Lokasi Pengoenjoeng Blog

Sabtu, 04 April 2009

BATU MULIA, RUBY DAN SAPPHIRE

Salah satu jenis batu mulia atau gemstone yang sudah tidak asing lagi namanya di telinga kita adalah Ruby dan Sapphire. Selain mulia, batu2 ini juga berharga. Saking berharganya, nama Ruby dan Sapphire sering dipakai orang untuk menamai buah hati kesayangannya, seperti Rubiyanto atau Rubiyanti, Sapphira atau Sapphiri.

Dan batu bergengsi macam ruby dan sapphire ini dipasar digolongkan dalam berbagai grade, kelas atau kategori, dari grade A hingga D. Tinggi harganya bisa membuat kita klenger deh. Mahalnya bisa berjuta-juta. Terlebih lagi yang cantik, yang bermutu, yang istimewa. Namun reputasi mewah itu tidak lalu membuat kita ciut nyali. Kita malah jadi terangsang untuk mencari tahu lebih banyak, siapa sih sesungguhnya gerangan dia, si cantik yang jual mahal itu.


Ternyata, meskipun yang satu merah dan yang lain biru tapi sebenarnya ruby dan sapphire beraasal dari satu jenis mineral yang sama yaitu Corundum alias Aluminium Oxide (Al2O3). Mineral Corundum ini terbentuknya jauh di sana, di dalam perut bumi, di suhu ribuan derajat celsius, jutaan tahun lalu. Dia muncul ke permukaan dengan cara nebeng lahar yang muncrat atau ndledek akibat gunung berapi terbatuk atau akibat bumi menggeliat. Hal ini dapat kita ketahui dari keberadaannya di daerah Srilangka (Ceylon), Madagascar, Kenya dan Tanzania. Di masa lalu daerah2 tersebut satu sama lain memang bersaudara secara geologi. Selain di sana corundum ada juga di Kashmir (India), Pakistan, Thailand, Kamboja, Burma, Afghanistan, Colombia, Montana (USA), China serta Australia.

Corundum itu ujudnya kecil saja, hanya serupa kerikil, bukan seperti kerakal atau batu besar. Ditimang terasa mantap, terasa padat dan berisi dan…, wow, kerasnya minta ampun! Ya, tingkat kekerasan corundum berskala 9, terpaut hanya 1 point dibawah intan yang kita kenal sebagai batu terkeras sejagat. Berat jenis corundum mendekati angka 4, artinya seperempat gelas berisi corundum bobotnya setara dengan air segelas penuh. Bentuk kristalnya tidak bulat2 kayak telur melainkan bersegi-segi (hexagonal/trigonal).

Aslinya mineral Corundum tidak berwarna. Imbuhan unsur lain2 lah yang kemudian membuatnya nampak merona merah atau lebam membiru dan sebagainya. Ya, unsur pewarna seperti Chromium (Ce), Ferrum (Fe), Titanium (Ti) dan Nickel (Ni) telah membuatnya berwarna warni. Di antara warna warni corundum, yang terkenal adalah warna merah yang kita sebut batu Ruby, serta warna biru yang disebut Blue Sapphire. Di luar warna merah dan biru, kita kenal dengan sebutan Funky Sapphire.

BATU RUBY
Kata ruby berasal dari bahasa latin ruben, yang artinya merah. Dalam istilah sansekerta ruby disebut sebagai "ratnaraj" atau raja permata (King of Gemstone). Orang menyukai warna merahnya yang seperti lampu rem itu. Warna merah dianggap sebagai lambang gairah dan semangat yang menyala-nyala tak kenal padam.

Dan merahnya ruby ini terjadi karena kristal corundum (Al2O3) kerasukan unsur chromium (Ce). Banyak sedikitnya dosis pewarna ini akan mempengaruhi kepekatan warnanya. Over dosis akan membuatnya nampak kelam serta gelap…


BLUE SAPPHIRE
Sapphire berasal dari kata Sappheiros dalam bahasa Yunani yang artinya biru. Sebagian orang baik pria maupun wanita menyukai warna biru yang berkesan melankolis. Dan blue sapphire adalah sebutan yang biasa untuk corundum berwarna biru ini. Birunya sapphire itu terjadi karena pengaruh unsur ferrum (Fe) serta titanium (Ti).

FUNKY SAPPHIRE
Kecuali merah dan biru, corundum berwarna lain disebut funky sapphire. Di kelompok funky ini ada warna pink, orange, hijau, kuning, ungu dan sebagainya. Warna pink atau merah jambu itu pernah mengundang dilema lho. Soalnya orang mempertanyakan kapan sih batas warna merah itu dimulai dan kapan berakhir. Apakah warna merah muda itu termasuk kelompok ruby atau sudah masuk wilayah sapphire. Tapi ketimbang ribut, orang kemudian dipersilahkan memilih saja sendiri sesuka selera. Kita boleh menyebutnya pink ruby, boleh juga pink sapphire. Gitu aja kok repot…

Sapphire warna jingga disebut juga padparadscha. Perpaduan antara unsur Cr dan Fe menghasilkan warna jingga atau orange seperti matahari senja itu.

Warna hijau corundum disebabkan oleh unsur nickel (Ni). Sedangkan warna lain-lain terjadi karena beberapa unsur tercampur-aduk. Merah campur biru hasilnya warna ungu. Ungu campur hijau menghasilkan warna coklat dan seterusnya. Nah, dari kawin campur antar unsur pewarna itu kemudian lahirlah lusinan anak-anak warna, yaitu si Funky Sapphire.

O ya, ada lagi yang disebut color change sapphire, yaitu batu Sapphire yang dapat menampilkan perubahan warna dari satu warna ke warna yang lain, dari biru muda menjadi biru tua atau ungu misalnya. Ini bisa terjadi karena adanya kombinasi antara pengaruh struktur atom di batu tersebut dengan sinar ultraviolet matahari.

STAR SAPPHIRE DAN STAR RUBY
Selain Ruby dan Sapphire yang polos biasa, ada juga yang disebut Star Ruby dan Star Sapphire. Disebut begitu lantaran di bodi batu ruby atau sapphire itu ada gambaran serupa bintang berkaki enam kala batu itu tertimpa cahaya. Gambar bintang kaki enam itu akan nampak nyata ketika ruby atau sapphire itu warnanya gelap serta tidak tembus pandang.

Saat ini Star Sapphire terbesar di dunia adalah "Star of India" seberat 534 karat atau sekitar 1 ons, diikuti kemudian oleh "Star of Asia" seberat 330 karat. Sedangkan Star Ruby yang paling spektakuler sebesar atau seberat 138 karat.

Sebagai catatan, “karat” adalah ukuran berat batu mulia. Satu karat setara dengan 0,2 gram atau dengan kata lain satu gram sama dengan 5 karat. Lalu, apakah satu karat batu mulia itu volumenya sama antara jenis yang satu dengan yang lain? Jawabnya, tentu saja tidak. Mengapa? Karena besar kecilnya atau volume batu mulia sangat tergantung kepada berat jenisnya. Sebagai contoh, batu ruby dan sapphire memiliki berat jenis yang lebih besar dibanding batu akik, yaitu 4 dibanding 2,6. Oleh karena itu satu karat batu akik akan nampak lebih besar, sekitar 1,5 kali, dibanding batu ruby ataupun sapphire.


MAHAL
Harga ruby atau sapphire yang kondisinya oke tidak kurang dari US $ 200 per karat atau Rp 2 juta per karat. Padahal mata cincin sebesar telur cicak ukurannya bisa sekitar 10 karat. Jadi nilai semata cincin itu kira-kira Rp. 20 juta. Harga tersebut sangat bervariasi, bisa melambung setinggi langit, tergantung kepada faktor kecantikan, keaslian, besar, kecil, model, kelangkaan dsb.

Baik 20 juta atau 20 milyar rupiah, semuanya itu masih di luar jangkauan kebanyakan kita2. Anggaran rumah tangga biasa tentu belum siap untuk belanja barang semahal itu. Entah kalau yang dipakai belanja itu adalah anggaran belanja negara. Lho?

Yang asyik, untuk urusan batu2 mulia ini, kalimat pelipur lara seperti: “Mencintai tidak harus memiliki”, itu boleh kita benarkan. Soalnya kita memang tidak punya duit untuk membelinya, Dengan tahu kisahnya saja, ternyata kita sudah cukup terpuaskan. Bener lho, kini kita mengenal batu2 mulia itu sebagai karya alam yang indah tiada tara. Warna-warninya bagai pelangi. Semua mereka asalnya dari perut bumi yang terkenal gelap dan gelap. Dan kita ditakjubkan oleh kenyataan bahwa lho ada pelangi tumbuh di sana, bahwa lho ada pesona di balik kegelapan. Ah…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar