Lokasi Pengoenjoeng Blog

Kamis, 04 Februari 2010

GENJER2 BIKIN MERINDING…

Pengantar:
Syair lagu Genjer2 itu ternyata telah diplesetkan sedemkian rupa oleh PKI. Sehingga seiring dengan penumpasan organisasi politik itu pada tahun 1965, lagu Genjer2 versi PKI dilarang edar. Dan adalah seorang kanak2 yang berhasil merekam serta menuangkan kembali ingatannya akan peristiwa ngeri yang disaksikannya diseputar pembersihan anggota PKI pada waktu itu, lebih dari 40 tahun lalu. Berikut ini kisah lama yang ditulisnya sendiri baru2 ini.


Lagu ini telah banyak membuat orang traumatis pada era setelah tahun 65. Terutama pada saat "pembersihan" orang2 yang dituduh berfaham komunis (PKI). Jangankan menyanyikan, mendengarkan saja (lewat PH atau pita gulung) sudah sangat takut, apalagi menyimpan piringan hitam atau pitanya. Bahkan menyebut nama lagunyapun dengan setengah berbisik, takut kedengaran orang dan diciduk.

Pada masa jayanya PKI lagu itu dinyanyikan para gadis sambil menari-nari. Saya hanya ingat sedikit, capet2 lah, karena masih kecil dan belum sekolah, mustinya generasi di atas saya tahu persis soal ini, termasuk sepak terjang PKI waktu itu. Yang saya ingat pada era pencidukan, bukan hanya militer, tetapi juga massa. Ayah saya yang seorang anggota polisi saja tidak mampu berbuat banyak ketika massa menyerbu rumah seseorang yang diindikasikan anggota organisasi terlarang itu.

Tidak jauh dari rumah saya ada bekas bangunan markas Belanda yang dikelilingi tembok setinggi 3 meter lebih. Setiap pukul 6.00 sore selalu terdengar lolongan orang kesakitan dan minta tolong. Ini bukan cerita hantu, tetapi penyiksaan orang2 yang diciduk, terutama anggota gerwani.

Miris dan sangat miris, tapi semua orang dewasa hanya bisa diam dan semakin membuat suasana menakutkan serta trauma berkepanjangan. Semua berlalu begitu saja, pengadilan tidak lagi berperan dan yang tewas hanya dibungkus tikar, entah dikubur di mana.

Sisa2 kekejian satu dua tahun kemudian masih terlihat di beberapa tempat, salah satunya di sungai pasir Pandan Simping. Sungai yang penuh pasir Merapi (lebih tinggi dari jalan di sampingnya) ini terletak di perbatasan Klaten-Prambanan. Saya masih ingat, sekitar tahun 68-69 sering bersama ibu berziarah ke Goa Maria Sendang Sriningsih. Kami harus melewati sungai pasir itu dan sisa2 kekejaman masih nampak, tulang belulang manusia, termasuk tengkorak berserakan di sungai yang tidak kelihatan airnya itu. Sebuah pemandangan yang tidak sehat bagi kejiwaan seorang anak berusia 8-9 tahun. Bukti2 ini sekarang sudah tidak nampak lagi, sungai itu sudah kehilangan pasirnya. Dan tulang belulang juga lenyap terseret air banjir.

Sebuah era yang menakutkan, mendengar lagu itu saya masih merinding dan rasa takut masih terasa di kudukku. Membayangkan orang2 desa berlari diberondong peluru dan yang tertangkap disuruh menggali lubang kuburnya di kali pasir dan dipenggal, cerita sehari2 yang mewarnai hari2 "pembersihan" itu sekarang sudah ikut terkubur zaman.

Oleh: Awe Subarkah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar