Lokasi Pengoenjoeng Blog

Minggu, 05 Juli 2009

MAS HARNO, MASKU, CINTAKU

Pengantar:
Ini tulisan bu Harno, seorang ibu yang kini telah berusia senja, 76 tahun, tentang kenangan indahnya kala mengarungi hidup bersama almarhum pak Harno, suami, kekasih hati, cinta pertama dan cinta terakhirnya. “Meski kini ibu merasa hidup sendirian, namun dengan kekuatan cinta yang ditinggalkan oleh bapak, hidup ini lebih indah untuk dinikmati” demikian ibu mengatakan.
“Ah, ibu. Tetap semangat, nggih bu…”


MAS HARNO, MASKU, CINTAKU
Oleh: L. Sumaryati Soeharno

Kisah ini adalah kisah sedih dimana suamiku menghadapi saat menjelang ajalnya. Bulan itu bulan Mei dimana setiap bulan ini aku selalu merasa berkecil hati dan sendirian. Dunia ini rasanya sepi. Sering aku merasa putus asa menghadapi semua ini.

Disaat menjelang akhir hayatnya, aku merasakan cintanya kepadaku semakin mendalam. Seakan akan dia merasa berat akan meninggalkan dunia ini. Terlebih akan meninggalkan aku. Aku merasakan hal ini.

Betapa tidak, sudah 46 tahun aku dan dia memadu kasih. Suka maupun duka kami lalui bersama. Kita besarkan anak2, kita jadikan mereka semua manusia yang berguna untuk sesama umat.

Besar pengorbanan suamiku untuk terwujudnya rumah tangga yang bahagia. Apa saja dia lakukan tanpa mengenal lelah. Dalam sakitnyapun dia masih sering memikirkan anak2. Untung pada saat itu anak2 sudah dapat menyelesaikan kuliahnya dan keempat anakku telah berumah tangga, bahkan semua telah dikaruniai anak, sehingga kita telah menjadi kakek dan nenek. Kukenang kembali saat2 dia masih dalam keadaan sehat.

Sebagai suami dia adalah seorang suami yang baik, yang sangat sabar menghadapi istri. Dia tidak pernah marah, segala persoalan dia selesaikan dengan penuh kesabaran, dan dia adalah seorang pemaaf. Apapun kesalahanku, betapa besar kesalahanku, namun dia selalu memberikan maaf kepadaku. Alangkah lapang hatinya. Dan dia selalu berusaha menyenangkan hatiku.

Untuk memberi kesempatan kepadaku supaya dapat ke luar negeri, dia memperbolehkan aku mengunjungi kakakku di Amerika. Tidak hanya sehari dua hari aku di Amerika, bahkan sampai ½ tahun aku di sana karena kakakku sedang sakit.

Banyak pengalaman yang aku dapat di sana, momen itu tidak aku biarkan berlalu begitu saja. Aku menimba pengalaman di negeri orang. Aku dapat mencari uang dengan bekerja part time.

Hal2 lucu, menyedihkan dan menyenangkan sering aku jumpai dalam hidup sehari hari. Itulah suamiku yang merelakan istrinya pergi untuk dapat melihat negeri orang. O, alangkah mulia hatinya. Dibiarkannya aku mengenyam kebahagiaan di negeri orang sambil mencari uang.

Suamiku masih memberi kesempatan kepadaku untuk menemani adikku yang bekerja di Kedutaan di Bangkok. Ini juga tidak terjadi sehari dua hari. Enam bulan aku di sana, sampai suamiku datang untuk menjemputku pulang ke Yogya. Demikian mulianya hati suamiku, walalupun sebetulnya pada saat itu dia juga sudah dalam keadaan sakit2 an, namun dia masih memikirkan kesenanganku. Maka aku harus dapat membalas kebaikannya.

Disaat dia dalam keadaan tak berdaya karena sakit gula yang menggerogoti badannya, aku harus dapat menolongnya. Aku harus dapat membantu dia dalam segala hal. Untung suamiku orangnya cukup pengertian. Dia tidak manja dan juga tidak rewel.

Disaat terakhir hidupnya, dia ingin menikmati kehangatan di dalam rumah sendiri. Dia ingin bersama keluarga disaat terakhirnya. Itulah sebabnya dia tidak mau masuk rumah sakit, walaupun dokter menganjurkan untuk diopname. Kulayani dia dengan sepenuh hatiku, tiap hari sebelum makan aku harus menyuntik insulin terlebih dahulu.

Oh, alangkah menyedihkan keadaanmu. Kau tergolek tanpa daya dan tenaga. Seandainya dapat ditukar ingin aku menggantikan engkau menanggung penderitaanmu, namun apa daya semua sudah menjadi kehendak yang maha kuasa.

Namun Tuhan berkehendak lain. Setelah melalui bermacam penderitaan Tuhan berkenan untuk melepaskan engkau dari penderitaan yang menyiksamu. Dengan penuh kasih Tuhan memanggilmu. Selesailah sudah penderitaanmu di dunia ini, dan kau telah bahagia di sisi Nya.

Dengan senyummu kau tinggalkan semua orang yang mencintaimu. Namun aku ikhlas, aku rela melepaskanmu, walaupun dengan berat hati, karena itu berarti engkau telah terlepas dari segala penderitaan.

Aku percaya walaupun engkau telah berada di alam lain, namun engkau tetap hidup di hatiku dan menemaniku senantiasa. Engkau masih dapat melihat aku dan aku masih merasakan kehadiranmu di sisiku. Aku masih dapat curhat kepadamu, walaupun itu hanya imajinasiku.

Dalam kesendirianku aku masih harus berkutat dengan duniaku untuk mempertahankan hidupku, supaya aku masih dapat melihat cucu2 ku dapat menyelesaikan kuliahnya.

Namun puaskah aku sampai di sini? Tidak aku masih harus mempertahankan hidupku ini lebih lama, supaya aku dapat menyaksikan cucu2 ku membina keluarga. Dari 8 cucuku baru 2 orang yang telah berkeluarga dan dikaruniai anak. Semua ini harus aku perjuangkan seorang diri, supaya aku tetap sehat, tetap bahagia menapak hari2 sepanjang sisa2 hidupku.

Dan seandainya semua ini dapat terlaksana, oh alangkah bahagianya aku. Dan aku pasrah seandainya Tuhan kelak memanggilku. Kuserahkan jiwa ragaku kepada Nya. Karena selesailah tugasku di dunia ini.

Demikianlah kuakhiri cetusan hati seorang ibu yang merasa hidup sendirian, namun dengan kekuatan cinta yang ditinggalkan oleh suaminya, hidup ini lebih indah untuk dinikmati.


Yogyakarta 21 Juni 2009
Pada hari ultah dan pesta nama
Almarhum suamiku, Aloysius Soeharno.
Semoga diapun bahagia di sana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar