Lokasi Pengoenjoeng Blog

Jumat, 13 Februari 2009

Nyai, nyai…

Dari segi bahasa, persoalan nyai atau nyi terletak pada makna gandanya yang bukan saja berbeda, tetapi juga bertentangan. Dihadapkan pada sebutan itu, citra dan moralitas kaum Hawa seperti terbelah dua: mulia dan hina.

Pengertian pertama nyai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua: adalah panggilan untuk orang perempuan yang sudah kawin atau sudah tua; juga panggilan untuk orang perempuan yang lebih tua daripada orang perempuan yang memanggil. Bahwa sebutan nyai atau nyi memuliakan perempuan juga bisa kita lihat pada panggilan bagi beberapa tokoh sejarah Indonesia seperti Nyi Hadjar Dewantara dan Nyi Ageng Serang.

Pengertian kedua tentang nyai berbeda dengan pengertian pertama. Pengertian yang kedua ini diwarisi dari sistem sosial kolonial di Hindia Belanda, yakni ’gundik orang asing, terutama orang Eropa’.

Pada masa itu sebutan nyai hanyalah eufemisme untuk para bedinde yang diangkat sebagai istri gelap tuan-tuan kolonial selagi istri resmi mereka ditinggalkan di Eropa. Agar tidak memalukan sang tuan, para nyai didandani. Mereka diajari beretiket dan berbahasa Belanda, menikmati musik klasik, dan menerima tamu layaknya istri sah. Menurut De Haan dalam Oud Batavia (1922), para majikan juga menyematkan nama elok bagi para nyai: Saarce, Roosce, Dorce(?)dsb.

Kehidupan para nyai yang tersimpan dalam loji-loji besar menyebar melalui cerita fiksi yang digolongkan oleh Commissie voor de Volkslectuur (Balai Pustaka sekarang) sebagai roman picisan, seperti karangan G. Francis, Tjerita Njai Dasima (1896).

Nyai itu sebutan jadul, sekarang sudah tak terdengar lagi. Nyai, nyai….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar