Lokasi Pengoenjoeng Blog

Kamis, 11 Juni 2009

“PIKULAN”…, EKSOTISME JADUL



Baru sekarang ini saja para pedagang makanan, bubur, bakso, tongseng, soto, rujak, wedang ronde, sate dsb. menjajakan dagangannya keliling kampung dengan menggunakan gerobak dorong. Dulu mah kagak begitu. Dulu "kitchen going around" alias "dapur keliling" itu tidak didorong melainkan digotong kesono kemari dengan dipikul. Ya, sebelum muncul gerobak beroda untuk mengangkut barang2, termasuk mengangkut jajanan/makanan, orang di Jawa lebih mengenal pikulan.

Dan konon pikulan itu berasal dari kata dalam bahasa China.., pikul. Pikul pada mulanya digunakan sebagai ukuran berat, satu pikul lebih kurang setara dengan 60 kilogram, gitu. Dalam perkembangannya pikulan yang semula hanya untuk mengukur berat itu kemudian menjadi alat untuk membawa atau mengangkut berbagai jenis barang.

Ujud pikulan untuk mengangkut dagangan makanan biasanya berupa dua buah kotak berukuran besar atau kecil yang terbuat dari kayu dan dihubungkan dengan bambu yang melengkung. Satu kotak biasanya berisi anglo atau kompor yang digunakan untuk memanaskan makanan. Satu kotak lainnya berisi bahanbaku makanan, piring, dan juga peralatan masak lain.

Si pedagang akan memikul pikulan itu dibahunya. Ditaruhnya batang bambu itu di bahu pas di bagian tengahnya sehingga seimbang saat dibawa berjalan. Di pertigaan atau perempatan jalan kampung, atau di gardu, atau juga di gerbang desa dimana banyak orang lewat ataupun berkumpul, dia biasanya akan berhenti menanti pembeli.

Dagangan ditawarkan selain dengan teriakannya yang khas, te sateee, misalnya, juga bisa dengan cara memukul sesuatu, misalnya mangkok, bambu kecil atau kentongan kecil dengan irama ketukan yang khas, teng teng teeeeng atau tik tak tik tok tok tok tok…, sehingga kita para calon pembeli tanpa melihatpun sudah tahu pasti makanan apa sih yang sedang dijajakannya. Wis jan, unik sekali…

Eksotisme jadul, eksotisme "dapur keliling" alias berdagang makanan dengan menggunakan pikulan kini sudah makin jarang ditemukan karena dianggap kurang praktis. Sehingga sangat mungkin pikulan ini tak lama lagi bakal menjadi barang antik.

Gitu deh…

2 komentar:

  1. Wuapik tenan, Cak!

    Pikulan macan ini masih kita jumpai di desa-desa, termasuk di Jawa Timur. Coba jalan-jalan ke pegunungan, Trawas, Pacet, Ijen, dan sebagainya, kita mudah menemukan pemandangan ini. Orang jualan sate atau lontong pun masih banyak yang begini.

    Foto pedagang Jawa tempo doeloe itu sangat menarik dan penuh makna. Bagaimana mereka berusaha dari bawah, hanya makan bubur, sederhana, tidak foya-foya... dan akhirnya bisa mengakumulasi modal. Jadi kayalah dia!

    Kita perlu belajar dari mereka. Bahwa semua bidang itu perlu kerja keras. Tidak ada sukses yang instan.

    Mas Dimas, saya izinkan mengutip artikel AT Mahmud dan Ucok AKA Harahap. Mereka ini juga mengawali karir dari NOL, serba sederhana. Salam musik!

    BalasHapus
  2. Mas Hurek, terima kasih.

    Salam hangat.

    BalasHapus