Lokasi Pengoenjoeng Blog

Jumat, 03 April 2009

SURAT CINTA KERTAS MERANG

Pengantar:
Ini adalah kisah cinta dari seorang wanita, seorang ibu yang sangat saya hormati. Kisah ini ditulis sendiri oleh beliau sejak bapak wafat sekian tahun lalu. Meski kini beliau hidup sendirian namun dengan mengembangkan seluruh kenangan indah dan segenap rasa cintanya terhadap bapak, kekasihnya, ibu berhasil melewati hari2 nya dengan tetap bersemangat serta tetap bergairah.


Dan inilah corat coret kisah cinta "jadul" ibu 76 tahun itu.

Judul: “SURAT CINTA KERTAS MERANG”
Oleh: L. Sumaryati Soeharno

Catatan ini adalah pindahan dari buku harianku yang kutulis pada waktu aku harus meninggalkan rumahku yang sangat aku cintai. Aku terpaksa meninggalkan rumahku Kemetiran Kidul 51 (karena suatu sebab), rumah yang telah kutempati sejak bulan Juli 1949.

Dan ini juga merupakan catatan flash back, dimana kami sekeluarga, Bapak/Ibu, mbak Mur, mbak Sur dan adik2 pindah dari Morangan ke rumah yang baru di Kemetiran Kidul 51. Rumah yang sudah tidak asing lagi bagi kami sekeluarga, karena rumah ini adalah rumah eyang kami dari pihak ibu, dimana ibu tinggal di sini sewaktu masih kecil…

Bertahun kami tinggal di sini. Suka dan duka sebagai gadis remaja kulalui. Hari demi hari kulalui, membawa kenangan manis sebagai gadis remaja…

Aku telah mengenal cinta, pada waktu aku pindah dari Surabaya. Aku bersekolah di SMP Marsudi Rini di Bintaran. Dan jejaka yang telah memikat hatiku adalah seorang pemuda yang sangat sederhana dan tekun menjalankan kewajibannya. Aku mengenal cintanya sejak bulan Juli 1948. Usiaku 15 tahun pada waktu itu. Usia yang masih sangat muda bagi ukuran seorang gadis remaja.

Waktu itu aku seperti biasa naik KA dari Medari ke Jogya bersama dengan kedua kakakku dan seorang adikku. Sekolahku ada di belakang gereja Bintaran. Setiap hari aku harus naik KA pp. Dari stasiun Tugu harus berjalan kaki ke Bintaran. Pada waktu itu belum banyak kendaraan. Pulang sekolah masih harus jalan kaki ke stasiun Lempuyangan, dilanjutkan naik KA ke Medari yang berjarak sekitar 15 km. Dari stasiun Medari masih harus jalan kaki ke rumah, yaitu di dusun Morangan. Demikian kami lalui setiap hari.

Entah apa yang kupikirkan pada waktu itu, seorang jejaka datang menghampiriku, sambil memberikan sepucuk surat yang disisipkan ke dalam buku tulisku yang dipinjamnya sehari sebelum itu, Sampai di rumah baru aku baca dan isinya sungguh mengejutkan hatiku.

Walaupun surat itu ditulis di kertas merang yang hijau dan sungguh sangat sederhana, namun surat tersebut merupakan momen yang penting di dalam hidupku, karena semenjak aku menerima surat itu hatiku berubah. Aku merasakan sesuatu yang asing, sesuatu yang tidak aku mengerti. Apakah ini yang dinamakan cinta? Hatiku rasanya rindu selalu ingin bertemu.

Sejak surat itu kuterima, aku merasa menjadi kekasihnya. Setiap hari kami naik KA bersama. Dicarikannya aku tempat duduk di kereta dan tak ada seorangpun yang berani mengganggunya.

Ada peristiwa yang sangat lucu yang terjadi pada waktu aku masih kecil dan belum mengenal dia, tetapi dia tahu siapa aku, karena aku adalah putri kepala sekolah dimana dia belajar.

Waktu itu aku masih duduk di kelas 2 SR dan dia kelas 4. Pada waktu akan pulang, aku harus menyeberang jalan besar. Saat itu tanpa sengaja ada seorang polisi yang menunjang aku, ketika aku baru saja akan menyeberang jalan. Tanpa ampun jatuhlah aku di tengah jalan dan tanpa ampun dan tanpa belas kasihan ditinggalkan aku dalam kesakitan. Aku bangkit dan terus berlari pulang.

Momen tersebut tak luput dari pandangan pemuda tersebut. Sejak saat itu walaupun masih sama2 kecil, namun perhatiannya selalu ditujukan kepadaku, seorang gadis malang tersebut.

Beberapa bulan kemudian aku harus pindah ke Surabaya mengikuti tanteku yang tidak dikaruniai seorang putrapun, sedangkan orang tuaku pada waktu itu dikaruniai 11 orang putra. Lepaslah si gadis kecil dari pandangannya. Dia merasa kehilangan, tak tahu kemana harus mencari.

Dia tunggu2 sampai 2 tahun. Akhirnya aku pulang ke Jogya karena di Sby sudah tidak aman. Bahkan Sby menjadi ajang pertempuran dengan belanda. Tentu saja aku sudah bukan sebagai gadis kecil lagi, tetapi aku sudah menjadi gadis imut2.

Kini aku kembali ke desaku di Morangan, terpaksa aku sekolah di Jogya dengan naik KA. Namun pada waktu itu aku belum mengenalnya sama sekali.

Bulan berganti tahun, seiring dengan perjalanannya waktu, maka aku sudah menjadi gadis remaja yang katanya aku tidak jelek2 amat. Hidupku sebagai gadis tidak berada di dalam kecukupan karena kami bersaudara banyak dan bapakku hanyalah seorang guru sekolah menengah pertama.,

Sebagai gadis sebetulnya aku juga ingin mendapatkan apa yang menjadi keinginanku. Tetapi karena orang tuaku tidak mampu memanjakan kami, maka kami hanya dapat pasrah dengan apa yang kami terima.

Keadaaan pada waktu itu sangat sulit karena dalam waktu transisi antara pemerintah Jepang, Belanda dan Indonesia. Sebagai anak yang telah beranjak dewasa, kami merasakan betapa orang tua kami bersusah payah mencarikan nafkah untuk menghidupi kesebelasannya. Namun kebahagiaan itu tidak selamanya kami rasakan.

Clash kedua tahun 1948 memisahkan kita berdua. Kami terpaksa mengungsi jauh ke pedalaman yaitu di desa Jabung Gawar, dimana nenek kami dari ayah tinggal di sana. Sedangkan pemuda yang menjadi tambatan hatiku pindah ke desa Kalangan.

Tetapi karena keadaan gawat pada waktu itu, terpaksa kami tidak dapat bertemu sekitar 6 bulan. Kami tidak melihatnya. Pada hari raya Paskah tahun berikutnya aku melihatnya, namun karena banyaknya umat yang hadir di sana untuk mengikuti misa Paskah, sehingga kami tidak dapat berkomunikasi. Kami hanya dapat saling pandang dari kejauhan. Namun itu cukup untuk mengobati rinduku. Sebetulnya ingin sekali aku menyapanya, namun keadaan yang memaksa kami harus berpisah kembali.

Sesampai di rumah kubaca kembali surat pertama yang aku terima beberapa bulan yang lalu, isinyapun sudah hafal di luar kepala. Dan tak akan kulupakan seumur hidupku. Kata2 itu sudah terpatri dalam hatiku. Beginilah bunyinya:

Sungguhkah kau dihampiri
Menusuk di hati sanubari
Asmara muda teruna
Rayuan hati nan gundah gulana.

Demikianlah isi surat tersebut. Surat itu inisial dari nama depanku, SMAR. Oh betapa rindunya aku ingin menyapamu. Namun keadaan juga yang memisahkan kita. Terkenang kembali saat kita bahagia dulu. Setiap hari selalu dapat bertemu, sehingga aku dapat bermanja2 kepadanya.

Saat kami berdua berdiri di belakang stasiun, sambil menantikan KA dari barat yang akan meluncur dan berbelok di tikungan dan akhirnya berhenti di stasiun. Kami berdua naik sambil bergandengan tangan. Demikianlah setiap hari kami lalui berdua.

Kukenang juga saat indah waktu kami berdua nonton layar tancap di alun2 Morangan. Rasanya waktu itu dunia hanya milik kita berdua, walaupun sebetulnya alun2 itu penuh sesak dengan manusia. Kau gandeng tanganku lalu kau genggam dalam dekapanmu. Hati rasanya berbunga2. Ada rasa hangt menjalar di sekujur tubuhku. Itukah yang dinamakan cinta?

Sejak saat itu, tidak pernah kita berpisah. Setiap hari kita selalu berjalan bersama. KA Jogya Medari yang menjadi saksi kisah cinta kita. Sering KA tidak berangkat karena kekurangan bahan bakar, maka terpaksa kita jalan kaki ke sekolah.

Perjalanan jauh yang haruus kita tempuh, namun tidak menjadikan kita putuu asa, maupun mematahkan semangat kita untuk belajar. Justru karena itu merupakan dorongan bagi kita untuk menempuh ilmu. Masih teringat dengan jelas pada suatu ketika kita berkencan untuk naik sepeda berboncengan ke sekolah. Pada waktu itu masih jarang orang punya sepeda. Namun dia berhasil membujuk ayahnya untuk meminjamkan sepedanya.

Jadilah kami pagi2 berboncengan sepeda ke sekolah. Bangga rasanya aku membonceng orang yang sangat kukasihi. Namun kebahagiaan itu tak berjalan lama. Baru sepertiga jalan kami bersepeda, Kira2 baru sampai di Beran, kami bertemu dengan kakaknya yang baru pulang piket di Jogyakarta. Tanpa ampun diia minta sepedanya dan terpaksa kami mengalah karena kami merasa lebih muda. Ternyata jalan kaki berdua juga sangat menyenangkan…

(Bersambung…)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar