Lokasi Pengoenjoeng Blog

Sabtu, 04 April 2009

MINGGU PALMA

Pengantar:
Ini tulisan Papi Suhendra di majalah elektronik Papyrus. Papi Iss menulis tentang kisah yang terjadi kisaran 2000 tahun lalu, yang sampai sekarang masih tetap dikenang dan diperingati oleh jagat. Pastilah itu sesuatu yang sungguh istimewa.


Judul: MINGGU PALMA
Oleh: Suhendra

Tak terasa begitu cepat waktu berlalu dan kita sudah masuk ke MINGGU PALMA. Yesus sudah tahu bahwa kalau berani masuk Yerusalem maka Dia akan berhadap-hadapan langsung dengan Para Imam Agung, Para pinitua agama Yahudi yang saat itu sudah memuncak rasa muak dan bencinya kepada Yesus karena Yesus menebar pesona, menarik banyak umat dan mulai meninggalkan mereka. Mereka sering dimaki dan dikata katai oleh Yesus sebagai kuburan yang luarnya bagus, dalamnya busuk, atau sebagai penegak aturan yang dengan jaripun tak mau mengangkat beban peraturan yang mereka tegakkan dengan sanksi sosial yang nyata.

Yesus bagi para tua adalah pemberontak tradisi. Lihatlah Dia selalu melanggar tatanan itu, semisal bekerja atau melakukan sesuatu yang terlarang pada hari Sabat, hari istirahat, membiarkan murid-Nya makan dengan tangan yang belum dicuci, membiarkan mereka makan saat berpuasa. Dia harus dimusnahkan agar tidak mengganggu tatanan yang sudah mapan ratusan tahun. Lebih baik satu orang mati bagi bangsa itu daripada ........ seluruh bangsa hancur.

Inti pokok dari dispute ini adalah: yang satu menegakkan aturan agar tatanan duniawi berjalan baik dan mereka amat berada di kedudukan empuk yang membuat mereka kaya raya. semisal: menukarkan uang luar negeri dengan uang setempat dengan kurs yang amat njomplang; atau menukarkan hewan persembahan yang berkualitas dengan hewan sekarat dll.

Tak heran bahwa mereka kaya raya. Diantaranya adalah Nikodemus yang diam diam bersimpati pada Yesus. Dia bisa membawa minyak mahal saat merawat Jenasah Yesus seberat 50 kati! Dan menurut Yohanes wangi wangian itu adalah campuran damar dan cendana. Yusuf Arimatea juga seorang anggota Majelis Besar yang kaya raya. Dialah yang merawat jenasah Yesus dan menyediakan kain lenan untuk mengkafani jenasah Yesus dan menyediakan kubur untuk Yesus yang menurut Matius digalinya di bukit batu, baru gres….

Tetapi Yesus dengan penuh kesadaran tetap masuk ke Yerusalem karena Dia tahu disitulah Dia akan diangkat dari bumi dan semua orang akan memandang Dia.

Saat masuk ke Yerusalempun Yesus memilih cara seperti yang sudah diprediksi dalam Kitab Suci, naik anak keledai, lambang dari kelemahan. Kuda serdadu biasanya besar besar dan kuat kuat, perkasa dan larinya kencang seperti angin. Anak keledai? Kadang kadang mogok bandel kagak mau jalan.

Orang orang jelata Yerusalem, mengira Yesus adalah Anak Daud dalam arti anak raja, yang akan menjadi pemimpin mereka untuk membebaskan dari penjajahan Roma. Mereka mengelu elukan Yesus dengan melambai lambaikan daun daun palma karena memang di sana yang ada ya pohon kurma doang. kagak ada tulip, kagak ada sakura, kagak ada pohon melati. Mereka meletakkan jubah jubah mereka sebagai karpet untuk dilalui anak keledai yang dinaiki Yesus.

Waktu Yesus diprotes agar menyuruh rakyat diam, Yesus bilang, kalau mereka diam, batu batu ini yang akan berteriak mengelu elukan Dia. Wah tambah gawat dong. Lah kok mereka percaya omongan konyol seperti itu? Ya karena mereka sudah menyaksikan banyak hal ajaib dilakukan Yesus. Orang buta melek, orang tuli mendengar, orang lumpuh jalan, orang mati bangkit, orang sakit kusta tahir, danau kacau menjadi tenang, etc. Jadi kalau Yesus bilang batu batu akan teriak, mereka terdiam, dalam hati mereka mengakui Yesus bisa melakukan itu.

Yang sama sekali tidak masuk di akal mereka adalah bahwa Yesus masuk ke Yerusalem bukan sebagai panglima perang, melainkan korban sembelihan…

Korban adalah pepulih,
Korban adalah apa yang dilepas orang untuk memperoleh rekonsiliasi, perdamaian.
Korban adalah persembahan
Korban pembaharu dunia.


Gitu deh...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar