Lokasi Pengoenjoeng Blog

Sabtu, 30 Mei 2009

AKSESORIS BUSANA JAWA…, DI KRATON TERIKAT ATURAN

Melengkapi diri dengan aksesoris seperti kalung, gelang, anting, bros, bando, dan sebagainya bisa dipastikan dengan tujuan tampil lebih percaya diri, lebih cantik, atau lebih cakep, tampan. Bagi masyarakat kebanyakan, persoalan aksesoris memang tidak ada batasnya, tetapi untuk lingkungan tertentu seperti keraton, hampir selalu terkait dengan tatanan atau aturan tertentu. Di lingkungan Keraton Yogyakarta, wanita yang belum menikah tidak dibenarkan memasang aksesoris bunga di sanggul.

Secara garis besar busana sebagai atribut kebangsawanan dapat dibedakan menjadi busana sehari-hari dan busana resmi. Busana resmi masih terbagi menjadi busana untuk menghadiri upacara alit dan upacara ageng. Dari pengelompokan busana itu masih diperinci menjadi busana anak-anak, remaja dan dewasa.

Dalam buku Busana Adat Kraton Yogyakarta yang ditulis oleh RA. Siti Kusmariyalunnatmi, atau Mari S. Condronegoro disebutkan, sejak kecil putra-putri Sultan telah mengenal beberapa peraturan yang membedakan dirinya dengan status personal lain, diantaranya melalui busana yang dipakai berupa kencongan untuk anak laki-laki dan busana sabukwala untuk anak perempuan. Aksesori yang dikenakan biasanya kalung dan peniti bros serta bulu-bulu yang dikenakan di kepala.

Busana sabukwala dikenakan anak perempuan usia tiga tahun sampai 10 tahun tergantung ukuran tubuh si anak. Busana ini ada tiga macam yaitu busana sabukwala nyamping batik sebagai busana harian atau menghadiri upacara alit. Kedua, sabukwala nyamping praos untuk resepsi tetesan dan ketiga, sabukwala nyamping cinde untuk upacara grebeg. Sabukwala padintenan yang digunakan sebagai busana harian terdiri dari nyamping batik, baju katun, ikat pinggang berupa kamus songketan bergambar flora dan fauna, memakai lonthong batik bermotif tritik dan cathok dari perak berbentuk kupu, garuda atau merak.

Adapun aksesorisnya berupa subang, kalung emas dengan liontin berbentuk mata uang, gelang berbentuk ular atau gligen atau gelang model sigar penjalin. Bagi yang berambut panjang disanggul dengan konde. Kainnya bermotif parang, ceplok atau gringsing. Ketika menginjak usia 11-15 tahun, sabukwala ditinggalkan dan diganti dengan busana pinjung. Busana ini dikenakan dengan cara melipat ujung kain sebelah dalam dibentuk segitiga sebagai hiasan penutup dada yang panjangnya diukur dari dada ke bawah sampai di atas pusar. Wiru (lipatan) di sebelah kiri ini hanya boleh dikenakan para putri hingga cicit Sultan sampai cicit raja, selebihnya wiru harus di sebelah kanan.

Busana pinjung dilengkapi pinjung padintenan terdiri dari kain batik tanpa baju, lonthong tritik, kamus songketan, dilengkapi udhet tritik (semacam selendang sebagai hiasan pinggang yang dikenakan di bawah lonthong kamus), mengenakan subang, kalung dinar, gelang gligen. Sementara, sanggul berbentuk tekuk polos tanpa hiasan.

Busana Samekan

Untuk remaja atau dewasa, busana harian menggunakan samekan berupa kain panjang dengan lebar separo dari lebar kain panjang biasa. Busana yang disebut samekan padintenan ini terdiri kain batik, kebaya katun dengan aksesoris subang, gelang ular atau gelang gligen serta cincin. Untuk busana sehari-hari para putri Sultan tidak memakai kalung dan sanggulnya berbentuk sanggul tekuk polos tanpa hiasan. Untuk putri raja yang sudah menikah terdiri atas samekan tritik dengan tengahan, kebaya katun, kain batik, sanggul tekuk polos tanpa hiasan, memakai subang, cincin, serta saputangan merah sebagai tempat mengikat kunci.

Sedang untuk laki-laki lebih sedikit ragamnya, hanya terdiri dari busana anak-anak dan dewasa. Busana anak-anak berupa kain batik dengan model kencongan, baju surjan, lonthong tritik, ikat pinggang berupa kamus songketan dengan cathok atau timang terbuat dari suwasa (emas berkadar rendah). Pada usia dewasa, para bangsawan mulai terlibat dalam beberapa kegiatan seremonial. Oleh karena itu, menurut Mari S. Condronegoro, busana yang dikenakan terlihat lebih bervariasi. Berbagai simbol yang tercermin dari pakaian merupakan alat komunikasi yang memberikan arti bagi masing-masing pribadi.

Dengan melihat pakaiannya orang dapat menentukan siapa pemegang peran sebuah upacara. Busana dewasa dibedakan menjadi empat macam yaitu ubet-ubet, samekan, rasukan dan kampuhan. Pada zaman Sultan Hamengku Buwono I pernah dibuat rancangan busana pria yang dinamakan surjan atau takwa. Takwa berasal dari kata taqwa yang berarti patuh pada Allah. Dengan busana taqwa diharapkan para pemakainya selalu ingat akan perintah Allah.

Kata surjan diambil dari kata surja yang berarti nglungsur wonten jaja atau meluncur melewati dada, sehingga bentuk surjan lebih panjang didepan daripada belakang. Pada upacara (semisal) grebeg Syawal, putri-putri kerabat Keraton yang sudah bersuami mengenakan busana kampuhan dengan tengahan, nyamping cinde, udhet, slepe, ukel tekuk, ceplok jebehan satu warna, pethat gunungan, sengkang, supe, kacu sutra. Aksesori sanggul berupa ceplok jebehan. Tapi untuk grebeg Mulud hiasan sanggul yang dikenakan ceplok tanpa jebehan.

Gitu deh…

Sumber: Heritage of Java

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar