Lokasi Pengoenjoeng Blog

Kamis, 14 Januari 2010

NAIK KERETA API, preeeettt.


Ke Jogja saya paling suka naik kereta api. Bukan kereta kelas istimewa tapi kelas ekonomi, terutama kalau berangkat pergi sendirian. Dari dulu sampai sekarang ya begitu itu.

Meskipun itu kereta kelas rakyat, namun bagi saya terasa istimewa. Mengapa? Jalarannya KA itu tidak ber AC sehingga saya bisa bebas merokok klepas klepus. Kalau itu KA malam, saya bisa melihat para penumpang menggeletak tidur di kursi maupun di lantai kereta. Merekapun tidur pulas, sepulas mereka yang tidur di kasur empuk kamar berpendingin. Sama sekali mereka tidak terganggu oleh lalu lalangnya para pedagang asongan di dalam kereta.

Ya, di kereta api ekonomi, siang ataupun malam, pedagang bebas berjaja dari gerbong ke gerbong. Dagangannya beraneka, dari kopi panas, wedang jahe, tempe kripik, buku TTS (dan sudoku), kacamata baca, piranti “kerokan”, koran bekas, kipas tangan, air aqua, rokok, permen, tisu, nasi rames, pecel, kacang kulit, hingga jual jasa memijat. Bisa dibayangkan betapa riuh rendahnya suara. Ada deru angin, ada suara roda besi menerjang sambungan rel, ada suara para pedagang meneriakkan dagangan, ada suara cekikikan sejoli yang sedang pacaran, ada suara orang “ndremimil” minta sedekah, dan ada orang ngamen genjrang genjreng memetik gitar sambil bernyanyi sumbang. Dan saat KA tiba di tiap stasiun dan akan kembali berangkat, kita akan mendengar suara khas sinyal tanda keberangkatan: ting tung teng tong…, tong teng ting tung (mi do re sol…, sol re mi do), disusul oleh bunyi peluit dan klakson kereta, preeeettt.

Sungguh, saya sangat menikmati perjalanan dengan kereta api semacam itu. Kapan ya dulurs terakhir naik KA?

Piye Jal?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar