Lokasi Pengoenjoeng Blog

Sabtu, 07 Februari 2009

REL SEPUR…, tuit, tuit, ra duwe duiiit!



Jaman dulu (jadul), kereta api itu punya bunyi yang khas, jazz jess jazz jess dan suara peluitnya…, tuit tuit. Namun bocah2 kala itu punya versi lain. Di kuping kita, bocah Jogja, bunyi sepur itu menjadi : jo jajan, ojo jajan…, ora duwe duwiiit! (Jangan jajan, kagak punya duit). Di tempat lain versi bunyi itu bisa jadi: jaman susah, jaman susah…, susah…, cari duiiittt!!!

Jarak setasiun kereta api Tugu dengan rumah saya tidak begitu jauh, tidak lebih dari satu kilo meter dan di sekitar situlah saya dulu biasa bermain. Bermain di pinggir rel, nyari batu api alias kerikil yang ada banyak di situ, ada di antara kayu2 bantalan rel, ataupun masang paku besar di atas rel itu agar paku menjadi pipih terlindas oleh kereta api yang melintas. Arah ke barat, rel itu menuju kota Jakarta. Wah enaknya, segitu jauhnya perjalanan tapi sopirnya bisa santai, tidak perlu nyopir. Mungkin karena itulah sopir kereta api bukan disebut sopir melainkan masinis.

Kereta api itu selain punya kepala alias lokomotif juga punya badan alias gerbong2. Rangkaian gerbongnya bisa banyak, lima, enam, tujuh ataupun lebih. Wis jan, persis…, ular naga panjangnya, bukan kepalang. Sewaktu bocah pengin lho saya naik kereta api, tapi naik di..., kepalanya. Kesampaiankah keinginan si bocah itu? Saya akan cerita dilain waktu. Sekarang kita akan cerita dulu soal riwayat rel kereta.

Manfaat rel sudah diketahui orang sejak lama sebelum Masehi, diperoleh dari pengalaman saat menarik atau mendorong gerobak di jalan tanah nan becek. Di musim hujan atau ketika kondisi tanah basah kehujanan, roda gerobak akan menekan tanah sehingga meninggalkan jejak berupa cekungan. Setelah selang beberapa waktu, tanah yang sering dilalui itu akan mengeras. Dan ternyata menjalankan gerobak lewat bagian tanah yang mengeras itu lebih gampang. Jalur tapak roda di tanah telah berperan bisa mengarahkan roda.Karena sudah tercipta jalur, maka tugas si pendorong kini ya tinggal ndorong gerobak aja, tak perlu lagi repot2 nyetir.

Mau hujan mau tidak, berjalan di atas rel akan sama saja, akan sama mudahnya alias tidak tergantung cuaca. Di abad ke-18 angkutan batu bara menggunakan prinsip jalur rel ini dengan memakai papan kayu sebagai jalurnya. Dalam perkembangannya, setelah besi digunakan untuk berbagai keperluan, para ahli membuat roda yang berlapis besi tipis. Begitu juga jalur kayunya, dilapisi besi cor di atasnya serta ditinggikan kedua sisinya. Makin moderen, dibuatlah rel besi sebagai pengganti rel kayu. Jadinya ya kayak rel kereta api yang sering kita lihat sekarang ini, berupa dua besi panjang yang selalu berbaring berpasangan namun tak pernah saling bersentuhan…

Gitu deh…

Dan ini ada permainan kata yang bisa bikin lidah kita "kelibet". Ucapkan berulang kali, mula2 lambat, tapi kemudian dipercepat, kata2 seperti ini:
"Lor ngeril kidul ngeril, lor ngeril kidul ngeril"

Ditanggung deh kita bakal keseleo lidah. Mau coba?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar