Lokasi Pengoenjoeng Blog

Minggu, 13 Juni 2010

Akhir Riwayat Pasar Ngasem


Kesunyian sejenak hinggap di antara puing-puing sisa bangunan Pasar Ngasem, Yogyakarta, yang ditinggalkan penghuninya mulai Kamis (22/4). Tidak ada lagi kicau dan bau khas burung yang biasa disimpan di dalam sangkar dan digantungkan di atap kios para pedagang burung. Saling senggol antarpengunjung di lorong-lorong yang sempit tak lagi terjadi dan debat transaksi jual-beli burung pun tak terdengar lagi.

Mendekati pengujung April 2010, sebanyak 287 pedagang burung yang sebelumnya memanfaatkan Pasar Ngasem sebagai tempat mencari nafkah dipindahkan ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Dongkelan. Di bekas pasar seluas 6.136 meter persegi tersebut akan dibangun pasar tradisional dan pasar suvenir yang terintegrasi dengan kompleks wisata Tamansari.

Pemindahan tersebut tak ayal menghilangkan pesona Pasar Ngasem yang menghadirkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Saat ramai pengunjung, sering kali terlihat wisatawan asing yang turut berkeliling pasar sekadar untuk mengabadikan suasana. Daya tarik itu pula yang membuat Pasar Ngasem dahulu menjadi tempat latihan melukis sketsa aktivitas pasar oleh para mahasiswa baru Institut Seni Indonesia (dulu masih bernama STSRI atau ASRI).

Meskipun harus mengorbankan pasar yang telah menjadi salah satu ikon Yogyakarta tersebut, pemindahan pedagang Pasar Ngasem tetap tidak terhindarkan demi mendukung perkembangan industri pariwisata Yogyakarta. Pemindahan tersebut juga berlangsung mulus tanpa gejolak perlawanan dari pedagang. Bahkan, kegiatan melukis bersama yang diikuti anak-anak serta sejumlah pelukis kawakan turut menyemarakkan rangkaian acara pemindahan pasar tersebut.

Kegiatan melukis bersama tersebut ditujukan untuk mendokumentasikan pasar yang telah mewarnai sejarah Kota Yogyakarta. Lukisan dokumentasi tersebut serta berbagai foto yang menggambarkan Pasar Ngasemlah yang akan menjadi modal bahan cerita kepada para generasi penerus yang mungkin akan terkagum-kagum dengan nuansa kehangatan di Pasar Ngasem yang tidak akan pernah mereka temui lagi di masa mendatang....

Foto dan Teks: Ferganata Indra Riatmoko
http://cetak.kompas.com/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar