Lokasi Pengoenjoeng Blog

Rabu, 16 September 2009

KOMIK

Tokoh Superhero dalam komik seperti Godam Si Manusia Baja, Gundala Putra Petir, Panji Tengkorak, Wiro hingga Si Buta Dari Gua Hantu, begitu populer di masa lalu. Tokoh-tokoh itu pada tahun 70-an sangat dikenal anak-anak setingkat SMP dan SMU.

Taman-taman bacaan yang bisa melayani pembaca komik, bermunculan dimana-mana. Namun kini, semua itu hanya tinggal kenangan. Komik yang dulu dicari-cari penggemarnya, kini menjadi barang langka. Keberadaannya tergantikan komik-komik Saduran asal Jepang , Eropa hingga Amerika.

Komik di Indonesia, mulai dikenal pada tahun 1930. Pertama kali muncul dalam bentuk komik strip di surat kabar Melayu-Cina, Sinpo. Barulah pada tahun 1950-an, komik beredar dalam bentuk buku. Saat itu pula beredar bermacam-macam tema cerita, mulai dari Superhero, Silat, Kisah Petualangan, Humor, hingga cerita pewayangan Mahabarata dan Ramayana, yang melejitkan nama pengarangnya, RA Kosasih.

Memasuki tahun 1960-an, meluncur komik asal Medan, dengan setting cerita rakyat. Taguan Hardjo, salah satu komikus yang berhasil membuat karya-karyanya dikenal banyak orang. Sebut saja Hikayat Musang berjanggut, Kapten Yani dan Perompak Lautan Hindia. Diikuti kemudian dengan beredarnya komik politik, yang membawa pesan-pesan propaganda.

Akhir tahun 1965, posisi komik politik tergantikan komik roman remaja yang menyorot kehidupan remaja Metropolitan saat itu. Komikusnya antara lain, Jan Mintaraga,Sim, dan Zaldy.

Kehadiran komik roman remaja ini sempat menimbulkan keresahan masyarakat, pasalnya sebagian besar berisi adegan percintaan. Popularitasnya kemudian menurun seiring dengan razia yang dilakukan polisi di sekolah-sekolah.

Tak lama, muncullah komik Superhero gelombang kedua. Beberapa karya yang cukup fenomenal antara lain, Si Buta Dari Gua Hantu-nya Ganes TH, Panji Tengkoraknya-nya Hans Jaladara, dan Jaka Sembung-nya Djair. Di mata masyarakat, karya-karya komik lokal saat itu dinilai sangat bagus.

Pembacanya pun tak mengenal usia, hampir semua kalangan ikut membaca. Menjamurnya taman-taman bacaan rakyat yang menyewakan komik, menjadi tolak ukur popularitas komik lokal waktu itu. Komik pun menjadi tambang emas bagi penerbit dan pengarangnya. Di pasaran beredar 250-an komikus, dan 15 komikus mampu memproduksi 20 judul dalam jangka waktu bersamaan.

Memasuki tahun 1980, komik lokal mulai menghilang dari peredaran . Sementara terjemahan komik Amerika, Eropa dan Jepang, wara wiri di pasaran. Penerbit besar pun merajai bisnis ini, sedang penerbit kecil, semakin tenggelam berbarengan dengan surutnya pamor komik lokal. Penggemar komik, tak lagi didominasi kalangan bawah, namun sudah merambah kaum gedongan. Penyebab lain pudarnya pamor komik lokal, kualitas gambar, dinilai kalah menarik dibanding komik impor.

Kondisi ini membuat prihatin kalangan pencinta komik. Ada semacam kerinduan dari beberapa penggemar komik masa lalu, yang ingin kejayaan komik lokal hidup kembali. Komik Indonesia dotcom misalnya, dengan berbagai strategi berusaha membangkitkan kembali pasar komik lokal.

Selain melakukan hunting komik cetakan lama untuk didata judul dan pengarangnya, tahun terbit dan jumlah halaman, komik Indonesia Dotcom, juga menjadi konsultan penerbitan hingga perencanaan jaringan distribusi.

Komik dengan ejaan lama, misalnya, dicetak ulang dengan ejaan yang telah disempurnakan. Kata-kata yang sudah tak relevan atau kasar, diganti atau dibuang. Dari segi gambar, dilakukan sentuhan ulang atau melalui tusir ulang, agar kualitas cetakan lebih bagus.

Beberapa komik yang telah dicetak ulang, begitu dipasarkan dengan cepat habis terjual. Ini suatu bukti pengemar komik lokal masih ada. Diakui, gaungnya memang belum seberapa, namun setidaknya, angin segar tengah bertiup. Komik lokal, perlahan namun pasti, menata ulang langkah meraih kembali kejayaan yang tengah terenggut.

(Sumber:indosiar.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar