu hanya sebagai hobi saja. Hitung-hitung untuk menghibur diri sendiri atau teman-teman. Beda dengan masa sekarang, di mana para orang tua justru mendorong anak-anaknya ikut AFI, KDI, Indonesian Idol, atau berbagai event agar anak-anaknya bisa jadi artis. Banyak orang tua bahkan nekat menghabiskan puluhan atau ratusan juta rupiah agar anaknya jadi penyanyi. Padahal, modal suara si anak pas-pasan. Gila benar!

Nah, Mbak Maharani Kahar mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi penyanyi. Apalagi, masuk rekaman dan suaranya dikenal orang dari Sabang sampai Merauke. Rani kecil sangat mengutamakan sekolah, pendidikan. Namun, singkat cerita, Om Kelik alias A. Riyanto pada suatu ketika berhasil menemukan gadis remaja di Surabaya. Manis, merdua suara, layak direkam suaranya.

Lantas, pencipta dan penata lagu ternama di era 1970-an dan 1980-an ini menulis DESEMBER KELABU. Lagu ini disesuaikan dengan karakter suara Maharani Kahar. Almarhum A. Riyanto memang sangat piawai membuat lagu yang disesuaikan dengan karakter si penyanyi. Ambitus suara, timbre [warna suara], tebal tipis suara... semua karakter penyanyi dicermati betul oleh Om Kelik alias A. Riyanto, ayahanda artis Lisa (Elizabeth) Riyanto.

Hasilnya memang luar biasa. Lagu DESEMBER KELABU melejit berkat suara Maharani Kahar. Sejak itulah Mbak Rani menancapkan namanya sebagai penyanyi pendatang baru di Indonesia. Job mengalir, namun Mbak Rani lebih fokus ke sekolah. "Lha, kalau aku nyanyi terus, masa depan saya bagaimana? Kan nggak mungkin orang bisa hidup hanya dari menyanyi dan menyanyi," ujar Maharani Kahar.

Karena fokus ke sekolah, nama Maharani Kahar lama-kelamaan tenggelam. Padahal, lagu DESEMBER KELABU tetap saja melejit lantaran selalu diputar di radio-radio swasta. Tiap bulan Desember hampir pasti DESEMBER KELABU mewarnai radio-radio di seluruh Indonesia. Asal tahu saja, dulu di radio-radio swasta [juga RRI, Radio Republik Indonesia] yang berada di gelombang AM punya acara PILIHAN PENDENGAR.

Yakni, para pendengar mengirim surat, kartu pos, atau kupon meminta diputarkan lagu pop yang disukai. Lagu itu dikirim untuk siapa dengan ucapan.... Ketika telepon [biasa, belum ada seluler] mulai masuk ke rumah-rumah, pendengar minta lagu dan kirim salam. Nah, pada saat itu DESEEMBER KELABU menjadi lagu favorit pendengar radio.

"Mbak minta lagu DESEMBER KELABU untuk Mas Arif di Sepanjang. Dengan ucapan selamat bersantai dan jangan lupa sama saya," ujar seorang pendengar radio di Surabaya pekan lalu. Hehehe.... Ternyata, di tahun 2008 ini pun masih ada saja orang Surabaya yang gandrung DESEMBER KELABU.

Kok popularitas lagu DESEMBER KELABU jauh melampaui penyanyinya, Maria Margaretha Sri Maharani Kahar, ya? Mbak Rani tertawa kecil. Dia mengaku geli juga dengan kenyataan ini. Namun, dia merasa bangga karena sedikit banyak telah mewarnai belantika musik pop Indonesia dengan suaranya.

"Puji Tuhan, ternyata orang masih ingat saya! Padahal, saya sudah bertahun-tahun nggak terlibat lagi di musik pop," kata Mbak Rani yang makin lama makin religius.

Dia bangga karena telah mempersembahkan talenta berupa suara emasnya untuk dinikmati orang banyak. Waktu berganti, zaman berlalu, tapi DESEMBER KELABU tetap dikenang. Kalau mendengar lagu DESEMBER KELABU, saya selalu ingat Mbak Rani yang ramah, murah senyum, dan optimistis.

(Ditulis oleh: Lambertus Hurek di http://hurek.blogspot.com) atau silahkan lihat artikel menarik lainnya di blog beliau, blog Wong Kampung.

Gitu deh...

Sabtu, 19 Desember 2009

LEDEK GOGIK, LUCU GILA...


SEKITAR tahun 1970-an, masyarakat Yogyakarta, dipukau oleh kehadiran teater rakyat jalanan seperti ledek gogik dan lainnya. Teater jalanan ini merupakan produk khas budaya lokal, yang tumbuh dan berkembang lewat tradisi mbarang (ngamen). Mereka hadir memukau masyarakat dengan tampilannya yang khas.

Lihat saja ledek gogik yang menggambarkan seorang laki-laki sedang menggendong boneka sebesar manusia. Uniknya, letak gendongan bukan di punggung, melainkan di dada. Karena itu, orang pun menyangka yang menggendong manusia justru si boneka. Bener2 lucu dan menggelikan….

Ee, sesuatu yang saya kira sudah tenggelam ditelan jaman itu ternyata saya temukan kemarin di lorong kampung dekat rumah di Jakarta. Ya, kemarin ada "ledek gogik" ngamen di dekat rumah.

Diiringi bunyi musik dari taperecorder, "orang yang digendong boneka" itu berlenggak lenggok seakan menari.

Dan karena saya tidak tahu persis apa itu artinya "gogik", maka saya sebut saja itu "ledek gokil". Ya, ledek gokil..., lucu gila!

Rabu, 16 Desember 2009

SAXOPHONE DAN PIPA CANGKLONG


Saxophone dikenal juga sebagai alat musik tiup yang berbentuk serupa pipa cangklong atau pipa tembakau (tobacco pipe). Namun nasib keduanya sungguh bertolak belakang. Saxophone, semakin hari semakin disuka, sementara pipa cangklong kini bahkan tidak lagi dilirik orang. Apes deh nasib si cangklong...

Sabtu, 12 Desember 2009

SAXOPHONE & GITAR


Tanpa listrik pun keduanya bisa dimainkan. Syik asyik khan? Ya, itulah saxophone dan gitar akustik. Dan kalau mereka sudah berpadu, wow..., merdu lho.

Dan saxophone itu dulu ditemukan sebelum ada listrik lho. Entah kalau gitar.

Senin, 23 November 2009

STUDIO FOTO



“Dulu setiap akhir pekan banyak pasangan muda mudi mengabadikan kisah mereka dengan foto bersama di sini” kisah Nurul Hidayah (43) mengenang ramainya studio foto yang berjaya sekitar tahun 1980 an.

Kini studio foto yang bernama “Seni Foto Gerak Cepat” studio yang terletak di sudut Kampung Melayu, Semarang, Jawa Tengah, itu seperti semakin kehilangan daya pikatnya. Gambar pemandangan indah, rumah mewah, serta ruang tamu yang dulu dipakai sebagai latar semakin rapat tergulung dan tampak lusuh.

Pencahayaan dalam studio yang terbuat dari susunan kap lampu penerang jalan hanya menyala sesekali. Peralatan pencetak negatif film atau enlarger dibiarkan berkarat. “Paling2 sekarang hanya pasfoto, itu saja hanya tetangga dekat yang datang kemari,” ungkap Nurul.

Nurul, ibu dua anak ini memproses foto sendiri dari memotret hingga cuci cetak. Keahlian melakukan proses cuci cetak film yang rumit tersebut dia peroleh dari Ali bin Abdullah, ayahnya yang juga salah satu pelopor kios pasfoto di sekitar Pasar Johar.

Studio inipun seperti kehilangan gerak cepatnya dengan mengandalkan kamera manual merek Fujica saat bersaing dengan canggihnya studio foto baru di Semarang.

Sementara itu kemudahan teknologi kamera digital yang tak terelakkan semakin meminggirkan usaha foto yang telah dirintis sekitar 37 tahun silam. Seni mengolah dari mencuci hingga mencetak film yang diwariskan turun temurun sepertinya akan terhenti pada generasi ketiga pemilik studio ini.

Entah sampai kapan “idealisme” studio foto nondigital itu akan bertahan.

(Sumber: Kompas)

Selasa, 27 Oktober 2009

NGECAT RAMBUT

Dalam selera Jawa asli kalo rambut tidak ireng njanges maka rambut itu tidak dianggap "menarik secara asli". Tetapi ketika saya lihat banyak orang berwajah Asia atau bekulit tidak putih memamerkan rambut pirang (kuning emas) atau merah gelap (burgundy), maka kesan saya jijik, karena tidak cocok dengan apa yang didapati di alam koderat nyata. Saya lihat orang Jepang dan Cina juga tiru-tiru bermode berambut pirang (meskipun rambut mereka sudah cukup pirang-pirang!). Begitu kata Papiray.

Ya, jaman sekarang soal mewarnai rambut bukan lagi didominasi oleh kaum papi generasi silver, generasi beruban. Anak2 muda pun melakukannya, mewarnai rambutnya menjadi pirang, merah, dsb. Sehingga ada julukan khas bagi mereka, yaitu generasi LKMD (Londo Kok Mung nDase).

Ada2 saja...

Rabu, 21 Oktober 2009

BEETLE ALIAS KODOK, KUNTUL ALIAS BEBEK



Ini soal nama alias untuk kendaraan. Julukan resmi untuk mobil unik buatan Jerman ini adalah VW BUG atau VW BEETLE, tapi dia juga punya nama alias yakni: VW KODOK.

Seorang teman menambah daftar nama alias ini. Katanya, mobil Suzuki Jimny keluaran pertama bentuknya kecil sederhana, orang menyebutnya JIMNY JANGKRIK atau JIMNY KOTRIK. Kemudian Toyota Kijang juga, yang keluar pertama disebut KIJANG DOYOK, KIJANG BLEK KRUPUK, dsb. Terus sepeda motor HONDA C70 juga disebut sebagai HONDA KUNTUL atau BMW C70 (Bebek Merah Warnanya C70), Yamaha bebek V80 keluaran tahun 1982-83 banyak yang menyebut YAMAHA KULKAS, YAMAHA ROBOT. Honda CB 100 keluaran tahun 1972-73 disebut CB Plangkok, sementara CB 100 (seperti dalam gambar) keluaran 1975 disebut CB gelatik.

Apalagi ya?

AREN, GITU LOH

Berkat global warming, Indonesia akan panen devisa. Kuncinya adalah biofuel dari aren.

Dian Tio dan para petani aren lainnya di Tomohon, Manado, Sulawesi Utara bersuka cita penuh semangat karena hasil produksi aren kini melejit menjadi primadona. Tak hanya di dalam negeri, tapi di seluruh dunia.

Masih terngiang tutur kata Presiden Bambang Susilo Yudhoyono, orang nomor satu di Indonesia yang sempat menemui mereka pada 14 Januari 2007 lalu saat berdialog dengan para petani aren, “Yang jelas permintaan masih tinggi sekali, Indonesia melipatgandakan produksinya pun belum mencukupi apa yang dibutuhkan oleh negara-negara pengimpor dari gula aren ini.”

Sebuah angin segar yang menjadi pemacu semangat para petani aren. Menjadi besar karena permintaan aren tak hanya untuk memenuhi industri gula saja, namun industri bioetanol yang saat ini sangat marak. Sejak tahun 2007, Presiden mencanangkan program nasional penanaman aren di wilayah Indonesia. Anggaran sebesar kurang lebih 60 miliar disiapkan untuk mensukseskan program tersebut. Diperkirakan luas lahan potensial yang bisa digarap untuk lahan aren sekitar 65000 hektar, tersebar di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Revolusi aren yang tiba-tiba menyeruak ini bukanlah tanpa sebab. Aren ditengarai menghasilkan bioetanol paling banyak dan paling bagus di antara tanaman lain. Target ke depan, bioetanol akan menggantikan posisi bahan bakar minyak dari fosil yang disadari makin lama persediaannya makin menipis dan didakwa menyebabkan global warning.

Bahan bakar minyak fosil memang tak pernah ramah pada lingkungan. Emisi karbon yang dihasilkannya mulai terasa membawa bencana. Efek gas rumah kaca yang disebabkan emisi kabon menyebabkan kenaikan suhu yang cukup signifikan. Es di kutub mencair, gletser menurun dan hilang, permukaan laut naik, perubahan cuaca terjadi secara ekstrem dan sulit diprediksi, banjir menerjang berbagai wilayah, berbagai jenis badai datang silih berganti. Sejumlah jenis tanaman dan hewan musnah, keanekaragaman hayati menurun, hasil pertanian menurun, dan berebagai jenis penyakit mengintai manusia.

Daerah gletser atau salju abadi di Puncak Carstensz tahun 1995 berkurang hingga 70%. Padahal, inilah satu-satunya gletser di negeri tropis. Di belahan dunia dengan empat musim, jumlah hari dengan suhu beku berkurang, musim panas lebih kering, dan musim dingin menjadi lebih lembab. Segala bencana tersebut sebagian besar dikarenakan penggunaan bahan bakar minyak fosil yang semakin hari berjumlah semakin besar.

Namun bukanlah kaum manusia jika tak dapat menemukan pemecahan masalah melalui uji inovasi yang canggih. Pemakaian bahan bakar fosil harus segera dicarikan pengganti. Agrofuel muncul sebagai bintang. Tanaman atau bahan nabati ternyata tak hanya bermanfaat sebagai bahan pangan, tetapi juga dapat diolah menjadi bahan bakar biofuel atau biodiesel yang kualitasnya bahkan jauh lebih baik dibanding bahan bakar minyak fosil. Selain itu, biofuel pun ternyata memiliki emisi karbon yang sangat rendah, sehingga lebih ramah lingkungan.

Industri agrobisnis mulai dibuka besar-besaran demi meraih target pasokan biofuel. Produksi biodiesel negara-negara Uni Eropa meningkat cepat dari 1 miliar liter pada tahun 2000 menjadi 4,5 miliar liter pada tahun 2006. Produksi bioetanol dunia juga meningkat cepat: dari 30 miliar liter menjadi 46 miliar liter pada periode yang sama. Ditargetkan pada tahun 2010 produksi bioetanol dunia akan mencapai 54 miliar liter atau setara satu persen dari konsumsi energi fosil dunia pada tahun tersebut.

Bahkan di Indonesia sendiri menargetkan, di rentang waktu tahun 2007 – 2010 pemerintah mengganti 1,48 miliar liter bensin dengan bioetanol, seperti yang ditetapkan pada Peraturan Pemerintah No 5/2006. Pengolahan bahan nabati tak lagi hanya sekedar untuk pemenuhan persediaan pangan, tetapi mulai merambah ke pengembangan biofuel. Jagung, tebu, singkong, kedelai, ubi jalar, kanola, maupun kelapa sawit mulai diolah skala besar untuk produktivitas biofuel. Brazil berjaya berkat produksi biofuel dari tebu.

Pemerintah Amerika menghabiskan dana senilai 9,2 milyar dollar untuk subsidi ethanol di tahun 2008. Negara-negara Uni Eropa dan Afrika pun mengembangkan jagung sebagai primadona. Sedangkan negara-negara tropis seperti Indonesia maupun Malaysia memacu produktivitas kelapa sawit. Namun sebuah solusi selalu mengandung resiko. Pemecahan biofuel pun tak melulu mulus, melainkan juga menuai kritik dan kecaman.

Penanaman sawit sebagai komoditi ternyata menimbulkan permasalahan yang tak kalah pelik. Sawit dan tebu terlalu manja untuk ditanam pada lahan, karena memerlukan perlakuan khusus, pun tak mau berbaur dengan tanaman lain. Akibatnya, pembabatan dan pembakaran hutan demi membuka lahan sawit membabi buta, sehingga justru menyebabkan emisi karbon besar-besaran.

Indonesia sempat dituding sebagai biang kerok global warming saat banyak kebakaran hutan terjadi. Banjir tak terelakkan. Ekosistem fauna pun tak lagi lestari. Bahkan ada temuan baru yang menyatakan bahwa kadar nitrous oxide (N2O) yang dihasilkan oleh biofuel atau biodiesel dari kanola, tebu, kedelai, maupun jagung justru dapat memperparah efek global warming.

Selain itu produksi yang dihasilkan jauh lebih sedikit daripada bahan yang digunakan. Jagung memproduksi bioetanol sebanyak 6.000 liter per hektar per tahun, singkong 2.000 liter, biji sorgum 4.000 liter, sedangkan jerami padi, dan ubijalar 7.800 liter. Ada tanaman yang lebih potensial dan produktif dibanding lainnya, yakni pohon aren atau enau, yang ternyata banyak tumbuh di Indonesia.

Aren memproduksi 40.000 liter ethanol per hektar per tahun. Selain itu, tanaman jenis palma ini memiliki segudang kelebihan yang tak tertandingi. Aren bisa tumbuh subur di tengah pepohonan lain dan semak-semak, di dataran, lereng bukit, lembah, dan gunung hingga ketinggian 1.400 meter dari permukaan laut, jadi tak perlu membabat hutan. Selain itu, akarnya yang bisa mencapai kedalaman 6–8 meter ini bisa menahan erosi, serta sangat efektif menarik dan menahan air.

Keuntungan lain, tanaman yang notabene merajai tanah Indonesia ini tidak membutuhkan pemupukan dan tidak terserang hama ataupun penyakit yang mengharuskan penggunaan pestisida sehingga aman bagi lingkungan. Tidak seperti singkong dan tebu yang dipanen 3-4 bulan sekali, aren dapat dipanen sepanjang tahun. Menurut Kepala Bagian Jasa Iptek Puslit kimia LIPI, Dr. Hery Haeruddin, dalam satu hektar tanah bisa ditanami 75-100 pohon. Satu pohon aren mampu menghasilkan hingga 20 liter nira per hari. Sedangkan untuk menghasilkan satu liter bioetanol diperlukan sekitar 15 liter nira. Tanaman jenis palma ini produktif hingga 6-8 tahun.

Mulanya aren hanya dianggap sebagai tanaman liar yang banyak tumbuh di sekitar hutan dan hanya dimanfaatkan oleh penduduk sekitar. Namun semenjak disadari bahwa aren merupakan komoditas potensial yang juga mampu mengeruk keuntungan besar, aren mulai dibudidayakan dalam skala besar untuk sektor industri. Pemanfaatan lahan kritis mulai dimaksimalkan.

Para investor pun mulai berdatangan, baik asing maupun dalam negeri, misalnya PT Halmahera Enginering, PT Molindo Raya Industrial, Sugar Group Company (SGC), PT Tirtamas Majutama, dan masih banyak lagi perusahaan yang menilai aren sebagai peluang yang amat potensial.

“Beberapa investor dari Kanada, Amerika Serikat, dan Brasil siap mendanai. Bahkan, negara-negara itu siap membeli produksi bioetanol kita. Jadi, kalau di dalam negeri tidak ada yang mau membeli, tidak perlu khawatir karena pasar luar negeri sudah menunggu dan siap memborong produk bioetanol kita,”

Untuk membangun satu pabrik bioetanol dengan kapasitas 500 ton per hari diperlukan investasi sekitar US$ 17 juta. Jika industri ini maju pesat, masalah pengangguran pun dapat teratasi. Sejauh ini, permintaan dunia terhadap biofuel belum terpenuhi maksimal lantaran ketersediaan bahan yang masih sedikit. Padahal permintaan pasar cukup besar dan tak terbatas, terutama di wilayah Amerika dan Uni Eropa yang paling boros pemakaian bahan bakarnya.

Saat ini harga bersih ethanol di pasaran dunia berkisar antara 1.15- 1.30 dolar per galon. Maka, jika Indonesia memanfaatkan peluang ini untuk memenuhi kebutuhan biofuel dunia, tak diragukan lagi bahwa negara kita akan panen devisa.

Gitu deh…
Sumber: www.kabarindonesia.com
Penulis: Arien Tw

Senin, 12 Oktober 2009

ABORSI HARUS DICEGAH

Pengantar:
Ini tulisan mas Theo yang saat ini sedang getol studi psikologi. Topiknya menarik, tentang aborsi ditinjau dari efek psikologis.

Ada kejutan dalam tulisan ini, yaitu terungkapnya data tentang jumlah kasus aborsi di Indonesia yang ternyata sangat tinggi, menelan hampir sepertiga jumlah seluruh kasus aborsi dunia. Wow…


Judul: Aborsi Harus Dicegah!
Oleh: Theo (Theodorus)

Ketika kita mendengar kata aborsi, apa yang kita pikirkan? Aborsi sekarang bukan lagi merupakan topik yang enggan dan tabu untuk dibicarakan. Sekarang, kita hidup di zaman yang mengagung-agungkan kebebasan. Bahkan sampai ke tingkat ekstrim; Aborsi yang dahulunya sama sekali ditolak, sekarang telah menjadi alternatif bagi mereka yang menginginkan seks tanpa dibebani masalah membesarkan anak. Sementara di sisi lain banyak orang yang sangat menginginkan anak dan telah mencoba dengan berbagai macam cara untuk mendapatkan anak itu, misalnya dengan cara terapi hormon atau bahkan bayi tabung dsb. Namun demikian, lebih banyak orang yang menganggap bahwa anak adalah beban hidup yang harus dihilangkan.

Tulisan ini, dengan metode komparatif argumentatif akan mencoba menerangkan mengapa pencegahan aborsi merupakan hal yang mutlak diperlukan. Untuk tujuan itu, tulisan ini membatasi diri pada efek psikologis dari aborsi, karena efek medisnya sudah cukup kentara. Misalnya saja kerusakan serviks, kanker rahim, rusaknya indung telur, dan banyak kerusakan-kerusakan lain yang sulit diperbaiki begitu kerusakan ini terjadi. Oleh karena itu tulisan ini akan membahas definisi aborsi, penyebab atau pendorong terjadinya, serta efek-efek psikologis aborsi yaitu kehilangan harga diri, mimpi buruk tentang bayi, teriak histeris, mencoba bunuh diri, memakai narkoba dan tidak bisa lagi menikmati hubungan seksual, yang akan dibahas lebih dalam lagi.

Menurut definisi WHO, aborsi yang tidak aman adalah , ”penghentian kehamilan yang tidak diinginkan yang dilakukan oleh tenaga tidak terlatih, atau tidak mengikuti prosedur kesehatan, atau kedua- duanya (dalam Januar,2007). Jika memang demikian, adakah aborsi yang aman? Supadmiati (2007) berpendapat bahwa proses aborsi beresiko sangat tinggi bagi si Ibu, baik aborsi dilakukan sendiri atau dengan pertolongan orang lain. Meski dengan bantuan medis yang aman, aborsi tetap berdampak pada kerusakan rahim, pendarahan hingga kematian.Lebih–lebih secara psikis, ibu akan dihantui rasa bersalah dan berdosa sepanjang hidupnya (Supadmiati,2007). Dari sini, dapatlah diketahui bahwa bagaimanapun juga, aborsi tidaklah aman secara medis fisik maupun secara mental psikologis.

Namun ironisnya, aborsi tampaknya sedang menjadi trend di Indonesia. Menurut perkiraan WHO, ada 4,2 juta aborsi dilakukan per tahun, 750.000-1,5 juta dilakukan di Indonesia, 2.500 orang diantaranya berakhir dengan kematian (dalam Januar, 2007).

Telah ada banyak tulisan dan buku- buku yang ditulis mengenai aborsi. Selain beberapa buku yang lebih mementingkan ‘toleransi’ daripada keselamatan aktual, sebagian besar setuju bahwa aborsi membawa efek buruk bagi pelakunya, baik secara fisik maupun mental. Akan tetapi, semuanya itu tidak mengurangi minat keliru masyarakat pada aborsi. Apakah penyebabnya? Mengapa ada kaum feminis yang, “menerima bahwa fetus adalah manusia, tetapi bila bayi tidak dikehendaki, itu karena bayi bagaikan pencuri yang masuk ke rumah Anda…” (Danes, S., Christopher, D.,2000), sehingga secara eksplisit mengijinkan terjadinya abosi ‘bersyarat’? Bukan hanya itu saja, Teichman (1998) dalam buku Etika Sosial menulis, “Di Barat aborsi memang tidak diterima sebagai metode pembatasan kelahiran, tetapi diterima sebagai sandaran kalau kontrasepsi gagal. Aborsi juga tidak dibela sebagai cara mengekang pertumbuhan populasi, sebagaimana lazimnya, meskipun ada juga efeknya dalam rata- rata kelahiran.

…, sejauh mereka melihat pembatasan kelahiran sebagai gagasan yang baik, mereka menganggapnya sebagai terutama relevan bagi orang – orang yang hidup untuk kesejahteraan.” (Teichman,1998). Semua ini menunjukkan, bahwa aborsi telah menjadi budaya yang menduia walaupun hal itu tidak diakui.

Ada 3 penyebab dan pendorong terjadinya aborsi yaitu: Berkurangnya bahaya kematian akibat aborsi karena kemajuan teknologi, membuat orang yang dulunya tidak melakukan aborsi karena takut mati, kini mempertimbangkannya sebagai jalan pintas.

Jika ada orang yang mau melakukan aborsi, tetapi tidak ada dokter atau bidan dan dukun beranak yang mau melakukannya, abosi tidak akan terjadi. Oleh karena itu, dokter, bidan dan dukun itu juga mempunyai andil besar dalam pengaborsian. Aborsi hanya bisa terjadi jika orang- orang seperti mereka melupakan sumpahnya dan mau melanggar HAM.

Adanya media massa dan Internet yang mendorong terjadinya pergaulan bebas diantara remaja merupakan faktor yang besar. Menurut Nadesul (2008) dalam bukunya Cara Sehat Menjadi Perempuan, aborsi disebabkan karena pergaulan semakin banyak yang berbuah kehamilan yang tidak diinginkan walaupun tindakan aborsi sendiri tidak dilegalkan (Nadesul,2008).

Jikalau efek fisik aborsi tidak terlalu terasa ataupun diperhatikan karena efeknya terhitung sementara, efek psikologis aborsi bisa membuat si ibu menjadi gila. Ini adalah akibat seumur hidup yang dirasakan baik oleh ibu yang melakukan aborsi terpaksa, dimana janin dikorbankan untuk menjaga nyawa ibu, maupun oleh mereka yang melakukan aborsi konsensual atau aborsi sukarela. Biasanya ibu yang aborsinya terpaksa lebih berkemungkinan sembuh daripada yang melakukan aborsi sukarela.

Seperti yang telah disebutkan, efek psikologis aborsi antara lain: Kehilangan Harga Diri: Orang yang tidak melakukan aborsi umumnya mempunyai citra diri yang lebih positif dibandingkan orang yang pernah melakukan aborsi. Jika hal ini diketahui umum, akan ada sanksi sosial berupa penggunjingan dan pengucilan Walaupun aborsi itu tidak diketahui oleh orang lain, orang yang melakukannya akan memandang rendah dirinya sendiri karena aib pembunuhan bayi yang dilakukannya itu. Orang yang tidak melakukan aborsi mungkin memang akan mengalami masa-masa sulit. Akan tetapi, jika ada dukungan dari keluarga dan tanggung jawab dari kedua belah pihak, baik pria maupun wanita, pada akhirnya jika mereka berhasil melewati masa sulit tersebut, mereka boleh merasa bangga karena tidak banyaklah orang-orang yang berhasil seperti mereka.

Mimpi Buruk Tentang Bayi: Orang yang tidak melakukan aborsi umumnya tidak mengalami mimpi buruk semacam ini. Mimpi ini dialami oleh mereka yang melakukan aborsi, terutama dari pihak ibu karena hati nuraninya yang merasa bersalah. Walaupun secara sadar ibu telah menggunakan segala macam rasionalisasi yang termasuk tetapi tidak terbatas pada alasan kondisi ekonomi, bawah sadar ibu itu belum dapat memaafkan dirinya sendiri, mimpi itu bisa muncul sebagai pelampiasan dari bawah sadar. Sementara orang yang tidak melakukan aborsi dapat tidur dengan nyenyak dan tenang, orang yang melakukan aborsi tidak bisa tenang, bahkan dalam keheningan mimpinya.

Teriak Histeris: Ini adalah bentuk lain dari pelampiasan bawah sadar. Sekali lagi, ini hanya dilakukan oleh orang yang pernah melakukan aborsi, sedangkan yang tidak melakukannya tidak mengalami hal ini.

Mencoba bunuh diri dan memakai narkoba: Ada banyak alasan mengapa orang menggunakan narkoba dan mencoba bunuh diri. Bagi pelaku aborsi, alasannya masih berkaitan dengan hilangnya harga diri mereka. Bukan saja masnyarakat umum yang merendahkan dan mencela mereka, merekapun tidak lolos dari penghakiman nurani mereka sendiri. Mereka merasa begitu bersalah sehingga mereka merasa pantas mati. Mereka menganggap kematian mereka dapat menebus kesalahan mereka dan menghindarkan diri mereka dari tuntutan hati yang terus mengejar mereka.

Pertanyaannya sekarang, apakah pelaku aborsi itu ingin mati dengan cepat atau lambat? Jika ingin mati secara cepat, mereka akan bunuh diri; misalnya dengan menggantung diri, minum Baygon, lompat dari ketinggian dan lain sebagainya. Sedangkan yang memilih mati secara lambat dan ‘enak’ mengambil jalan mati karena kelebihan dosis narkoba. Itu semua tidak akan terjadi bila orang masih mempunyai harapan. Selama harapan masih ada, semangat hidup terus berkorbar. Orang yang hamil tetapi tidak melakukan aborsi, tidak dibebani oleh rasa bersalah yang tak tertahankan itu. Orang itu akan berusaha hidup untuk bayi yang dikandungnya. Karena bayi itulah ibu tetap hidup.

Tidak Bisa Lagi Menikmati Hubungan Seksual: Mungkin inilah efek jangka panjang yang paling terasa bagi pelaku aborsi. Trauma yang disebabkan karena aborsi menghalangi mereka untuk menikmati hubungan seksual di kemudian hari, meskipun peristiwa aborsi itu sudah berlangsung bertahun-tahun yang lalu. Pelaku merasa tidak suci atau menjadi frigid karena pengalaman masa lalunya itu. Dalam suatu pernikahan yang bahagia, tak pelak lagi hubungan seksual memegang peranan yang sangat penting, walaupun tidak bisa dikatakan bahwa tujuan seseorang menikah semata-mata hanya demi hubungan seksual. Maka dari itu, orang yang tidak melakukan aborsi mempunyai potensi rumah tangga bahagia yang lebih besar daripada orang pelaku aborsi.

Sebagai penutup tulisan ini, ijinkan penulis menekankan sekali lagi bahwa aborsi harus dicegah! Melakukan aborsi membawa kesenangan sesaat. Seakan-akan dengan melakukannya, masalah yang kita hadapi lenyap saat itu juga. Rasanya kita tidak perlu lagi mengurus hal remeh dan tidak usah bertanggung jawab apa-apa.

Tidak melakukan aborsi kelihatannya sangat menyusahkan dan merepotkan. Akan tetapi ingatlah! Kesenangan dan kesusahan itu hanya sementara saja. Pelaku aborsi akan mengalami penderitaan seumur hidupnya, sedangkan orang yang tidak melakukan aborsi bukan saja menjaga kesehatannya secara fisik, tetapi juga dapat memperoleh kebahagiaan batin selama- lamanya!

Selesai.

Gitu deh...

Jumat, 02 Oktober 2009

KAKUS

Papi RH:
Kata Indonesia / Jawa "kakus" berasal dari kata Belanda "kakhuis", "kak" adalah kata kasar = tahi, dan "huis" = rumah!

Orang Belanda dan Eropa umumnya menamakan kakus itu WC, sebenarnya kata Inggris water closet, yang artinya semula ialah tempat mengosongkan usus besar di mana dipakai air untuk mengguyur kotoran keluar dari 'panci' ("pan").

Pemisah antara kotoran dan ruangan ditutup oleh air (dengan alat "gulu banyak" pada unit tempat duduk, bukan tempat berjongkok!!!).

Kenapa orang Eropa tidak buang air di luar spt di Indonesia, dan tidak jongkok tetapi duduk? Pertama, udaranya dingin betul, jadi berjongkok lama di pinggir kali tidak pernah terjadi, dan duduk dianggap lebih enak. Itu sebabnya dalam bhs Inggris kata "stool" (juga Jerman "Stuhl" dan Bld "stoel") berarti kursi atau tahi!!!

Sekarang hampir di semua permukiman desa dan kota di dunia Barat ada yang dinamakan sewerage system, yaitu sistem yang membawa air kotor / cairan kotor keluar dari rumah, jauh tersembunyi di bawah tanah (tidak spt di Indonesia di mana selokan dibiarkan terbuka, untung cuma cairan ringan yang dibuang!!!

Di jaman sebelum perang dunia II di negeri Belanda juga masih ada sistim "jumbleng", dalam bhs Inggris istilahnya "thunderbox", kotak yang kadang-kadang menggema dengan bunyi geledeg tertentu!!!

Syukurlah sekarang ini semua kamar kecil sudah sebegitu mungil dan ada di dalam rumah (di th 50'an di Aus pun rumah kecil biasa berada agak jauh dari rumah pokok). Di banyak stasiun di Eropa sekarang semuanya serba otomatis, air mancur sendiri kalau tangan anda anjungkan di dekat kran, atau kalau selesai buang air pengguyuran terjadi secara automatis.

Ada hal lain lagi yang menarik?
Bagaimana dengan membersihkan diri setelah buang air besar? Ada yang bagus, di hotel-hotel di Italia bidet (diucapkan bidé) tersedia di kamar kecil, kran menengadah di taruh di tempat strategis, sehingga kita bisa merasa bersih setelah berhajat besar.
Macem-macem aja!


Papilon:
Pi, di tanah air beta biasa lho tisue untuk toilet "dihidangkan" di restoran.

Piye jal?

(dari Papyrus, majalah elektronik)

Rabu, 30 September 2009

BENDERA SETENGAH TIANG

Hari ini, adalah tanggal 30 September 2009. Pada masa lalu, pada era pemerintahan Presiden Suharto, setiap tanggal 30 September instansi Pemerintah dan warga masyarakat, mengibarkan bendera setengah tiang.

Kalau dikaitkan dengan peristiwa G30S, maka pada tanggal 30 September 1965, para Pahlawan Revolusi masih dalam keadaan sehat walafiat.

Tragedi apakah gerangan, yang pernah terjadi pada tanggal 30 September, sehingga perlu diperingati dengan bendera setengah tiang? Mungkin ada yang bisa memberikan pencerahan? Demikian tanya pak Jacky Mardono disuatu milis yang saya ikuti.


Pada tanggal 30 September ya tidak ada tragedi apa2 yang perlu diperingati dengan bendera setengah tiang. Kalau tanggal itu kemudian diperingati ya sama aja bo’ong. Dan itu barangkali memang bo’ong. Nyatanya setelah era reformasi, setelah Pak Harto mengundurkan diri, Bendera Merah Putih setengah tiang pada setiap 30 September dan juga setiang penuh pada keesokan harinya tanggal 1 Oktober, tak lagi wajib dipasang di depan rumah. Tak ada lagi pemutaran film "Pengkhianatan G30S. Ya, setelah Reformasi segalanya menjadi terbuka…

Tahun 1965, pada tanggal 01 Oktober dinihari di Jakarta ada pembunuhan terhadap enam Jenderal, satu perwira, dan satu polisi. Di Yogyakarta ada pembunuhan terhadap dua perwira. Jadi, ada 10 korban jiwa. Tapi dalam hitungan 2-3 bulan setelah itu terjadilah pembantaian besar-besaran. Jadi bila adil mungkin pengibaran bendera “setengah tiangnya” nya bahkan harus sampai tiga bulan penuh. Lho?

Jumat, 25 September 2009

TEH HITAM, BIKIN Mr.P KERAS KEPALA

Lurs, ini ada tulisan menarik tentang teh hitam, buah pena (buah keyboard?) Sdr. Dharnoto yang dimuat di majalah Intisari edisi September 2009. Semoga ini bermanfaat.

Judul: "TEH HITAM, BIKIN Mr.P KERAS KEPALA"

Rajin minum teh hitam diakui bisa mencegah dan mengobati diabetes mellitus sebab ia bisa berfungsi sebagai pengganti insulin. Dampak lanjutannya, tentu saja masalah gangguan ereksi dan ejakulasi bisa ikut membaik. Mirip kata pepatah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Kesegaran teh telah dikenal di China sejak 3000 SM, pada zaman kaisar Shen Nung. Sedang di Jepang merebak sekitar abad ke 12 - 14, pada masa Kamakaru. Rohayati Suprihatini, pada situs Pusat Penelitian Teh dan Kina, Bandung, menulis bahwa teh hitam merupakan jenis teh yang paling banyak diminum oleh bangsa2 di dunia. Dari total konsumsi teh dunia pada 2007 yang mencapai 3,4 juta ton, 69% nya berupa teh hitam.

Dibilang teh hitam lantaran warna daunnya menjadi hitam setelah teroksidasi. Padahal, saat diseduh warna airnya kemerahan, maka disebut juga teh merah. Hingga kini, diyakini teh hitam lebih teroksidasi dibandingkan dengan teh hijau, teh oolong, ataupun teh putih. Hebatnya, beda dengan jenis teh lainnya, rasa teh hitam bisa awet sampai beberapa tahun.

Harus muda dan utuh

Teh hitam dibuat dari pucuk daun teh segar, yang dibiarkan layu sebelum digulung. Lalu dipanaskan dan dikeringkan. Mengapa harus pucuk daun teh muda dan utuh? Karena masih optimal mengandung komponen bioaktif teh, yakni polifenol yang senyawa dominannya adalah catechin.

Menurut Archieve of International Medicine, kemampuan polifenol menangkap radikal bebas mencapai 100 kali lebih efektif dibandingkan dengan vitamin C dan 25 kali lebih efektif dibandingkan dengan vitamin E. Pusat Jantung Nasional RS Jantung Harapan Kita, Jakarta (RSJHK) juga pernah memaparkan hasil penelitiannya bahwa catechin dalam teh hitam mampu melawan penyakit degeneratif. Sedangkan senyawa theaflavin dalam teh merupakan senyawa antioksidan, antikanker, antimutagenik, dan antidiabetes.

Bagaimana kekuatan itu terbentuk? Dalam proses fermentasi yang dilakukan terhadap teh hitam, antioksidan catechin berubah menjadi theaflavin yang menyebabkan rasa teh hitam menjadi segar dan kemerahan. Setelah perubahan itu, sepak terjang theaflavin sebagai antioksidan setingkat bahkan lebih andal ketimbang catechin sendiri.

Pada 2003, Prosenjit dan Sukta membuktikan, daya sergap theaflavin terhadap radikal bebas lebih hebat dibandingkan dengan epigallo catehcin (EGCG), salah satu jenis catechin. Malah digunjingkan, theaflavin mampu meningkatkan antioksidan alami dalam tubuh. Satu hingga dua cangkir teh hitam per hari juga bisa menghambat penimbunan kolesterol sampai 46%. Sedangkan empat cangkir teh hitam berkhasiat menekan sampai 69%.

Berkah penderita diabetes

Teh hitam juga diyakini mampu menjadi sumber bahan pangan alami bagi para penderita diabetes, terutama dalam kapasitasnya untuk menaikkan aktivitas insulin. Penelitian Departeman Pertanian Amerika Serikat (USDA), yang dipublikasikan dalam journal Agric Food Chem 2002, menunjukkan kemampuan teh hitam dalam meningkatkan aktivitas insulin melebihi teh hijau dan teh oolong.

Bahkan, penelitian USDA’s Agriculture Research Service, Beltsville membuktikan teh hitam mampu menaikkan efektivitas insulin sampai 15 kali, sehingga teh hitam sangat bermanfaat untuk mengatasi diabetes dan berbagai komplikasi yang diakibatkannya, termasuk terjadinya katarak, impotensi, dan ejakulasi dini.

Penelitian Wang Dongfeng (1996) juga menunjukkan manfaat teh dalam mengobati diabetes. Hasil penelitian tersebut menyatakan kadar polisakarida (CTPS) pada teh berpengaruh nyata terhadap pengurangan gula darah dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Polisakarida pada teh memiliki karakteristik sebagai berikut: berberat molekul 107.000; dapat terdegradasi pada pH antara 5,0 - 7,0; larut dalam air panas; dan tidak larut dalam pelarut organik.

Pada manusia sehat, teh hitam mampu menurunkan kadar gula dalam darah dan meningkatkan kadar insulin. Oleh karenanya, teh hitam mampu mencegah terjadinya penyakit diabetes mellitus pada mereka yang berisiko tinggi terkena, baik akibat faktor genetik maupun pola hidup, khususnya pola makan.

Pada Februari 2008, Aging Cell Journal menerbitkan hasil penelitian terbaru yang dilakukan para peneliti di bawah pimpinan Graham Rena, dari Neurociences Institute, Ninewells Hospital and Medical School, University of Dundee, Skotlandia. Dunia kesehatan terhentak oleh hasil studi ini. Disebutkan, theavlin dan tearubigin dari teh hitam dapat meniru kerjaa insulin dalam mengendalikan diabetes. Theaflavin yang diidentifikasi meniru kerja insulin tersebut adalah teaflavin 3 - O - gallate, theaflavin 3’ -
O - gallate, dan theaflavin 3,3’- O - gallate.

Membantu ereksi

Para diabetisi sepertinya memang bisa berharap banyak pada teh hitam. Begitupun penderita penyakit komplikasinya, seperti impotensi atau ejakulasi dini. Seperti diketahui Low Density Lipoprotein (LDL) adalah kolesterol jahat yang menumpuk di dinding pembuluh darah koroner atau otak. Gumpalan ini membutuhkan radikal bebas untuk mengubahnya menjadi karat lemak aterosklerosis. Karat lemak ini yang bakal menyumbat pipa pembuluh darah jantung, otak, ginjal, mata, atau organ tubuh lainnya.

Selain dapat mengakibatkan serangan jantung dan stroke, pada penderita diabetes mellitus karat lemak juga bisa menyumbat pembuluh darah yang amat kecil, seperti pembuluh darah mata dan organ vital lelaki. Maka, yang amat ditakuti kaum diabetesi adalah penyakit kebutaan dan disfungsi ereksi.

Nah, theaflavin menyokong terbentuknya pasukan antioksidan alami dalam tubuh. Antioksidan ini pula yang bergerilya menghambat oksidasi gerombolan kolesterol jahat itu. Akibatnya, gerombolan itu gagal membentuk karat lemak. Pasokan darah pun akan mengalir lancar tanpa gangguan sampai ke tujuan.

Penelitian terhadap “prajurit komando” theaflavin ini dilakukan beberapa negara dalam waktu berbeda. Di Rotterdam, Belanda, telah diobservasi peran theaflavin dalam menurunkan tingkat keparahan aterosklerosis aortic. Di AS, suatu studi di Boston membuktikan, mereka yang setiap hari minum secangkir teh hitam (200 - 250 ml) atau lebih, terancam resiko serangan jantung 50% dibandingkan dengan yang tidak minum teh.

Orang Jepang tak mau kalah. Seribu orang mengaku, kadar kolesterol di tubuh mereka semakin berkurang ketika semakin sering menenggak the. Bahkan, pakar neurology Toholu University School of Medicine, Dr. Yoshikazu Sata, menekankan pentingnya antioksidan dalam menjaga kesehatan pembuluh darah dan mencegah stroke. Pendapat ini diperkuat Dr. Ralph Sacco dari Nothern Manhattan Stroke Study di Columbia Presbyeterian Medical Center, New York. Ralph menyatakan, teh hitam mampu mencegah penyumbatan arteri.

Jika pembuluh arteri telah bebas hambatan, apa manfaatnya bagi para lelaki? Berarti darah dengan lancar mengalir dari arteri pudenda interna menggelontor masuk ke tiga bagian dari penis, yakni korpus kavernosa kiri kanan dan korpus spongiosum. Yang ke korpus kavernosa kiri kanan masuk melalui arteria kavernosa atau arteria bulbouretralis. Dengan lancarnya aliran darah itu, lancar pula proses ereksi Mr. P.

Arteria yang memasuki korpus kavernosa lalu bercabang cabang menjadi arteriol2 helicina yang bentuknya berkelok kelok pada saat penis lembek atau tidak ereksi. Pada keadaan ereksi, arteriol artertiol helicina mengalami relaksasi atau pelebaran pembuluh darah, sehingga aliran darah bertambah besar atau cepat, kemudian berkumpul di dalam rongga2 lakunar atau sinusoid. Rongga sinusoid membesar sehingga terjadi ereksi.

Penulis: Dharnoto, di Tangerang
Intisari September 2009.

(Terlepas dari bener apa tidak, kan sudah disebut sumbernya Intisari.
Jadi kalau udah dimuat majalah beken, ya boleh 80% percaya gitu. Alias bukan isapan jempol. Jempole dewe dewe lho. dan bukan Mr P lho. Gitu deh...)

Senin, 21 September 2009

TIMBA JADUL


Alat timba, kerekan, tali dan ember ini merupakan alat tradisional yang sudah ada sejak jaman Majapahit, untuk mengambil air bersih dari dalam sumur. Kedalaman sumur menentukan panjangnya tali yang dibutuhkan.

Kerekan terbuat dari besi atau baja cor. Talinya terbuat dari karet bekas ban mobil. Dan ember biasanya terbuat dari seng.

Jaman dulu, ketika pompa air listrik belum dikenal, timba dengan tali dan kerekan inilah yang dipakai oleh Pak Kromo untuk mengambil air dari sumur. Ya, Pak Kromo punya tugas spesial, setiap hari harus menimba air untuk mengisi bak mandi di rumah. Setiap hari menimba dan “bermain” air hingga telapak tangannya “kapalen” dan telapak kakinya terkena “rangen”, kena kutu air. Begitupun pak Kromo selalu senyam senyum. Tapi ya nggak jelas diiing, itu senyuman atau pringisan kesakitan.

Gitu deh…

Kamis, 17 September 2009

LAUNDRY


Yogyakarta dikenal dengan sebutan Kota Pelajar. Banyak pemuda pemudi dari berbagai penjuru tanah air menuntut ilmu di Yogyakarta. Bila gelar sarjana telah diraih, ada yang kembali ke kampung halaman membangun daerahnya, ada pula yang mencari peruntungan ke kota besar.

Namun ada yang tetap bertahan di Yogyakarta. Jimmy Hendrawan satu diantaranya. Pemuda, 29 tahun asal Klaten ini memilih membuka usaha di Yogyakarta. Dan pilihannya jatuh pada usaha laundry. Ini semata-mata berdasarkan pengalamannya semasa kuliah dan tinggal di pondokan.

Usaha laundry, pria lulusan Universitas Atma Jaya ini dijalankannya di kawasan Seturan, Sleman, tak jauh dari kampusnya dulu.

Jimmy memulai usahanya satu setengah tahun lalu, dengan modal sekitar 50 juta rupiah yang digunakan untuk membeli beberapa unit mesin cuci otomatis dan sebuah mesin pengering ukuran jumbo.

Sisanya untuk sewa bangunan dan menambah daya listrik. Usahanya yang membidik pelanggan mahasiswa ini terbilang sukses. Pilihan usahanya tidak salah. Ia bisa meraih keuntungan 15 sampai 25 persen dari modal awalnya setiap bulan. Kini Jimmy mampu mempekerjakan 12 orang karyawan yang digaji sekitar 400 ribu rupiah setiap bulannya.

Masih di bilangan Seturan Sleman, Hariyanto, yang juga alumnus Universitas Atma Jaya Yogyakarta, juga menjalankan usaha serupa. Lelaki berusia 25 tahun asal Cilacap, Jawa Tengah ini, baru beberapa bulan lalu mendirikan gerai laundry. Bersama seorang temannya, ia juga melihat peluang besar di usaha ini.

Bukan hanya Jimmy dan Hariyanto yang memiliki usaha laundry di Yogyakarta. Dalam lima tahun terakhir ini bisnis laundry menggeliat seiring dengan perubahan gaya hidup mahasiswa di kota ini.

Dengan alasan kesibukan kuliah, para mahasiswa menyerahkan urusan mencuci pakaian kepada penyedia jasa laundry. Gerai-gerai laundry seperti ini tumbuh menjamur di berbagai tempat yang berdekatan dengan kampus dan lokasi pondokan mahasiswa.

Harga bisa menjadi alasan lain buat mahasiswa untuk memanfaatkan jasa laundry. Karena tarif yang ditawarkan sesuai dengan kantong mereka. Kebanyakan menggunakan sistem kiloan, dalam penentuan tarif. Ada yang 10 ribu rupiah untuk setiap 4 kilogram. Ada yang 6 ribu rupiah setiap 3 kilogram pakaian. Tarif ini betul-betul tarif mahasiswa.

Selain sistem kiloan, ada sebagian pengelola laundry menerapkan tarif konvensional tetapi tetap disesuaikan dengan pelanggannya yakni mahasiswa. Kemeja atau kaos lengan pendek misalnya, cuman dikenakan 300 rupiah perpotong. Celana panjang 700 rupiah atau celana jeans 1000 rupiah perpotong. Sebagian gerai bahkan ada yang menerapkan sistem paket.

Dengan uang 30 ribu rupiah, pelanggan dapat mencuci hingga 50 potong pakaian selama dua bulan. Namun meski terbilang murah dan terjangkau, tidak semua mahasiswa memanfaatkan laundry ini. Hanya disaat-saat tertentu mereka terpaksa membawa pakaian kotor ke laundry.

Masa ujian dan saat musim hujan adalah saatnya pengelola laundry mengambil untung. Saat itu banyak mahasiswa mengantri di gerai-gerai laundry. Namun di saat liburan kuliah, usaha laundry sementara ditinggalkan pelanggannya.

Meski terhitung banyak yang mengelola usaha laundry di Yogyakarta, namun usaha ini masih memiliki prospek yang cerah. Gaya hidup mahasiswa Yogyakarta yang dinamis sulit untuk meninggalkan laundry. Masih ada peluang bagi mereka yang memiliki naluri berbisnis.

Lha kalau laundry jadul lain lagi. Tidak menggunakan mesin cuci melainkan cukup pakai "gilesan" dan digarapnya di kali atau di sumur timba. Sabunnya..., sabun batangan cap tangan. (Berbagai sumber).

Rabu, 16 September 2009

KOMIK

Tokoh Superhero dalam komik seperti Godam Si Manusia Baja, Gundala Putra Petir, Panji Tengkorak, Wiro hingga Si Buta Dari Gua Hantu, begitu populer di masa lalu. Tokoh-tokoh itu pada tahun 70-an sangat dikenal anak-anak setingkat SMP dan SMU.

Taman-taman bacaan yang bisa melayani pembaca komik, bermunculan dimana-mana. Namun kini, semua itu hanya tinggal kenangan. Komik yang dulu dicari-cari penggemarnya, kini menjadi barang langka. Keberadaannya tergantikan komik-komik Saduran asal Jepang , Eropa hingga Amerika.

Komik di Indonesia, mulai dikenal pada tahun 1930. Pertama kali muncul dalam bentuk komik strip di surat kabar Melayu-Cina, Sinpo. Barulah pada tahun 1950-an, komik beredar dalam bentuk buku. Saat itu pula beredar bermacam-macam tema cerita, mulai dari Superhero, Silat, Kisah Petualangan, Humor, hingga cerita pewayangan Mahabarata dan Ramayana, yang melejitkan nama pengarangnya, RA Kosasih.

Memasuki tahun 1960-an, meluncur komik asal Medan, dengan setting cerita rakyat. Taguan Hardjo, salah satu komikus yang berhasil membuat karya-karyanya dikenal banyak orang. Sebut saja Hikayat Musang berjanggut, Kapten Yani dan Perompak Lautan Hindia. Diikuti kemudian dengan beredarnya komik politik, yang membawa pesan-pesan propaganda.

Akhir tahun 1965, posisi komik politik tergantikan komik roman remaja yang menyorot kehidupan remaja Metropolitan saat itu. Komikusnya antara lain, Jan Mintaraga,Sim, dan Zaldy.

Kehadiran komik roman remaja ini sempat menimbulkan keresahan masyarakat, pasalnya sebagian besar berisi adegan percintaan. Popularitasnya kemudian menurun seiring dengan razia yang dilakukan polisi di sekolah-sekolah.

Tak lama, muncullah komik Superhero gelombang kedua. Beberapa karya yang cukup fenomenal antara lain, Si Buta Dari Gua Hantu-nya Ganes TH, Panji Tengkoraknya-nya Hans Jaladara, dan Jaka Sembung-nya Djair. Di mata masyarakat, karya-karya komik lokal saat itu dinilai sangat bagus.

Pembacanya pun tak mengenal usia, hampir semua kalangan ikut membaca. Menjamurnya taman-taman bacaan rakyat yang menyewakan komik, menjadi tolak ukur popularitas komik lokal waktu itu. Komik pun menjadi tambang emas bagi penerbit dan pengarangnya. Di pasaran beredar 250-an komikus, dan 15 komikus mampu memproduksi 20 judul dalam jangka waktu bersamaan.

Memasuki tahun 1980, komik lokal mulai menghilang dari peredaran . Sementara terjemahan komik Amerika, Eropa dan Jepang, wara wiri di pasaran. Penerbit besar pun merajai bisnis ini, sedang penerbit kecil, semakin tenggelam berbarengan dengan surutnya pamor komik lokal. Penggemar komik, tak lagi didominasi kalangan bawah, namun sudah merambah kaum gedongan. Penyebab lain pudarnya pamor komik lokal, kualitas gambar, dinilai kalah menarik dibanding komik impor.

Kondisi ini membuat prihatin kalangan pencinta komik. Ada semacam kerinduan dari beberapa penggemar komik masa lalu, yang ingin kejayaan komik lokal hidup kembali. Komik Indonesia dotcom misalnya, dengan berbagai strategi berusaha membangkitkan kembali pasar komik lokal.

Selain melakukan hunting komik cetakan lama untuk didata judul dan pengarangnya, tahun terbit dan jumlah halaman, komik Indonesia Dotcom, juga menjadi konsultan penerbitan hingga perencanaan jaringan distribusi.

Komik dengan ejaan lama, misalnya, dicetak ulang dengan ejaan yang telah disempurnakan. Kata-kata yang sudah tak relevan atau kasar, diganti atau dibuang. Dari segi gambar, dilakukan sentuhan ulang atau melalui tusir ulang, agar kualitas cetakan lebih bagus.

Beberapa komik yang telah dicetak ulang, begitu dipasarkan dengan cepat habis terjual. Ini suatu bukti pengemar komik lokal masih ada. Diakui, gaungnya memang belum seberapa, namun setidaknya, angin segar tengah bertiup. Komik lokal, perlahan namun pasti, menata ulang langkah meraih kembali kejayaan yang tengah terenggut.

(Sumber:indosiar.com)

Selasa, 08 September 2009

HARMONIKA KU


Tak diduga tak dinyana, dari tumpukan album foto lawas saya temukan sebuah potret hitam putih bergambar sosok bocah yang sedang main harmonika. Bocah lanang itu berbaju putih model kelasi, bercelana pendek dan bersepatu pantofel, tanpa kaos kaki. Kakinya terlihat kurus dan wajahnya..., jelek. Celakanya, wajah jelek itu ternyata milik saya sendiri. Ya, itu ternyata foto saya kala kira2 usia Taman Kanak2. Dan saya sendiri sekarang baru ingat bahwa sekecil itu sudah bisa memainkan harmonika. lagunya sebangsa "Silent Night" dsb.

Jadi ya pantas saja kalau kemudian sesudah kawak begini saya keranjingan alat musik tiup. Lha wong dari kanak2 sudah seneng main mulut, nyebul, nglamut ataupun ngemut.

Gitu deh...

Dimas Anto

Senin, 07 September 2009

Selamat Jalan Kekasih

Ini lagu lama yang pernah dinyanyikan oleh alm. Chrisye. Sampai sekarang saya suka mendendangkannya, baik menyanyikan maupun melantunkannya dengan saxophone.

Judul: Selamat Jalan Kekasih

Resah rintik hujan
Yang tak henti menemani
Sunyinya malam ini
Sejak dirimu jauh dari pelukan

Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Jangan kau ragu tuk melangkah
Demi masa depan dan segala kemungkinan

Jangan kau risaukan
Air mata yang jatuh membasahiku
Harusnya kau mengerti
Sungguh besar artimu bagi diriku

Selamat jalan kekasih
Kejarlah cita-cita
Walau kini kita berpisah
Suatu hari nanti kita kan bersama lagi
Bersama lagi, kita berdua.

(Notasinya: 5 5... 4 3 2 3 ... 2 1 7 1... 7 1 2 2 dst.)

Gitu deh...

Teh, Minuman Populer di Dunia

Tahukah Anda, teh adalah minuman paling populer di seluruh dunia setelah air biasa ? Aromanya yang harum serta rasanya yang khas membuat minuman ini banyak dikonsumsi. Di Indonesia, konsumsi teh sebesar 0,8 kilogram per kapita per tahun masih jauh di bawah negara-negara lain di dunia, walaupun Indonesia merupakan negara penghasil teh terbesar nomor lima di dunia.

Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok : teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih. Serta lebih dari 3.000 varitas lainnya.

Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari teh.

Teh dikelompokan berdasarkan cara pengolahan. Pengolahan daun teh sering disebut sebagai "fermentasi" walaupun sebenarnya penggunaan istilah ini tidak tepat. Pemrosesan teh tidak menggunakan ragi dan tidak ada etanol yang dihasilkan seperti layaknya proses fermentasi yang sebenarnya. Pengolahan teh yang tidak benar memang bisa menyebabkan teh ditumbuhi jamur yang mengakibatkan terjadinya proses fermentasi. Teh yang sudah mengalami fermentasi dengan jamur harus dibuang, karena mengandung unsur racun dan unsur bersifat karsinogenik.

Ramuan teh
Sebagian besar merek teh yang dijual di pasaran merupakan hasil ramuan ahli teh yang membuat blend yang unik untuk merek tersebut dari berbagai daun teh yang berbeda. Rasa enak dari teh berkualitas tinggi dan berharga mahal biasanya bisa menutupi rasa teh yang berkualitas rendah, sehingga kualitas teh bisa meningkat dan dapat dijual dengan harga yang lebih pantas. Teh hasil ramuan juga menjaga agar rasa teh yang dimiliki merek tertentu tetap stabil sepanjang masa.

Komposisi
Teh mengandung sejenis antioksidan yang bernama katekin. Pada daun teh segar, kadar katekin bisa mencapai 30% dari berat kering. Teh hijau dan teh putih mengandung katekin yang tinggi, sedangkan teh hitam mengandung lebih sedikit katekin karena katekin hilang dalam proses oksidasi. Teh juga mengandung kafein (sekitar 3% dari berat kering atau sekitar 40 mg per cangkir), teofilin dan teobromin dalam jumlah sedikit.

Kemasan
Teh celup
Teh dikemas dalam kantong kecil yang biasanya dibuat dari kertas. Teh celup sangat populer karena praktis untuk membuat teh, tapi pencinta teh kelas berat biasanya tidak menyukai rasa teh celup. Sari Wangi adalah perintis teh celup merek lokal di Indonesia.

Teh seduh (daun teh)
Teh dikemas dalam kaleng atau dibungkus dengan pembungkus dari plastik atau kertas. Takaran teh dapat diatur sesuai dengan selera dan sering dianggap tidak praktis. Saringan teh dipakai agar teh yang mengambang tidak ikut terminum. Selain itu, teh juga bisa dimasukkan dalam kantong teh sebelum diseduh. Mangkuk teh bertutup asal Tiongkok yang disebut gaiwan dapat digunakan untuk menyaring daun teh sewaktu menuang teh ke mangkuk teh yang lain.

Teh yang dipres
Teh dipres agar padat untuk keperluan penyimpanan dan pematangan. Teh pu erh dijual dalam bentuk padat dan diambil sedikit demi sedikit sewaktu mau diminum. Teh yang sudah dipres mempunyai masa simpan yang lebih lama dibandingkan daun teh biasa.

Teh stik
Teh dikemas di dalam stik dari lembaran aluminium tipis yang mempunyai lubang-lubang kecil yang berfungsi sebagai saringan teh.

Teh instan
Teh berbentuk bubuk yang tinggal dilarutkan dalam air panas atau air dingin. Pertama kali diciptakan pada tahun 1930-an tapi tidak diproduksi hingga akhir tahun 1950-an. Teh instan ada yang mempunyai rasa vanila, madu, buah-buahan atau dicampur susu bubuk.

Pengelompokan teh berdasarkan tingkat oksidasi:
Teh putih
Teh yang dibuat dari pucuk daun yang tidak mengalami proses oksidasi dan sewaktu belum dipetik dilindungi dari sinar matahari untuk menghalangi pembentukan klorofil. Teh putih diproduksi dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan teh jenis lain sehingga harga menjadi lebih mahal. Teh putih kurang terkenal di luar Tiongkok, walaupun secara perlahan-lahan teh putih dalam kemasan teh celup juga mulai populer.

Teh hijau
Daun teh yang dijadikan teh hijau biasanya langsung diproses setelah dipetik. Setelah daun mengalami oksidasi dalam jumlah minimal, proses oksidasi dihentikan dengan pemanasan (cara tradisional Jepang dengan menggunakan uap atau cara tradisional Tiongkok dengan menggongseng di atas wajan panas). Teh yang sudah dikeringkan bisa dijual dalam bentuk lembaran daun teh atau digulung rapat berbentuk seperti bola-bola kecil (teh yang disebut gun powder).

Oolong
Oolong adalah tipe teh tradisional Cina. Proses oksidasi dihentikan di tengah-tengah antara teh hijau dan teh hitam yang biasanya memakan waktu 2-3 hari.
Istilah "oolong" dalam bahasa Cina berarti "naga hitam" atau "ular hitam"; bermacam-macam legenda menjelaskan asal mula dari nama ini. Pada salah satu legenda, diceritakan tentang pemilik kebun teh yang ditakuti oleh kemunculan ular hitam sehingga pergi meninggalkan kegiatannya menjemur daun teh. Ketika dia kembali dengan hati-hati beberapa hari kemudian, daun-daun teh telah teroksidasi oleh matahari dan memberikan hasil seduhan yang enak.

Teh hitam atau teh merah
Daun teh dibiarkan teroksidasi secara penuh sekitar 2 minggu hingga 1 bulan. Teh hitam merupakan jenis teh yang paling umum di Asia Selatan (India, Sri Langka, Bangladesh) dan sebagian besar negara-negara di Afrika seperti: Kenya, Burundi, Rwanda, Malawi dan Zimbabwe.

Pu-erh (Póu léi dalam bahasa Kantonis)
Teh pu-erh terdiri dari dua jenis: "mentah" dan "matang." Teh pu-erh yang masih "mentah" bisa langsung digunakan untuk dibuat teh atau disimpan beberapa waktu hingga "matang". Selama penyimpanan, teh pu-erh mengalami oksidasi mikrobiologi tahap kedua. Teh pu-erh "matang" dibuat dari daun teh yang mengalami oksidasi secara artifisial supaya menyerupai rasa teh pu-erh "mentah" yang telah lama disimpan dan mengalami proses penuaan alami. Teh pu-erh "matang" dibuat dengan mengontrol kelembaban dan temperatur daun teh mirip dengan proses pengomposan. Teh pu-erh biasanya dijual dalam bentuk padat setelah dipres menjadi seperti batu bata, piring kecil atau mangkuk.

Teh pu-erh dipres agar proses oksidasi tahap kedua bisa berjalan, karena teh pu-erh yang tidak dipres tidak akan mengalami proses pematangan. Semakin lama disimpan, aroma teh pu-erh menjadi semakin enak. Teh pu-erh yang masih "mentah" kadang-kadang disimpan sampai 30 tahun bahkan 50 tahun supaya matang. Pakar bidang teh dan penggemar teh belum menemui kesepakatan soal lama penyimpanan yang dianggap optimal. Penyimpanan selama 10 hingga 15 tahun sering dianggap cukup, walaupun teh pu-erh bisa saja diminum setelah disimpan kurang dari setahun. Minuman teh pu-erh dibuat dengan merebus daun teh pu-erh di dalam air mendidih seringkali hingga lima menit. Orang Tibet mempunyai kebiasaan minum teh pu-erh yang dicampur dengan mentega dari lemak yak, gula dan garam.

Teh Kuning
Sebutan untuk teh berkualitas tinggi yang disajikan di istana kaisar atau teh yang berasal dari daun teh yang diolah seperti teh hijau tapi dengan proses pengeringan yang lebih lambat.

Kukicha
Teh kualitas rendah dari campuran tangkai daun dan daun teh yang sudah tua hasil pemetikan kedua, dan digongseng di atas wajan.

Genmaicha
Teh hijau bercampur berondong dari beras yang belum disosoh, beraroma harum dan sangat populer di Jepang.

Teh bunga
Teh hijau atau teh hitam yang diproses atau dicampur dengan bunga. Teh bunga yang paling populer adalah teh melati (Heung Pín dalam bahasa Kantonis, Hua Chá dalam bahasa Tionghoa) yang merupakan campuran teh hijau atau teh oolong yang dicampur bunga melati. Bunga-bunga lain yang sering dijadikan campuran teh adalah mawar, seroja, leci dan seruni.

Teh juga sering dikaitkan dengan kegunaannya untuk kesehatan. Teh hijau dan teh pu-erh sering digunakan untuk diet. Orang juga sering menghubung-hubungkan teh dengan keseimbangan yin yang. Teh hijau cenderung yin, teh hitam cenderung yang, sedangkan teh oolong dianggap seimbang. Teh pu-erh yang berwarna coklat dianggap mengandung energi yang dan sering dicampur bunga seruni yang memiliki energi yin agar seimbang.

(indosiar.com & berbagai sumber)

Kalau jaman sekarang, teh siap minum sudah umum dipasarkan dalam kemasan botol ataupun kotak karton. Campurannya juga sudah beraneka, sehingga ada yang disebut teh jeruk atau lemon tea, teh susu dsb. Dari gaya menghidangkannya juga ada beberapa sebutan, teh tubruk, teh tarik dll.

Lha kalau “Ini teh, susu”, apaan hayo?

Sabtu, 05 September 2009

POTRET SAXOPHONIS JADUL, ALBERT SUMLANG


Siapa yang tak kenal dengan lagu era tahun 70’ an, Kisah Seorang Pramuria? Siapa yang tak terpukau oleh suara saxophone nan merdu di bagian intro? Dan siapa yang tak kenal dengan sosok Albert Sumlang sang peniup saxophone dari group The Mercy’s itu? Saya rasa banyak dari kita yang mengenalnya. Tapi seperti apakah sosok bung Albert Sumlang itu sekarang? Masih sehatkah beliau? Masihkah bermain saxophone?

Nah, hari Minggu 19 Juli 2009 yang lalu saya bertemu dengan beliau. Ya, saya bertemu bahkan sempat bermain saxophone bersama di acara “mengenang The Mercy’s” yang diselenggarakan oleh satu hotel di kota Cilegon.

Meskipun usia beliau sekarang sudah 68 tahun, namun kalau sudah “manggung”, wow…, masih enerjik dan masih jingkrak2, masih seperti 40 tahun lalu saat pertama kali saya melihatnya di acara “Sekatenan” di Jogja. Tentang hal ini saya pernah menulis demikian:” Bocah lanang kelas 6 SD itu berdiri di depan panggung hiburan di keramaian pasar malam Sekatenan. Matanya nyaris tak berkedip, tertuju pada sebuah benda mengkilat yang sedang ditiup oleh seorang anggota pemain band. Bukan lagu ataupun si peniup yang menarik perhatiannya, tapi alatnya itu lho. Wiiih..., ciamik tenan. Dan sejak saat itu si bocahpun bermimpi.... Dua puluh tahun berlalu, barulah terwujud impian si bocah untuk punya dan memainkan alat musik yang persis kayak cangklong itu”

Bocah lanang itu adalah saya dan peniup saxophone itu ternyata ya bung Albert Sumlang ini.

Dan inilah potret beliau terkini. Lihatlah jemarinya yang mulai nampak keriput itu. Meski kini keriput, namun jari2 itulah yang telah mengantarkan beliau menjadi pemain saxophone andal yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, sejak dulu hingga sekarang. Jari2 itulah yang telah melahirkan beribu untaian nada2 indah lewat tombol2 saxophone, alat musik yang sangat dicintainya.

Do si la sol…, fa mi re do..., si la sol fa mi, dst.

Jumat, 04 September 2009

Canting souvenir


Canting selama ini kita kenal sebagai alat untuk membatik, namun seorang warga Solo, Jawa Tengah membuat canting sebagai kerajinan benda antik sebagai souvenir. Canting unik ini banyak dicari para turis asing untuk dikoleksi.

Kalau Anda ingin mengoleksi canting antik, Anda bisa datang ke rumah Tukul di Kampung Joyontakan, Solo. Sejak puluhan tahun lalu, keluarga Tukul adalah satu - satunya pengrajin canting untuk seluruh industri batik dikota Solo.

Tukul (60 th) merupakan keturunan kelima yang menggeluti kerajinan canting ini. Ide membuat canting sebagai souvenir ini berawal tahun 1980 an saat industri batik Solo banyak yang bangkrut, akibat masuknya batik printing (cetak). Agar bisa menghidupi keluarga maka Tukul mulai membuat canting untuk perorangan, yang biasanya dijadikan sebagai souvenir atau benda koleksi.

Tukul mengaku pengetahuan membuat canting ini berasal dari kakek dan ayahnya, sebab sejak kecil dia sudah membantu orangtuanya membuat canting. Selain di Solo canting - canting karyanya dipasarkan ke Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon dan Bali.

Dibantu lima pegawainya setiap hari Tukul bisa menyelesaikan 200 canting.

Gitu deh...
(Tapi tentunya canting made in pak Tukul itu tidak bisa digolongkan sebagai barang lawas atau barang antik ya. Lain dengan canting bekas yang dulu pernah dipakai oleh nenek2 kita).

Sumber: indosiar.com, Klaten

Selasa, 25 Agustus 2009

W.S. Rendra - Megatruh Kambuh

Pengantar:
Tulisan berikut ini adalah teks pidato yang dibacakan oleh W.S. Rendra pada acara penerimaan penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta., pada tanggal 4 Maret 2008. Dan sekarang meskipun beliau telah tiada, namun karyanya tetap abadi senantiasa.


“Megatruh Kambuh: Renungan Seorang Penyair dalam Menanggapi Kalabendu”

Penyair besar Ronggowarsito, di pertengahan abad 19, menggambarkan zaman pancaroba sebagai “Kalatida” dan “Kalabendu”.

Zaman “Kalatida” adalah zaman ketika akal sehat diremehkan. Perbedaan antara benar dan salah, baik dan buruk, adil dan tak adil, tidak digubris. Krisis moral adalah buah dari krisis akal sehat. Kekuasaan korupsi merata dan merajalela karena erosi tata nilai terjadi di lapisan atas dan bawah.

Zaman “Kalabendu” adalah zaman yang mantap stabilitasnya, tetapi alat stabilitas itu adalah penindasan. Ketidakadilan malah didewakan. Ulama-ulama menghianati kitab suci. Penguasa lalim tak bisa ditegur. Korupsi dilindungi. Kemewahan dipamerkan di samping jeritan kaum miskin dan tertindas. Penjahat dipahlawankan, orang jujur ditertawakan dan disingkirkan.

Gambaran sifat dan tanda-tanda dari “Kalatida” dan “Kalabendu” tersebut di atas adalah saduran bebas dari isi tembang aslinya. Namun secara ringkas bisa dikatakan bahwa “Kalatida” adalah zaman edan, karena akal sehat diremehkan, dan “Kalabendu” adalah zaman hancur dan rusaknya kehidupan karena tata nilai dan tata kebenaran dijungkir-balikkan secara merata.

Lalu, menurut Ronggowarsito, dengan sendirinya setelah “Kalatida” dan “Kalabendu” pasti akan muncul zaman “Kalasuba”, yaitu zaman stabilitas dan kemakmuran.

Apa yang dianjurkan oleh Ronggowarsito agar orang bisa selamat di masa “Kalatida” adalah selalu sadar dan waspada, tidak ikut dalam permainan gila. Sedangkan di masa “Kalabendu” harus berani prihatin, sabar, tawakal dan selalu berada di jalan Allah sebagaimana tercantum di dalam kita suci-Nya. Maka nanti akan datang secara tiba-tiba masa “Kalasuba” yang ditegakkan oleh Ratu Adil.

Ternyata urutan zaman “Kalatida”, “Kalabendu”, dan “Kalasuba” tidak hanya terjadi di kerajaan Surakarta di abad ke-19, tetapi juga terjadi di mana-mana di dunia pada abad mana saja. Di Yunani purba, di Romawi, di Reich pertama Germania, di Perancis, di Spanyol, Portugal, Italia, Iran, Irak, India, Rusia, Korea, Cina, yah di manapun, kapanpun. Begitulah rupanya irama “wolak waliking zaman” atau “timbul tenggelamnya zaman”, atau “pergolakan zaman”. Alangkah tajamnya penglihatan mata batin penyair Ronggowarsito ini!

Republik Indonesia juga tidak luput dari “pergolakan zaman” serupa itu. Dan ini yang akan menjadi pusat renungan saya pagi ini.

Namun sebelum itu perkenankan saya mengingatkan bahwa menurut teori chaos dari dunia ilmu fisika modern diterangkan bahwa di dalam chaos terdapat kemampuan untuk muncul order, dan kemampuan itu tidak tergantung dari unsur luar. Hal ini sejajar dengan pandangan penyair Ronggowarsito mengenai “Kalasuba”. Kata Ratu Adil bukan lahir dari rekayasa manusia, tetapi seperti ditakdirkan ada begitu saja. Kesejajaran teori chaos dengan teori pergolakan zamannya Ronggowarsito menunjukkan sekali lagi ketajaman dan kepekaan mata batinnya.

Melewati pidato ini saya persembahkan sembah sungkem saya yang khidmat kepada penyair besar Ronggowarsito.

Kembali pada renungan mengenai gelombang “Kalatida”, “Kalabendu” dan “Kalasuba” yang tejadi di Republik Indonesia.

Usaha setiap manusia yang hidup di dalam masyarakat, kapanpun dan di manapun, pada akhirnya akan tertumbuk pada “Mesin Budaya”. Adapun “Mesin Budaya” itu adalah aturan-aturan yang mengikat dan menimbulkan akibat. Etika umum, aturan politik, aturan ekonomi, dan aturan hukum, itu semua adalah aturan-aturan yang tak bisa dilanggar begitu saja tanpa ada akibat. Semua usaha manusia dalam mengelola keinginan dan keperluannya akan berurusan dengan aturan-aturan itu, atau “Mesin Budaya” itu.

“Mesin Budaya” yang berdaulat rakyat, adil, berperikemanusiaan, dan menghargai dinamika kehidupan, adalah “Mesin Budaya” yang mampu mendorong daya hidup dan daya cipta anggota masyarakat dalam Negara. Tetapi “Mesin Budaya” yang berdaulat penguasa, yang menindas dan menjajah, yang elitis dan tidak populis, sangat berbahaya untuk daya hidup dan daya cipta bangsa.

Di dalam masyarakat tradisional yang kuat hukum adatnya, rakyat dan alam lingkungannya hidup dalam harmoni yang baik, yang diatur oleh hukum adat. Selanjutnya hukum adat itu dijaga oleh para tetua adat atau dewan adat. Kemudian ketika hadir pemerintah, maka pemerintah berfungsi sebagai pengemban adat yang patuh kepada adat. Jadi hirarki tertinggi di dalam ketatanegaraan masyarakat seperti itu adalah hukum adat yang dijaga oleh dewan adat. Kedua tertinggi adalah pemegang kekuasaan pemerintahan. Sedangkan masyarakat dan alam lingkungannya terlindungi di dalam lingkaran dalam dari struktur ketatanegaraan.

Dengan begitu kepentingan kekuasaan asing, yang politik ataupun yang dagang, tak bisa menjamah masyarakat dan alam lingkungannya tanpa melewati kontrol hukum adat, dewan adat dan penguasa pemerintahan. Itulah sebabnya masyarakat serupa itu sukar dijajah oleh kekuasaan asing.

Ditambah lagi kenyataan bahwa masyarakat dan alam lingkungan yang bisa hidup dalam harmoni berkat tatanan hukum yang adil, pada akhirnya akan melahirkan masyarakat yang mandiri, kreatif dan dinamis karena selalu punya ruang untuk berinisiatif. Begitulah daulat hukum yang adil akan melahirkan daulat rakyat dan daulat manusia. Syahdan, rakyat yang berdaulat sukar dijajah oleh kekuasaan asing.

Memang pada kenyataannya suku-suku bangsa di Indonesia yang kuat tatanan hukum adatnya, tak bisa dijajah oleh V.O.C. Dan juga sukar dijajah oleh pemerintah Hindia Belanda. Suku-suku itu baru bisa ditaklukkan oleh penjajah pada abad 19, setelah orang Belanda punya senapan yang bisa dikokang, senapan mesin dan dinamit. Sedangkan Sulawesi Selatan baru bisa ditaklukkan pada tahun 1905, Toraja 1910, Bali 1910 dan Ternate 1923 serta Ruteng 1928.

Sedangkan pada suku bangsa yang masyarakat dan alam lingkungannya tidak dilindungi oleh hukum adat, rakyatnya lemah karena tidak berdaulat, yang berdaulat cuma rajanya. Hukum yang berlaku adalah apa kata raja. Kekuasaan asing dan para pedagang asing bisa langsung menjamah masyarakat dan alam lingkungannya asal bisa mengalahkan rajanya atau bisa bersekutu dengan rajanya.

Kohesi rakyat dalam masyarakat adat kuat karena bersifat organis. Itulah tambahan keterangan kenapa mereka sukar dijajah. Sedangkan kohesi rakyat dalam masyarakat yang didominasi kedaulatan raja semata sangat lemah karena bersifat mekanis. Karenanya rentan terhadap penjajahan. Begitulah keadaan kerajaan Deli, Indragiri, Jambi, Palembang, Banten, Jayakarta, Cirebon, Mataram Islam, Kutai, dan Madura. Gampang ditaklukkan oleh V.O.C. Sejak abad 18 sudah terjajah. Para penjajah bersekutu dengan raja, langsung bisa mengatur kerja paksa dan tanam paksa. “Kalatida” dan “Kalabendu” melanda negara.

Ketika Hindia Belanda pada akhirnya bisa menaklukkan seluruh Nusantara, maka yang pertama mereka lakukan ialah meng-erosi-kan hukum adat-hukum adat yang ada. Para penjaga adat diadu domba dengan para bangsawan di pemerintahan sehingga dengan melemahnya adat, melemah pulalah perlindungan daulat rakyat dan alam lingkungannya. Selanjutnya penghisapan kekayaan alam bisa lebih bebas dilakukan oleh para penjajah itu.

Di zaman penjajahan itu hukum adat yang sukar dilemahkan adalah yang ada di Bali karena hubungannya dengan agama dan pura, dan yang ada di Sumatra Barat karena hubungan dengan syariat dan kitab Allah.

Tata hukum dan tata negara sebagai “Mesin Budaya”, di zaman penjajahan Hindia Belanda menjadi “Mesin Budaya” yang buruk bagi kehidupan bangsa. Karena tata hukum dan tata Negara Hindia Belanda memang diciptakan untuk kepentingan penjajahan.

Maka ketika membangun negara, pemerintah Hindia Belanda juga tidak punya kepentingan untuk memajukan bangsa, melainkan membangun untuk bisa menghisap keuntungan sebanyak-banyaknya demi kepentingan kemakmuran dan kemajuan Kerajaan Belanda di Eropa.

Industrialisasi dilakukan dengan mendatangkan modal asing yang bebas pajak, alat berproduksi juga didatangkan dari luar negeri dengan bebas pajak, dan bahan baku juga diimport dengan bebas pajak pula, kemudian pabrik yang didirikan juga bebas dari pajak berikut tanahnya. Yang kena pajak cuma keuntungannya. Itupun boleh ditransfer ke luar negeri. Jadi devisa terbuka! Alangkah total dan rapi pemerintah Hindia Belanda membangun “Mesin Budaya” penghisapan terhadap daya hidup rakyat dan kekayaan alam lingkungan Indonesia. Semuanya itu dikokohkan dengan “Ordonansi Pajak 1925”.

Setelah Indonesia merdeka, ternyata cara membangun Hindia Belanda masih terus dilestarikan oleh elit politik kita. “Ordonansi Pajak 1925” hanya dirubah judulnya menjadi “Undang-undang Penanaman Modal Asing”. Sehingga sampai sekarang kita sangat tergantung pada modal asing. Pembentukan modal dalam negeri serta perdagangan antardesa dan antarpulau tidak pernah dibangun secara serius.

Pembentukan sumber daya manusia hanya terbatas sampai melahirkan tukang-tukang, mandor dan operator. Kreator dan produsir tak nampak ada. Mengkonsumsi teknologi yang dibeli disamakan dengan ambil alih teknologi.

Bagaimana mungkin mengembangkan sumber daya manusia tanpa menggalakkan lembaga-lembaga riset sebanyak-banyaknya! Tanpa riset kita hanya akan menjadi konsumen dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

Dan juga melengahkan pembentukan industri hulu, seperti penjajah tempo dulu, itu tidak bisa diterima. Sangat menyedihkan bahwa pabrik baja kita ternyata tidak bisa mengolah bijih baja. Bisanya hanya mendaur ulang besi tua.

Akibat dari tidak adanya industri hulu, industri kita di hampir semua bidang: pesawat terbang, mobil, sepeda, obat batuk hitam, obat flu, cabe, kobis, padi, jagung, ayam potong, dll, semua assembling! Alat berproduksi dan bahan bakunya diimport!

Dan selagi kita belum mempunyai kemampuan menghasilkan mesin-mesin berat dan tenaga-tenaga manusia tingkat spesialis yang cukup jumlahnya, pemerintah kita, sejak zaman Orde Baru, telah menjual modal alam. Akibatnya yang memperoleh keuntungan besar adalah modal asing yang memiliki teknologi Barat dan tenaga-tenaga spesialis. Alam dan lingkungan rusak karena kita memang tak berdaya menghadapi kedahsyatan kekuatan modal asing.

Ketergantungan pada modal asing, pinjaman dari negeri-negeri asing dan bantuan-bantuan asing, menyebabkan pemerintah kita, dari sejak zaman Orde Baru, bisa tersesat ke dalam politik pertanian dan pangan dari lembaga-lembaga asing dan perusahaan-perusahaan multi nasional.

Dengan kedok “Revolusi Hijau” kekuatan asing bisa meyakinkan bahwa kita harus meningkatkan swadaya pangan. Dan tanpa ujung pangkal akal sehat, pemerintah Orde Baru menetapkan bahwa swadaya pangan itu pada intinya adalah swadaya beras. Seakan-akan dari Sabang sampai Merauke beras menjadi makanan utama, dan tanah dari Sabang sampai Merauke bisa ditanami beras. Dan solusi yang diambil untuk mengatasi kenyataan bahwa tanah yang bisa ditanami padi itu terbatas, maka para pakar asing menasehati agar ada intensifikasi pertanian padi, artinya: importlah bibit padi hibrida! Bibit asli terdesak dan akhirnya hampir punah. Bibit hibrida perlu pupuk. Didirikanlah pabrik pupuk dengan pinjaman asing. Pupuk itu mengandung beurat yang lama kelamaan tanah menjadi bantat.

Termasuk dalam program intensifikasi pangan dipakailah berbagai racun: Pestisida untuk membunuh hama tanaman. Fumisida untuk membunuh cendawan-cendawan, terutama cendawan di kebun buah-buahan. Herbisida untuk membasmi gulma. Gulma, sejenis rumput yang ada di sela tanaman padi dianggap mengganggu. Sebenarnya gulma adalah bagian dari ekosistem tanah. Bisa disingkirkan secara sementara dengan disiangi. Tetapi kalau ditumpas dengan herbisida maka akan lenyaplah gulma selama-lamanya. Artinya rusaklah ekosistem. Dan pada hakekatnya herbisida itu berbahaya untuk semua organisme dan makhluk.

Beberapa ahli pertanian yang bersih hati mengatakan bahwa intensifikasi pemakaian pestisida, fumisida, dan herbisida ini menyebabkan agrikultur kehilangan “kultur” dan berubah menjadi “agrisida” atau “agriracun”.

Racun dari pestisida, fumisida dan herbisida ini pada akhirnya masuk ke tanah dan meracuni air tanah. Sehingga penduduk yang tinggal di sekitar perkebunan-perkebunan mengalami cacat badan dan melahirkan bayi-bayi cacat.

Pemakaian pupuk urea menyebabkan biaya produksi pangan naik tinggi karena padi hibrida menuntut peningkatan jumlah pemakaian pupuk secara lama kelamaan. Mahalnya biaya produksi padi dan rusaknya tanah ini yang mendorong kita tergantung pada import bahan makanan. Maksud hati berswadaya pangan, tetapi hasilnya justru ketergantungan pangan.

Agrisida yang merusak lingkungan dan sumber pangan kita, serta eksploitasi modal alam dengan serakah sebelum kita menguasai pengadaan mesin-mesin berat, memiliki modal nasional yang kuat dan cukup tenaga spesialis, adalah tanggung jawab begawan-begawan ekonomi dan begawan-begawan pembangunan di zaman Orde Baru yang masih berkelanjutan sampai sekarang, dan merupakan salah satu faktor “Kalabendu” yang kita hadapi saat ini. Sama beratnya dengan korupsi dan pelanggaran terhadap hak asasi.

Pembangunan dalam negara kita juga melupakan sarana-sarana pembangunan rakyat kecil dan menengah. Padahal mereka adalah tulang punggung yang tangguh dari kekuatan ekonomi bangsa. Jumlahnya mencapai 45 juta dan bisa menampung 70 juta tenaga kerja. Sedangkan sumbangannya pada Gross National Product adalah 62%. Lebih banyak dari sumbangan BUMN. Namun begitu tidak ada program pemerintah yang dengan positif membantu usaha mereka: Jalan-jalan darat yang menjadi penghubung antar desa, yang penting untuk kegiatan ekonomi, rusak dan tak terurus. Bahan baku selalu terbatas persediaannya. Banyak bank yang tidak ramah kepada mereka. Grosir-grosir mempermainkan dengan cek yang berlaku mundur. Dan pemerintah tidak pintar melindungi kepentingan mereka dari permainan kartel-kartel yang menguasai bahan baku.

Dari sejak abad 7 telah terbukti bahwa rakyat kecil menengah itu sangat adaptif, kreatif, tinggi daya hidupnya, ulet daya tahannya. Di abad 7 mereka yang seni pertaniannya menanam jewawut, dengan cepat menyerap seni irigasi dan menanam padi serta beternak lembu yang diperkenalkan oleh Empu Maharkandia dari India Selatan. Selanjutnya mereka juga bisa menguasai seni menanam buah-buahan dari India semacam sawo, mangga, jambu, dsb. Bahkan pada tahun 1200, menurut laporan “Pararaton”, mereka sudah bisa punya perkebunan jambu. Begitu juga mereka cepat sekali menyerap seni menanam nila, bahkan sampai mengekspornya ke luar negeri. Begitu juga mereka adaptif dan kreatif di bidang kerajinan perak, emas, pertukangan kayu dan pandai besi, yang semuanya itu dilaporkan dalam kitab “Pararaton”.

Di jaman Islam masuk dari Utara, mereka juga cepat beradaptasi dengan tanaman-tanaman baru seperti kedele, ketan, wijen, soga, dsb. Dengan cepat mereka juga belajar membuat minyak goreng, krupuk, tahu, trasi, dendeng, manisan buah-buahan, dan kecap. Bahkan dengan kreatif mereka menciptakan tempe. Di bidang kerajinan tangan dengan cepat mereka menyerap seni membuat kain jumputan, membuat genting dari tanah, membangun atap limasan, menciptakan gandok dan pringgitan di dalam seni bangunan rumah. Pendeknya unsur-unsur perkembangan baru dalam kebudayaan cita rasa dan tata nilai cepat diserap oleh rakyat banyak.

Dan kemudian di jaman tanam paksa dan kerja paksa, ketika kehidupan rakyat di desa-desa sangat terpuruk, karena meskipun mereka bisa beradaptasi dengan tanaman baru seperti teh, kopi, karet, coklat, vanili, dsb. Tetapi mereka hanya bisa jadi buruh perkebunan atau paling jauh jadi mandor, tak mungkin mereka menjadi pemilik perkebunan; namun segera mereka belajar menanam sayuran baru seperti sledri, kapri, tomat, kentang, kobis, buncis, selada, wortel, dsb untuk dijual kepada “ndoro-ndoro penjajah” di perkebungan dan “ndoro-ndoro priyayi” di kota-kota. Akhirnya bencana menjadi keberuntungan. Petani-petani sayur mayur menjadi makmur.

Dan sekarang meski mereka dalam keadaan teraniaya oleh keadaan dan tidak diperhatikan secara selayaknya oleh pemerintah, bahkan kini mereka digencet oleh kenaikan harga BBM, toh mereka tetap hidup dan bertahan. Kaki lima adalah ekspresi geliat perlawanan rakyat kecil terhadap kemiskinan. Luar biasa! Merekalah pahlawan pembangunan yang sebenarnya!

Seandainya pemerintah dan pemikir ekonomi memperhatikan dan membela kemampuan mereka, menciptakan sarana-sarana kemajuan untuk mereka, mereka adalah harapan kita untuk menjadi kekuatan ekonomi bangsa.

Tata hukum dan Tata Negara yang berlaku sekarang ini masih meneruskan semangat undang-undang dan ketatanegaraan penjajah Hindia Belanda tempo dulu, yang sama-sama menerapkan keunggulan Daulat Pemerintah di atas Daulat Rakyat, dan juga sama-sama menerapkan aturan politik ketatanegaraan yang memusat, dan sama-sama pula memperteguh aturan berdasarkan kekuasaan dan keperkasaan dan tidak kepada etika, dengan sendirinya tak akan bisa berdaya mencegah krisis etika bangsa, bahkan malah mendorong para kuasa dan para perkasa untuk mengumbar nafsu jahat mereka, tanpa ada kontrol yang memadai.

Tentu saja ada Pancasila, sumber etika bangsa yang cukup lebar cakupannya. Tetapi ternyata Pancasila hanyalah bendera upacara yang tak boleh dikritik, tapi boleh dilanggar tanpa ada akibat hukumnya. Kemanusiaan yang adil dan beradab, satu sila yang indah dari Pancasila ternyata tak punya kekuatan undang-undang apapun bila dilanggar oleh orang-orang kuasa atau perkasa. Lihatlah kasus pembunuhan terhadap empat petani di Sampang Madura, pembunuhan terhadap Marsinah, Udin, Munir, dan pembunuhan-pembunuhan yang lain lagi.

Para buruh Cengkareng yang mogok dan berjuang untuk memperbaiki kesejahteraan hidupnya, dianiaya dan diharu biru oleh petugas keamanan. Biarpun kasusnya dimenangkan oleh pengadilan, tetapi keputusan pengadilan tak pernah digubris dan dilaksanakan oleh majikan pabrik. Malahan para aktivis buruh diteror oleh para petugas keamanan dan para preman yang dibayar oleh majikan.

Rakyat juga tak pernah menang dalam perjuangan mereka untuk melindungi diri dari polusi yang ditimbulkan oleh limbah pabrik. Petugas keamanan selalu memihak kepada kepentingan majikan pabrik.

Sila kemanusiaan yang adil dan beradab, keadilan sosial, dan kedaulatan rakyat, benar-benar tak ada implementasinya di dalam undang-undang pelaksanaan. KUHP yang berlaku adalah warisan dari penjajah Hindia Belanda yang tidak punya dasar etika.

Sungguh ironis, bahwa di dalam negara yang merdeka, karena Kedaulatan Rakyat dan Kedaulatan Hukum diremehkan, maka hukum dan undang-undang justru menjadi sebab merosotnya etika bangsa.

Apabila para ahli hukum terlambat membahas dan memperbaiki kenyataan adanya gap antara ius dan lex, maka “Kalatida” akan berlaku berkepanjangan dan masuklah kita ke alam “Kalabendu”. Ah, gejala-gejala bahkan menunjukkan bahwa “Kalabendu” sudah menjadi kenyataan. Inilah jaman kacau nilai, jaman kejahatan menang, penjahat dipuja, orang beragama menjadi algojo, kitab suci dikhianati justru oleh ulama, kekuasaan dan kekayaan diperdewa. Pepatah “mikul dhuwur mendem jero” sudah lepas dari konteks moralnya dan berganti makna menjadi: kalau anda berkuasa dan perkasa maka berdosa boleh saja!

Hukum, perundang-undangan dan ketatanegaraan yang menghargai daulat manusia, daulat rakyat, daulat akal sehat, dan daulat etika akan menjadi “Mesin Budaya” yang mampu merangsang dan mengakomodasi daya cipta dan daya hidup bangsa, sehingga daya tahan dan daya juang bangsa menjadi tinggi. Jadi sangat penting segera para ahli hukum membahas dan meninjau kembali mutu kegunaan tata hukum dan tata negara Republik Indonesia dalam menyejahterakan kehidupan berbangsa.

Bahkan menurut DR. Sutanto Supiadi ahli tata negara dari Surabaya berpendapat, bahwa redesigning konstitusi sangat diperlukan. Kenyataan memang menunjukkan bahwa setiap ada amandemen untuk membatasi kekuasaan presiden, tidak menghasilkan daulat rakyat yang lebih nyata, melainkan hanya menghasilkan daulat partai-partai yang lebih kuat.

Bahkan, dalam proklamasi kemerdekaan dan UUD’45 yang asli, wilayah Republik Indonesia itu jelas ditunjukkan. Lalu pada amandemen keempat, disebutkan munculnya pasal 25a, yang berbunyi: “Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan dengan undang-undang”. Tidak ada perkataan maritim di dalam rumusan itu. Nama negara pun hanya disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal 60% dari negara kita terdiri dari lautan. Jadi lebih tepat kalau nama negara kita adalah Negara Kesatuan Maritim Republik Indonesia.

Negara kita adalah negara satu-satunya di dunia yang memiliki laut. Negara-negara lain hanya mempunyai pantai. Tetapi negara kita mempunyai Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Sulawesi, Laut Flores, Laut Banda, Laut Aru, Laut Arafuru, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Halmahera, Laut Timor dan Laut Sawu. Namun toh ketatanegaraan kita tetap saja ketatanegaraan negara daratan. Inikah mental petani?

Sampai saat ini kita belum membentuk “Sea and Coast Guard”, padahal ini persyaratan Internasional, agar bisa diakui bahwa kita bisa mengamankan laut kita, maka kita harus mempunyai “Sea and Coast Guard”. Dunia Internasional tidak mengakui Polisi Laut dan Angkatan Laut sebagai pengamanan laut di saat damai. Angkatan Laut, Polisi Laut itu dianggap alat perang. Jadi apa sulitnya membentuk “Sea and Coast Guard” yang berguna bagi negara dan bangsa? Apakah ini menyinggung kepentingan rejeki satu golongan? Tetapi kalau memang ada jiwa patriotik yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, bukankah tak akan kurang akal untuk mencari “win-win solution”?

Dalam soal perbatasan kita telah melengahkan pemetaan, pendirian beberapa mercu suar lagi, dan mengumumkan klaim yang jelas dan rasional mengenai batas-batas wilayah negara kita, terutama yang menyangkut wilayah di laut. Sudah saatnya pula lembaga inteligent kita mempunyai direktorat maritim.

Sudah saatnya wawasan ketatanegaraan kita , di segenap bidang, mencakup pengertian “Tanah Air”, dan tidak sekedar “Tanah” saja.

Pelabuhan-pelabuhan pun harus segera ditata sebagai “Negara Pelabuhan” yang dipimpin oleh “Syahbandar” yang berijasah internasional. Kemudian segera pula dicatatkan di PBB. Tanpa semua itu, maka negara kita tidak diakui punya pelabuhan, melainkan hanya diakui punya terminal-terminal belaka!

Perlu dicatat bahwa pembentukan Negara Nusantara untuk pertama kalinya diproklamasikan oleh Baron Van Der Capellen pada tahun 1821 dengan nama Nederlans Indie, dan sifat kedaulatannya negara maritim dengan batas-batas dan mercu suar-mercu suar yang jelas petanya.

Jadi Van Der Capellen tidak sekedar mengandalkan kekuatan angkatan laut untuk mempersatukan Nusantara, melainkan, alat politik untuk menyatukan Nusantara adalah tata hukum dan ketatanegaraan maritim.

Kita sebagai bangsa harus bersyukur kepada Perdana Menteri Juanda dan menteri luar negeri Mochtar Kusumaatmaja, yang dengan gigih telah memperjuangkan kedaulatan maritim kita di dunia Internasional, sehingga diakui oleh Unclos dan PBB. Tetapi kita harus tanpa lengah meneruskan perjuangan itu sehingga kita mampu mengimplementasikan semua peraturan kelautan internasional yang telah kita ratifikasi.

Perlu disayangkan bahwa usaha untuk mendirikan Universitas Maritim yang bisa memberikan ijasah internasional untuk syahbandar dan nahkoda, belum juga mendapat ijin dari Departemen Pendidikan Nasional. Saya menganggap sikap pemerintah seperti itu tidak patriotik dan tidak peka pada urgensi untuk menegakkan kedaulatan bangsa dan negara di lautan.

Tata hukum, tata kenegaraan dan tata pembangunan yang sableng seperti tersebut di atas itulah yang mendorong lahirnya “Kalatida” dan “Kalabendu” di negara kita.

Menurut penyair Ranggawarsita kita harus bersikap waspada, tidak mengkompromikan akal sehat. Dan juga harus sabar tawakal. Adapun “Kalasuba” pasti datang bersama dengan ratu adil.

Dalam hal ini saya agak berbeda sikap dalam mengantisipasi datangnya “Kalasuba”. Pertama, “Kalasuba” pasti akan tiba karena dalam setiap chaos secara “built-in” ada potensi untuk kestabilan dan keteraturan. Tetapi kestabilan itu belum tentu baik untuk kelangsungan kedaulatan rakyat dan kedaulatan manusia yang sangat penting untuk emansipasi kehidupan manusia secara jasmani, sosial, rohani, intelektual dan budaya. Dalam sejarah, kita mengenal kenyataan, bahwa setelah chaos Revolusi Perancis, lahirlah kestabilan pemerintah Napoleon yang bersifat ditaktor. Tentu masih banyak lagi contoh semacam itu di tempat lain dan di saat lain.

Kedua, harus ada usaha kita yang lain, tidak sekedar sabar dan tawakal. Tetapi toh kita tidak menghendaki “Kalasuba” yang dikuasai oleh ditaktor. Tidak pula yang dikuasai oleh kekuasaan asing seperti di Timor Leste. Oleh karena itu kita harus aktif memperkembangkan usaha untuk mendesak perubahan tata pembangunan, tata hukum dan tata kenegaraan sehingga menjadi lebih baik untuk daya hidup dan daya cipta bangsa.

Ketiga, situasi semacam itu tidak tergantung pada hadirnya Ratu Adil, tetapi tergantung pada Hukum yang Adil, Mandiri, dan Terkawal.

Wassalam,

RENDRA
29 Februari 2008

(Sumber: http://debritto.net)

Rabu, 19 Agustus 2009

JEMBATAN KELEDAI


Dulu, di sekolah, banyak guru yang kadang memberikan cara-cara untuk memudahkan kita mengingat, atau kiat-kiat menghapal. Saya masih ingat bahwa “cara mengingat” itu kerap di sebut sebagai “jembatan keledai”. Seperti misalnya untuk mengingat secara berurutan ke tujuh warna warni pelangi, kita bisa menggunakan kata singkatan: mejikuhibiniu (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu). Atau misalnya untuk memecahkan soal perkalian seperti ini:
11 x 11 = 121
21 x 11 = 231
12 x 11 = 132
34 x 11 = 374
36 x 11 = 396
63 x 11 = 693
dst.
Soal perkalian seperti diatas dapat dengan mudah kita selesaikan dengan menggunakan “jembatan keledai” alias jembatan pengingat, yaitu: dua angka yang dikalikan sebelas, hasilnya sama dengan bilangan kedua angka itu yang mengapit jumlah kedua angka. Jadi misalnya 21 dikalikan 11, hasilnya adalah 231.

Dan asal mula ungkapan "jembatan keledai" ini, menurut Papi Ray di majalah elektronik Papyrus, diambil dari bahasa Belanda: ezelbrug atau ezelbruggetje. Ezel - keledai, kuldi, brug / bruggetje - jembatan / jembatan kecil. Konon kata ini diambil dari ungkapan bhs Latin yang sudah biasa dipakai di jaman pertengahan.

Pons Asinorum (jembatan para keledai) dinamakan demikian, karena menurut pengamatan, agar keledai dapat sampai ke tempat seberang dia hanya memerlukan blabag atau batang kayu yang kecil, dan dengan jembatan kecil ini dia bisa sampai ke tujuan.
Dalam hal menghafalkan sesuatu, membuat kunci ingatan kepada apa yang harus diingat dapat ditolong dengan membuat "jembatan keledai ini". Istilah Inggris yang sekarang dipakai ialah mnemonic device, sarana untuk mengingat-ingat sesuatu.

Dengan jembatan keledai itu, menghafalkan sesuatu memang menjadi gampang. Tapi yang sulit justru mbikin jembatannya itu lho...

Gitu deh…