Lokasi Pengoenjoeng Blog

Sabtu, 07 Februari 2009

Jamu, jamu…, jamune mas.




Hingga sekarang masih bisa kita temukan mbak2 penjual jamu gendong. Rata2 mereka berpenampilan lumayan, sehat, singset. Memang mesti begitu, penampilannya ngiras promosi, khan yang dijual jamu untuk kesehatan dan untuk kecantikan luar dalam. Ada jamu galian singset, jamu sari rapet, beras kencur dsb. Ya, tradisi minum ataupun meracik jamu memang lekat dengan kehidupan masyarakat Jawa.

Ibu saya hobi minum jamu. Meskipun rasanya pahit, tapi beliau tenggak juga jamu pahit itu dengan enaknya, tanpa ragu. Sementara saya pilih beras kencur, jamu yang rasanya manis. Dulu, jamu itu disajikan di wadah serupa cawan terbuat dari batok kelapa, unik sekali.

Selain di gendong dibawa jalan2, ada juga jamu yang dijual menetap, di warung jamu. Di Jogja ada lho warung jamu yang kondangnya sudah sejak dari dulu, namanya Warung Jamu Ginggang. Tak sulit menemukan warung kecil di sudut jalan daerah Pakualaman itu, karena hampir sebagian warga Jogja mengenalnya. Inilah satu-satunya "resto jamu tradisional" yang ada di Jogja dan sudah berdiri sejak tahun 1925. Pengin tehe kisahnya?

Begini storinya. Pada mulanya, berbagai ramuan minuman kesehatan tradisional berbentuk jamu berlabel Jamu Ginggang itu diracik oleh seorang pembuat jamu di lingkungan Kraton di jaman Pakualam ke VI. Mbah Joyo, tukang jamu itu, biasanya meracik jamu spesial untuk dikonsumsi raja dan keluarga. Mbah Joyo memakai cara tradisonal untuk membuat jamu itu seperti menggodok dalam air untuk jamu godogan atau menggunakan piranti seperti lumpang, pipisan, parut, kuali dan sebagainya untuk jenis jamu lainnya.

Jamu itu memang berkhasiat, sehingga pihak “Ndalem Pakualaman” menyarankan mbah Joyo agar menjual jamu racikannya itu ke luar kraton. Jadilah kemudian jamu itu dijajakan keliling untuk masyarakat umum di luar tembok Pakualaman dan diberi merek dagang Tan Ginggang, dari asal kata: tansah tidak renggang, bermakna harapan agar supaya tetap erat hubungan antara kraton dengan jamunya. Jamu racikan mbah Joyo itu masih terus dijajakan dengan cara berkeliling sampai usaha tersebut dikelola oleh Birowo, penerusnya, hingga akhirnya Puspomadio, penerus Birowo memutuskan untuk berjualan secara menetap dan menghilangkan kata Tan di depan nama Ginggang.

Saat ini Jamu Ginggang yang merupakan usaha keluarga turun temurun masih tetap berusaha mempertahankan keaslian rasa serta khasiat jamunya dengan tetap menggunakan resep yang ditemukan oleh Mbah Joyo. Kini, Jamu Ginggang yang memiliki tiga produk unggulan yaitu jamu bubuk, jamu segar dan jamu godok masih dikelola oleh para keturunan Mbah Joyo.

Jamu, jamu…, jamune mas! Yang pahit, yang sedep, yang rapet, yang lemu.Lho? Ya..., mbak2 penjual jamu itu memang gemar bercanda..., biar larisss. Gitu deh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar