Lokasi Pengoenjoeng Blog

Sabtu, 25 April 2009

"Komuniti Tionghoa Yogyakarta"…, seri Pertama

Pengantar:
Kisah di bawah ini merupakan cuplikan dari sebuah skripi jadul (digarap tahun 1970) oleh Papi Rayhard berjudul "Komuniti Tionghoa Yogyakarta", [Monografi Minoritas Lokal dengan Focus Sosiologis].

Dan kisah yang menarik ini akan ditayangkan di blog Serba Jadul secara serial. Selamat menikmati…

.
Kota Yogyakarta berkembang seperti semua ‘settlement’ pada lazimnya dari sebuah desa kecil belaka. Kalau melihat bentuknya yang sekarang sukarlah bagi kita untuk mengatakan manakah inti asli daripada kota itu. Rupanya aliran sungai Code sangat mempengaruhi pertumbuhan selanjutnya. Sungai Winanga dan Gajahwong yang baru berperanan pada tahun-tahun akhir ini mengalir melalui kota dan juga turut menentukan bentuknya.

Di sekitar hutan Beringan terdapatlah sebuah desa yang bernama Pacetokan, yaitu desa asli yang merupakan inti Yogyakarta di kemudian hari. Nama hutan Beringan ini masih terjelma dalam nama pasar Beringharjo dan Jalan Paberingan. Kiranya letak hutan itu memang di dekat pasar, atau barangkali lebih tepat di sebelah selatannya, yaitu di keraton yang sekarang. Sebuah dalem yang bernama Gerjitawati berada di sekitar dukuh Pacetokan 1). Pada tahun 1739 (menurut catatan Gegevens) Pakubuwono mengubah nama Gerjitawati menjadi Ayogya. Kita lihat dari situlah berasal nama kota kita di kemudian hari.

Maka secara kasar dapat dikatakan bahwa Yogyakarta telah muncul pada permulaan abad 18. Dalam sumber asli dikatakan bahwa Mangkubumi telah berdiam di dalem itu pada tahun-tahun 1747 dan 1749, di saat ramainya peperangan suksesi di Jawa Tengah. 'Dalem' yang dulunya bernama Gerjitawati itu dibongkar dan dihancurkan oleh mayor Feber dalam tahun 1751. Kami berpendapat bahwa mungkin sekali sudah sejak redanya Perang atau Pemberontakan Cina di Batavia pada tahun 1740, Yogyakarta mulai tampil ke muka. Menarik sekali untuk melihat timbulnya Yogyakarta bila dihubungkan dengan Perang Cina 2). Akan tetapi hubungan kausal langsung barangkali tipis sekali, itupun bila ada.

Sesudah perang suksesi selesai dengan diadakannya Perdamaian Giyanti (13 Pebruari, 1755), maka pembangunan kota segera dimulai. Sementara itu raja yang baru, Mangkubumi yang bergelar Hamengku Buwono I, tinggal di kraton darurat di sebelah barat Yogyakarta (lima km ke barat), di kraton Ambarketawang yang kini masih menunjukkan sedikit sisanya. Hutan Beringan dibuka pada hari Jumat bulan Rejeb tanggal 2, yaitu perletakan batu pertama kota Yogyakarta. Kraton baru selesai pada tahun tahun Wawu 1681, atau tanggal 2 April, 1756. Tanggal itulah (datum1757 - 'dwi naga rasa tunggal' menurut sengkalan Jawa) tanggal resmi berdirinya kota, sedangkan detail-detailnya termasuk bagian-bagian penting masih menyusul penyelesaian: 1767 Siti Hinggil selesai, dua tahun kemudian Prabayeksa telah siap untuk digunakan.

Menggambarkan pertumbuhan kota Yogyakarta sebagai sebuah kota relatif modern di jaman kita adalah sesuatu yang salah dan anachronistis. Janganlah kita membayangkan adanya “town planner” yang disewa dan dipekerjakan oleh penguasa politik. Sangat mungkin penguasa politik itulah yang menjadi perancang kota, atau lebih tepat kraton.

Semua ibukota negeri Asia, sebelum menangnya pengaruh Barat secara fundamentil, adalah kota kraton. Ayuthia, Lo-yang, Yedo atau kota lainnya lagi adalah kota-kota semacam itu. Biasanya kota pusat pemerintah didampingi oleh pasar sebagai supplier kebutuhan dan rendez-vous hasil bumi serta produksi kebutuhan lain-lain. Pada mulanya Yogyakarta adalah sebuah kota kraton. Nama-nama tempat yang sekarang masih ada mengingatkan kita akan fungsi service atau pelayanan di sekeliling kraton yang membutuhkannya. Gerjen (gerji-tukang jahit), Patehan (tukang teh), Gamelan (gamel-perawat kuda), termasuk kelompok karya atau gilde kraton, sedangkan Gedongan, Prajuritan (tempat serdadu), Kumendaman (tempat perwira / komandan), termasuk kelompok aparatur pemerintahan.

Di atas latar belakang perkembangan inilah harus kita letakkan golongan Tionghoa. Di manakah tempat mereka itu? Hal ini merupakan konyektur historis belaka. Kalau orang Tionghoa berada di daerah itu, boleh dikatakan, bahwa satu-satunya motif atau 'raison d’etre' adalah mencari penghidupan, sinonim dengan perdagangan, (sebab untuk waktu itu pertukangan bagi Yogyakarta boleh jadi belum diperlukan). Dapat diterima kiranya persangkaan bahwa orang Tionghoa mulai berdatangan dan hidup di Yogyakarta sejak kota itu menjadi kota pasar. Kami katakan di atas bahwa kraton sebagai ibukota baiasanya didampingi oleh pasar. Apakah kraton sengaja didirikan mendekati pasar ataukah pasar mengikuti kraton? Pertanyaan ini harus dijawab dengan terbuka. Dalam hal pertama, itu akan berarti bahwa orang Tionghoa mungkin sudah ada di pasar (barangkali di Pingit?) di daerah Yogyakarta sebelum kraton berdiri. Sedangkan dalam hal kedua orang Cina baru akan muncul setelah tahun 1757, sebagai diperkirakan oleh Darmosugito 3).

Akan tetapi sebagai kemungkinan lain ijinkanlah kami mengemukakan pendapat bahwa hal pertama bisa juga terjadi. Kami ajukan sebagai pertimbangan bahwa 'sifat-lebih-keperanak-peranakan Tionghoa' di masa tu, sebagai nanti selanjutnya akan kita lihat, sangat memungkinkan bahwa mereka sudah ada di tempat yang bakal menjadi kota Yogyakarta ini. Apalagi Perang Cina (1740) yang toh mendekatkan golongan Tionghoa dengan pihak kraton pada umumnya sangat mendukung percobaan keterangan kami ini. (Juga De Graaf berkata tentang larinya sisa-sisa pemberontak Tionghoa ke pedalaman, ke 'Zuidergebergte', “pegunungan selatan” (tentunya bukan Gunung Kidul), pasti ke arah sebelah tenggara Batavia). Boleh jadi juga sebelum tahun 1757 sudah ada suatu inti koloni kecil golongan Tionghoa.

Kalau mereka datang di kota baru itu, manakah kira-kira tempat yang mereka huni? Darmosugito menulis:...”dan bagi orang Tionghoa mula-mula di kampung Kranggan, kemudian lambat laun meluas ke sana-sini, terutama ke tempat-tempat yang mempunyai harapan baik dalam perdagangan' 4).

----
1) Kekaburan agak bertambah dengan adanya sumber yang berkata tentang 'bel Pacetokan' (bel atau umbul berarti sumber) atau 'rawa Pacetokan'. Letak bel ini ada di selatan perempatan Kantor Pos Besar. Rawa atau dukuh, tetapi jelas letaknya, kini, yaitu di muka tempat di mana kraton kini berdiri.

2) 'Men mag zeggen, dat hij (ie de opstand van Mangkubumi, RH) uit den Chineeschen opstand ontstaan is, ... ' Crawfurd, Deel III, p 368

3) Menurut hemat kami pendapat Darmosugito ini - sebab tidak menunjukkan sumber- sumber yang dipakainya - tetap tinggal konyektur belaka. Darmosugito berkata dalam Kota Yogyakarta 200 Tahun: 'Setapak demi setapak melangkah ke arah kemajuan. Orang dari sana-sini datang bergiliran dengan membawa bermacam-macam barang-barang dagangan keperluan sehari-hari. Di antara pedagang-pedagang itu,banyak pula yang terus bertempat tinggal di Ibukota yang baru lahir itu, di antaranya termasuk orang-orang Tionghoa' (op cit, p 23)

4) Darmosugito, ibid



Gitu deh…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar