Lokasi Pengoenjoeng Blog

Sabtu, 25 April 2009

"Komuniti Tionghoa Yogyakarta"…, seri Kedua

Pengantar:
Ini dia kisah kita tentang Komuniti Tionghoa Yogyakarta, seri kedua. Selamat menikmati lagi...


Memang Kranggan sekarang mempunyai konsentrasi kuat golongan Tionghoa. Bila hanya itulah alasan yang dipakainya, maka kami tidak dapat mengambil alih pendapat itu, sebab terlalu umum dan lemah. Sayang kami tidak dapat mengikuti alasan pendugaan Darmosugito itu sebagai tersedia dalam artikelnya. Apalagi dalam Serat 'Purwolelono' dari akhir tahun 1850-an yang mengambil latar belakang semasa (ie kontemporèn) disebutkan bahwa pada waktu itu Kranggan masih bersuasana sebagai desa kecil belaka. Suasana kota baru mulai dengan belokan ke selatan setelah Tugu yang tinggi. Kecillah kemungkinan bahwa orang Tionghoa tinggal di desa kecil, suatu keadaan yang tidak menguntungkan bagi perdagangan.

Sebaliknya bila kita mengambil pasar sebagai milieu mereka, maka keterangan-keterangan yang menarik akan tersedia. Sejak dahulu pasar di daerah kerajaan Jawa disewakan (di-'pacht'-kan) kepada penmungut bea tetap, tidak jarang seorang pejabat sedemikian adalah orang Tionghoa. Jabatan pemungut pajak itu dalam bahasa Jawa disebut sebagai jabatan 'tanda' (marktmeester), sedangkan daerah tempat pejabat itu tinggal (karena pastilah ia seorang yang penting dan terpandang) dinamakan 'ketandan'.

Dalam 'Serat Angger Gunung', fasal 33, kita baca: 'gunung (polisi) kang ambawahaké apitayaa marang wong Cina, utawa wong Jawa, kang dadi bandar pasar kang angrampasa (mumpuni, berkuasa), ...'5) Undang-undang yang berlaku pada abad 17 dan 18 ini memberikan kepada kita keterangan bahwa sungguh-sungguh orang Tionghoa telah dipakai oleh pemerintah kraton sebagai petugas istimewa, bukan saja di ibukota, melainkan di tempat-tempat lain pula. Menurut kenyataan ini dapatlah dengan cukup teliti diperkirakan bahwa orang Tionghoa tentunya tinggal di dekat pasar, atau di daerah Ketandan.

Meskipun begitu kegelapan masih ada, yaitu apakah bagian kota sekarang yang bernama Ketandan itulah tempat yang dimaksudkan, dengan kata lain apakah pasar Yogyakarta sejak permulaan sudah ada di tempatnya yang sekarang? Bangunan pasar yang sekarang ini berasal dari tahun 1925.

Tetapi mengingat bahwa semua kota di Jawa Tengah dan Timur mempunyai pola yang tertentu dan sama, di mana pusat pemerintahan hampir selalu menghadap ke arah sebuah alun-alun, di sebelah kiri dan kanannya masing-masing selalu berdiri masjid dan bangunan-bangunan pemerintahan dan tidak jauh dari alun-alun itu selalu berdirilah pasar di muka bangunan pusat pemerintahan, maka kita dibenarkan juga kiranya menyangka bahwa pasar Beringharjo memang pasar yang telah lama berada di tempat itu.

Pekerjaan yang berhubungan dengan pasar itu makin kentara bagi kita ketika kita mendengar, bahwa passerpacht Tionghoa baru dihapus dengan undang-undang pada tahun 1851 6). Jadi selama hampir seratus tahun itulah orang Tionghoa langsung giat bekerja di sekitar sistim pasar. Menurut hemat kami inilah peristiwa yang sukar disangkal dan hal yang memang sesungguhnya terjadi.

Mengenai pertanyaan apakah tidak mungkin orang Tionghoa bertani, hal itu boleh dengan mudah kita kesampingkan. Kecuali di daerah Tangerang pada umumnya hampir tidak ada Cina di Jawa yang bercocok tanam. Orang mudah heran, mengapa pendatang yang berasal dari daerah agraris itu segan bertanam 7). Alasan sesungguhnya mudah dicari. Di negeri tempat mereka datang, keadaan sekeliling mengharuskan mereka menjadi orang-orang ahli. Penduduk asli masih primitif dalam tata ekonomi pertukaran, dan mereka telah lebih berpengalaman dalam bidang perdagangan. Ditambah lagi dengan ketentuan-ketentuan pemerintah yang mendorong mereka berjalan ke arah perdagangan dan melarang ‘grondbezit’ (pemilikan tanah), tentulah mereka menguasai bidang ini 8).

Dapat disangka bahwa hidup yang terlibat dengan erat sekali dalam usaha mencari penghidupan itu tidak banyak memberi kesempatan untuk mengembangkan kebudayaan. Sampai dengan akhir abad 18 tidak ada berita tercatat mengenai kegiatan komuniti Tionghoa. Beberapa hal yang kami temukan dalam cerita sekitar kraton ingin kami kemukakan. Di bagian lain Asia Tenggara keluhan bahwa mula-mula tidak ada kebudayaan tinggi di kalangan Cina memang umum. Jadi dalam jaman ini janganlah kita berpikir mengenai kebudayaan, pendidikan saja belumlah ada. Barangkali boleh dicatat sambil lalu, bahwa bangunan orang-orang Hokkian pada umumnya lebih mempunyai selera kesenian daripada yang terdapat pada suku-suku lain. Bangunan-bangunan di Yogyakarta waktu itu mungkin telah bagus, sekurang-kurangnya dalam hal dekorasi 9).

Sudah pada masa Hamengku Buwono I adanya gapura-bea ('Chineesche tolpoort' dalam istilah naskah Belanda) dikenal di dalam kerajaannya. Raja yang mempunyai problem dengan putera sulungnya menerima berita bahwa putera itu telah merampok sebuah gapura-bea 10. Dari kejadian itu kita dapat menduga bahwa gapura-bea adalah bangunan yang kaya, karena bahkan seorang putera mahkotapun tidak mengabaikan untuk merampas kekayaannya. Yang juga jelas dapat dikatakan ialah bahwa penyelenggaraan pemungutan bea oleh orang Cina itu telah merata di daerah kerajaan.

Bahwa orang Cina secara tidak langsung masuk pula ke dalam lingkungan istana raja, dapat kita ketahui dari berita tentang isteri Hamengku Buwono I, yang nomor delapan. Isteri ini oleh Poensen diberitakan sebagai 'keturunan Cina' 11). Entah bagaimana terjadinya hubungan dengan isteri dari golongan peranakan itu tidak kita ketahui, namun jelas juga adanya hubungan dengan masyarakat Tionghoa.

Kisah lain yang menunjukkan adanya pengaruh Cina atas kehidupan kraton yaitu pada saat menjelang akhir pemerintahan raja Mataram yang pertama itu. Pada waktu beliau hampir sampai kepada ajalnya (sudah lanjut usia lagi pula dibuat bersedih hati oleh kelakuan putera mahkotanya sendiri), segala obat-obatan yang diketahui dipergunakan, 'bahkan obat-obatan Cina ...'12)
---
5 Lampah-lampahipun Raden Mas Arya Purwalelana, Serat ingkang kaping 2. Reizen van Raden Mas Arjo Poerwo Lelono, Tweede Stuk, Batavia, Ter Lands-Drukkerij, 1866, p 169. Memang ada sebagian orang Tionghoa 'ingkang dateng pinggir radinan saking Kedu' p 171), tetapi kiranya itu justru di jalan Magelang yang sekarang.

6 Dikutip oleh FA Sucipta dalam Beberapa Catatan tentang Pasar di Jawa Tengah (abad 17-18), Stencilan, Kegiatan Ilmiah dan Wisuda Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, 1970, dari Serat Angger Gunung, dalam Roorda, Javaansche Wetten, Amsterdam, 1844, p 173

7 Van Sandick, op cit, p 181. Di Semarang baru dilaksanakan tahun 1852 (lihat Liem Thian Joe, op cit, p 116).

8 Alers (Dilemma in Zuid-oost Azie, p 45). Sangkaan yang bersifat luas sekali itu, yang lebih didasarkan atas. Demikian juga tanya pemikiran teoretis (falsafi) daripada atas fakta anthropologis sosial maupun ekonomis, tidak perlu kita anggap sulit.

9 Alice Dewey berkata bahwa orang Cina menjadi pedagang juga karena 'terpaksa'. 'Thus Chinese are merchants by choice as well as of necessity'. (Peasant Marketing in Java,, p 47, note). Bandingkan juga Fromberg, Verspreide Geschriften, p 775.

10 Purcell, op cit, p 412

11 Poensen, BKI 52, p 301

12 p 313: '8º. Bij eene halfbloed Chineesche ...'

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar