Lokasi Pengoenjoeng Blog

Jumat, 03 Juli 2009

“RUMAH GEDEK…, YO BEN”


Pengantar:
Berawal dari sepucuk surat cinta kertas merang kemudian berkembang menjadi janji sehidup semati dalam ikatan suci tali perkawinan. Ya, itulah perjalanan cinta antara bu Harno dan pak Harno, bapak dan ibuku. Dan inilah kisah pengalaman arung hidup beliau yang ditulis sendiri oleh bu Harno, dan merupakan lanjutan dari tulisan terdahulu yang berjudul: Surat Cinta Kertas Merang, yang telah terbit bulan April 2009.


Judul: “RUMAH GEDEK…, YO BEN”

Oleh: L. Sumaryati Soeharno

Kisah ini kumulai dengan kehadiran anak pertamaku, seorang bayi laki2. Dan dia kuberi nama Yohanes Ogilvie Prihardianto, dipanggil Anto. Ia lahir pada tanggal 10 Maret 1958.

Pada waktu itu kami masih menempati rumah kontrakan yang sangat sederhana. Kami hanya dapat mengontrak rumah gedeg yang sangat sederhana di daerah Jomblang Barat Semarang, karena pada waktu itu suamiku mengajar di SMP Dominico Savio di daerah Kalisari Semarang. Rumah kontrakan kami atapnya tiris dan gedegnya berlobang lobang. Namun tak jadi soal bagi kami, karena kemampuan kami hanya dapat menyewa rumah yang sangat sederhana itu. Kutempati rumah itu dengan penuh keceriaan. Kami enjoy aja di rumah itu. Sebagai keluarga muda kami masih harus saling menyesuaikan diri satu sama lain. Hidup masih serba kekurangan. Gaji sebagai guru SMP tidak dapat diandalkan untuk mencukupi kebutuhan sehari hari. Oleh karenanya suamuiku kerja sambilan apa saja, dan hasilnya lumayan bisa untuk menambah uang belanja.

Kebetulan ada tawaran dari yayasan untuk mengikuti tugas belajar di IKIP Negeri Yogyakarta. Maka kami putuskan untuk menerima tawaran tersebut. Disamping itu anakku tumbuh dengan pesat, tanpa terasa dia sudah tumbuh menjadi bocah laki2 kecil yang lucu. (Hi hi hi…).

Karena kami telah memutuskan untuk menerima tugas belajar tersebut, maka kami harus pindah ke Jogja. Kebetulan juga bapakku menyuruh aku untuk membantu (usaha) di rumah. Kami menempati paviliun yang telah disediakan oleh orang tua. Dan selain tugas belajar suamiku masih mengajar di yayasan milik Pangudi Luhur. Hidup kami mulai ada peningkatan karena rumah tidak lagi menyewa dan kebutuhan pokok masih disokong oleh orang tua kami.

Seiring waktu lahirlah anak kami yang kedua, seorang bayi perempuan pada tanggal 15 Janauari 1961. Kami beri nama Marcella Prihardiani dan kami panggil Nuniek. Perkembangannya juga sama dengan kakaknya, namun dia begitu kurus karena sulit makan. Namun dia tetap sehat dan lincah. Sementara itu suamiku masih tetap kuliah di IKIP jurusan Bahasa Indonesia.

Tanpa terasa pada tanggal 1 September 1963 aku dikaruniai lagi seorang bayi perempuan, buah cinta kami, dan bayi tersebut kami beri nama Verena Prihastyari, dan kami panggil Ririek. Dia juga tumbuh menjadi gadis kecil yang sehat, lincah dan lucu, menjadikan hidup keluarga kami sangat bahagia. Suamiku masih tetap mengajar di SMP Pangudi Luhur. Sementara itu kuliahnya hampir selesai, tinggal menyusun skripsi.

Untuk menyusun skripsi diwajibkan mmembaca buku2 yang telah ditentukan. Banyak buku yang harus dibaca. Karena keterbatasan waktu membaca, lantaran belajar sambil bekerja, maka menjadi kewajibanku untuk membaca buku2 tersebut. Dan aku dapat menceritakan kembali kepadanya mengenai buku2 bacaan tersebut. Untunglah kami berdua dapat kerja sama dengan baik sehingga skripsinya dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan. Jadilah suamiku seorang sarjana jurusan Sastra Indonesia, dan berhak menyandang gelar Drs. Dengan kelulusannya maka terangkatlah derajatnya. Dia diterima mengajar di SMA Kolese de Britto.

Setelah menjadi sarjana, kami masih dikaruniai seorang bayi perempuan yang kami beri nama Engelina Prihaksiwi, panggilannya Ina. Dia lahir pada tanggal 2 Oktober 1966. Dengan 4 orang anak tentu saja rumah kami bertambah ramai. Tiada hari tanpa tangis, canda dan tawa.

Nama keempat anakku berawal dengan kata Pri, yang artinya “prima” seperti cinta kami yang tetap prima.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tanpa terasa satu persatu anakku lulus dari perguruan tinggi dan mulai membangun kehidupannya, menikah dan berkeluarga. Dan…, jadilah aku sekarang nenek buyut, karena dua di antara cucu2 ku sudah menikah dan kini sudah dikaruniai momongan.

Maaf, karena capek kusudahi tulisanku ini. Lain kali disambung lagi. Dah...

Yogyakarta 22 Juni 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar