Lokasi Pengoenjoeng Blog

Jumat, 06 Februari 2009

SEKATEN..., sesak ati?


Jaman dulu (jadul), sekian puluh tahun lalu, keramaian pasar malam Sekatenan di Jogja selalu menarik perhatian saya. Ada banyak tontonan di sana, seperti tong setan, band, tarian2 an dsb. Juga ada bermacam permainan, ombak banyu, draimolen dll. Penjual dolanan bocah kayak gangsingan, kapal othok2, mobil2 an kayu, kodok2 an, manuk2 an, balon pit montor, angkrek alias munyuk2 an, plembungan, wayang karton, payung kertas, kitiran, dsb., ada sejibun. Saat pulang pasti jajan endog abang atau klatak, gulali ataupun tahu petis. Sebagai bocah, nonton pasar malam sekaten di Alun Alun Lor itu, wis jan, senenge pol, senang sekali.

Tidak dulu, tidak sekarang, Pasar Malam Sekaten itu selalu ada, selalu hadir di setiap perayaan ritus tradisional, Tradisi perayaan dengan menghadirkan pasar malam memang sudah ada sejak masa Hindu Jawa.

Konon, tradisi itu muncul di era Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Ceritanya, kalau nggak salah, kala itu raja sedang sedih ketika mendengar sang putra Raden Patah, ngotot dan mengancam akan memberontak bila keputusannya pindah ke agama Islam tidak disetujui. Untuk menghibur hati raja, para komposer istana pun berinisiatif menciptakan gending baru.

Sayang, ciptaan baru yang berirama nglangut itu justru bikin raja tambah manyun. Gubahan pun dikoreksi. Irama gending yang nglangut, males2an diubah menjadi berirama lebih hot, lebih oye dan bersemangat. Dengan aransemen baru itu raja pun terhibur, bisa manggut2 dan senyum2 lagi…, ramai lagi. Dan karena lagu baru itu dimainkan dengan instrumen gamelan disaat raja tengah bersedih, maka gamelan itu disebut sebagai gamelan Kyai Sekati, dari kata sedih hati atau bahasa Jawanya sesek ati,…, sekati.

Ketika Islam masuk ke tanah Jawa, Walisongo memanfaatkan kebiasaan atau tradisi yang telah ada, termasuk kegemaran masyarakat mendengarkan siaran…, gamelan. Misalnya ketika Sunan Kalijaga merayakan Maulud, pelataran masjid dihias bunga aneka warna, dan gamelan Kyai Sekati ditabuh. Suasana yang semarak dan suara gamelan yang mengalun indah itu berhasil menyedot perhatian orang banyak. Masyarakat datang berduyun-duyun, bersukacita dalam kemeriahan itu, untuk kemudian masuk Islam secara sukarela. Begitu seterusnya, setiap perayaan Maulud, gamelan kyai Sekati ditabuh, kemeriahan Pasar Malam “Sekaten” tercipta. (Sekali lagi ini kalau nggak salah lho. Kalau cerita ini keliru, ada yang bisa mbetulin? Piye Jal?).

Ning nong ning gong…, ning nong ning gong, blanggentak…, gong, begitulah bunyinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar