Lokasi Pengoenjoeng Blog

Kamis, 18 Juni 2009

BISNIS ROKOK TINGWE..., KAGAK ADA MATINYE


Orang Jawa umumnya tahu istilah “tingwe”. Kependekan dari linting dewe. Maksudnya melinting sendiri. Ini untuk menggambarkan kegiatan para perokok yang melinting sendiri tembakau untuk kemudian diisap. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang jaman dulu tatkala rokok kemasan seperti jaman sekarang belum jadi industri.

Sejak beberapa tahun belakangan, tembakau untuk keperluan tingwe ini mulai marak dijajakan di berbagai kota di Jawa. Penggemarnya bukan saja kalangan orang-orang tua, tapi juga anak-anak muda. Yang dicari agaknya adalah sensasi meramu sendiri tembakau itu. Plus keasyikan melintingnya menjadi bentuk yang benar-benar personalized, sesuai dengan keinginan si individu. Ditambah lagi sebagai semacam nostalgia ke masa lalu.

Dan kini di Jakarta warung atau kedai yang menjajakan tembakau “tingwe” pun dapat ditemukan. Salah satunya adalah “KEDAI TEMBAKAU TINGWE ANEKA RASA” yang saya garap sendiri sejak beberapa tahun lalu, Kedai Tembakau Tingwe Aneka Rasa menjual produk: “Mbako Tingwe” , yaitu Tembakau Rokok Aneka Rasa, Alat Linting, Kertas Rokok, Filter, serta Aneka Asesoris seperti Dompet Rokok, Pipa Rokok Berfilter, Korek Api dsb.

Yang unik dari Kedai Tembakau Tingwe Aneka Rasa ini adalah tema kampanye pemasarannya. Kita tidak memilih mereklamekan sensasi melinting sendiri itu sebagai yang utama, melainkan harganya yang murah meriahlah yang kita tonjolkan. Mengapa begitu? Ya, mengingat sekarang ini jaman prihatin. Harga-harga naik, daya beli menurun. Keuangan keluarga harus dihemat. Sementara kebutuhan merokok tidak mungkin distop. Nah, tingwe bisa jadi solusinya. Bisa hemat sampai 60%.

Ini bukan bohong lho. Bayangkanlah. Harga rokok tingwe yang kita tawarkan berkisar dari Rp 13 ribu per 60 batang hingga Rp. 15 ribu per 60 batang atau rata-rata Rp 200 per batang hingga Rp 250 per batang. Bandingkan dengan harga standar rokok kemasan yang umumnya sudah dua kali atau bahkan tiga kali lebih mahal.

Mungkin ada yang bertanya. Ini kan rokok lintingan sendiri. Kok hitungannya per batang?
Memang. Produk Mbako Tingwe yang dijual di Kedai Tembakau Tingwe kita dipaket sedemikian rupa sehingga dalam satu paket, konsumen sudah mendapatkan alat linting, kertas rokok atau papir, filter, lem dan tembakau. Kalau belum bisa melinting sendiri, kita akan mengajarkannya. Kalau belum bisa juga, kita sediakan juga rokok yang sudah “jadi”.

Ada aneka rasa tembakau yang kita jual. Aneka rasa itu tidak berbeda jauh dengan rokok-rokok merek populer. Sebab, produk-produk Mbako Tingwe, tembakau rokok aneka rasa ini memang dihasilkan oleh produsen rokok dan peracik berpengalaman dari berbagai daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kertas rokoknya sendiri nyaris persis dengan rokok-rokok kemasan populer, baik yang kretek maupun non kretek. Jadi jangan heran apabila nama-nama produk Mbako Tingwe ini bermiripan juga dengan merek rokok ternama. Misalnya ada yang kita namai Margono (plesetan dari Marlboro), Samsuri dan Samsul (plesetan dari Dji Sam Soe), Mail (plesetan dari Mild), Supri, Gafur, dan sebagainya. Produk kita bagi menjadi dua kelas, yakni B, dengan harga rata-rata Rp 13.000,- per 60 batang dan kelas A dengan rata-rata Rp 15 ribu per 60 batang. Sedangkan untuk tembakau rokok isi ulang – maksudnya tanpa alat linting – harganya Rp 8.000,- dan Rp 10.000,- per 60 batang.

ONGKOS DIPANGKAS
Menurut data, dari tahun ke tahun permintaan rokok di Indonesia terus meningkat. Tahun 1985, permintaan rokok baru 100 miliar batang. Pada tahun 2005 sudah menjadi 220 miliar batang. Dan perokok pemula di Indonesia tumbuh paling pesat sedunia yakni 44% usia 10 – 19 tahun dan 37% usia 20 – 29 tahun. Bisnis rokok pun meraksasa. Tetapi harganya pun turut naik seiring dengan makin banyaknya beban yang ditanggung produsennya; mulai dari biaya iklan, merek, distribusi, hingga cukai.

Dengan demikian, rokok tingwe jadi alternative karena menjanjikan penghematan besar. Dari sisi konsumen, harganya jelas jauh lebih murah, sementara rasa dan modelnya tak jauh berbeda dengan rokok kemasan. Dari sudut produsen, tembakau untuk tingwe ini bisa hadir dengan harga miring karena aneka biaya sudah dipangkas. Mulai dari ongkos linting, biaya overhead pabrik, biaya kemasan, biaya iklan, biaya distribusi, biaya administrasi, biaya umum dan lain-lain. Perjalanan tembakaupun dipersingkat. Setelah tembakau diracik dan dikenakan cukai, tembakau tidak dilinting, dikemas dan diedarkan oleh pabrik rokok, tapi langsung dihadirkan ke konsumen untuk dilinting sendiri antara lain melalui Kedai Tembakau Tingwe Aneka Rasa.

Lagi pula, membuat rokok tingwe itu sangat gampang. Modalnya tembakau, papir, filter, lem dan alat linting. Dengan berlatih beberapa kali, hasilnya tidak kalah dengan lintingan pabrik. Sementara rasa dan modelnya bisa diatur sesuai selera, malah bisa pakai filter juga.

Kedai tembakau yang kita kembangkan berupa warung atau kedai tempat kongkow-kongkow. Ada tersedia tempat duduk dan meja, plus aneka asesori yang berhubungan dengan rokok. Misalnya, di Kedai Tembakau Tingwe Aneka Rasa dijual juga dompet rokok, pipa rokok berfilter dan lain-lain. Selama ini omzetnya lumayan. Penjualan yang terutama memang dari Tingwe, tetapi penjualan asesoris juga cukup signifikan.

Ayo silahkan mampir ke Kedai Tembakau Tingwe Aneka Rasa. Nikmati hematnya, nikmati sensasi merokok tingwe. Alamatnya di: Jalan Raya Tengah, seberang Gang Antariksa, Kampung Gedong, Pasarrebo, Jakarta Timur. Telpon: Dimas Anto 021 8411717.

Gitu deh…

3 komentar:

  1. Salam kenal,mas Anto, salam dari Tingwe Medan...

    BalasHapus
  2. Mas saya mau nanya... Apakah masih buka tokonya.. Sorry masalahnya tulisannya adalah tahun 2009 lalu ...

    BalasHapus
  3. tokonya sekarang masih ada tidak...?!

    BalasHapus